
Minggu pagi, Mas Indra, mbak dewi dan Rehan udah sampai di rumah ku. Tidak biasanya
"Ada apa mbak?" aku bertanya pada mbak dewi sambil meletakkan minuman
"loh, katanya mau jemput mobil?" Mbak Dewi nanya balik.
"Mobil siapa?" aku benar-benar bingung.
"Papa dika katanya mau beli mobil, kok kamu gak tau sih?" mbak dewi menjelaskan.
"Beneran gak tau mbak, mas Wandi gak pernah cerita, gak pernah tanya-tanya aku juga," aku tampak menyedihkan.
Kuhampiri mas Wandi dan mas Indra yang sedang ngopi di luar.
"Mas mau beli mobil?" tanyaku
"Iya, memangnya kenapa?" tanya mas wandi balik.
"Kok, aku gak dikasih tau mas? setidaknya kan kita bisa berembuk!" aku coba tanya baik-baik
"Kamu tau apa sih? kamu tu ngurus anak dan rumah aja gak becus, mau ikut campur masalah mobil pula." Mas Wandi malah menjawab dengan penuh emosi.
"Ayo mas kita berangkat, orangnya udah nunggu." Mas Wandi mengajak mas Indra. Mas Indra hanya diam menatapku.
__ADS_1
"Mia, kata mas Indra dia juga gak tau, malam tadi wandi nelpon minta antar ke rumah yang jual mobil, dia udah deal harga dan mobilnya, mas Indra sekarang hanya ngantar aja." Mbak dewi menjelaskan tanpa ku minta.
Nampak raut bingung mbak dewi, seorang istri tidak tau apa yang akan dibeli suaminya. Mas Indra selalu menanyakan segala sesuatu nya pada mbak dewi, tidak ada rahasia diantara mereka. Rumah tangga mbak Dewi sering buat ku iri, mereka tak pernah terlihat bertengkar malah sering bercanda mesra, mereka pun saling memanggil dengan kasih sayang. Mas Indra lebih mengalah jika mbak dewi ngambek.
Sangat berbeda dengan kehidupan rumah tangga kami, hampir tiap hari kami ribut, mas Wandi sama sekali tak mau mengalah, padahal selisih umur kami hampir 10 tahun, dia pun sudah dua kali menikah, seharusnya lebih berpengalaman dari pernikahan sebelumnya.
"Ayoo mbak diminum, mau makan gak? tapi aku belum masak, hahahha" aku coba alihkan rasa sesak ini.
"Belum masak udah nawarin hahaha." Mbak dewi membalas candaan ku.
"Enak ya Mia, papa dika udah punya jabatan, kalian juga kelihatan akur sekarang, selamat yaa, semoga demikian seterusnya." Mbak dewi buka obrolan.
"Sejujurnya Mia lebih suka zaman ngontrak dulu mbak, kami lebih seperti penganten baru, susana di sana juga enak, tetangga nya baik, kalo disini Mbak lihat sendiri, semua pintu tertutup, tak ada tegur sapa." ku jawab apa adanya.
"Tapi kan uang jajan kamu sekarang naik?" tanya mbak Dewi.
"Masak sih????" mbak dewi melihatku tak percaya.
"Bener mbak, sampai sekarang aku malah gak tau gaji mas Wandi berapa," jawabku
"Hhmmmm" hanya itu jawaban mbak dewi.
"Mbak yang enak, mas Indra ngasih gaji semuanya ke mbak, trus percaya mbak ngelolanya," aku berucap iri.
__ADS_1
"Iya sih, tapi aku gak mau, aku mau dikasihnya bulanan aja, repot ngaturnya," jawaban mbak dewi tambah membuatku iri.
Kami ngobrol banyak sambil tertawa, sesekali mbak dewi mengajak main kiyah juga.
*******
Mas Wandi datang membawa mobil barunya, walaupun bekas mobil itu terlihat sangat terawat, aku turut senang, melihat wajah mas Wandi yang bangga mampu membeli mobil hasil kerja kerasnya. Kiyah benar-benar membawa rezeki besar untuk mas Wandi, dia menggendong Kiyah memasuki mobil itu dan berkata Terimakasih sambil terus menciumnya.
"Bang rehan ayoo naik, ayah bunda lihat mobil dika bagus kan?" dika memamerkannya pada Mbak dewi dan mas indra.
Mereka hanya tersenyum dan mas Indra bilang
"Nanti dika ajak papa jalan-jalan pakai mobil yaa, ajak bang rehan juga."
"Rehan gak mau, maunya sama ayah," rehan teriak.
Kami semua tertawa, mas Wandi masih asyik dengan mobilnya, Mas Indra pamit pulang, ku peluk mbak dewi bilang makasih
"Sering-sering main kesini mbak," tapi gak mungkin juga mbak dewi bekerja.
*****************
Salam dari penulis pemula, yang memberanikan menulis novel disini.
__ADS_1
Mohon maaf jika masih banyak kesalahan penulisan dan alur cerita, silahkan komentari, author sangat berterima kasih ππΎππΎππΎ
Kalau suka ceritanya, tolong like dan berikan tanda cintanya, vote nya juga sangat di tunggu terimakasih.π€π€π€©π€©**