
Happy reading semoga sukaโค๏ธ๐
Bantu like dan komentarnya yaa, Makasih ๐ค
***
Laki-laki itu kemudian memeluk Dika dan Kiyah bergantian.
"Papa capek ya?" tanya Dika. Tangan kecilnya memijat tangan Tian yang sekarang menjadi Papanya.
Kiyah tak mau kalah, ia pun mencoba memijat tangan Tian, tangan mungil itu lebih tepat dibilang mengelus daripada memijat.
"Papa mau mandi dulu ya, habis itu kita jalan-jalan. Yang setuju angkat tangan!"
Dika dan Kiyah dengan cepat mengangkat tangannya.
"Aku juga setuju!"
Teriak Wulan tak mau kalah, dia juga mengangkat tangannya, "Nanti aku duduk di depan ya, di samping pak sopir."
"Boleh, karena aku meminta Wira yang menjadi sopirnya."
Ucapan Tian membuat Wulan cemberut. Mia hanya tersenyum melihat ulah mereka.
"Sudah lama aku tak pernah lagi duduk di samping Tian. Bolehkan Mia, kali ini aku duduknya di samping suamimu ini?" sahut Wulan seolah-seolah ingin merangkul Tian.
Tian langsung berkelit, menjauh dari tangkapan Wulan, "Eiitt....dasar. Jangan lagi membuat istriku cemburu. Bisa hilang jatahku malam ini." ucapan Tian sambil bersembunyi di belakang punggung Mia.
Mereka kemudian tertawa. Dika dan Kiyah ikut tertawa, melihat tingkah Wulan dan Papanya yang selalu bertengkar.
Kemudian, Tian berjalan ke arah belakang menuju kamar mandi kafe. "Mia, ayoo!" Ajak Tian sambil mengedipkan matanya ke arah Mia.
"Dasar mesum, kalian tidak lihat ada aku disini," teriak Wulan sambil memegangi tangan Mia. "Kalau kamu pergi, aku ikut!"
"Aku cuma mau siapkan pakaian Tian, bentar ya!"
Mia melepaskan tangan Wulan. Wulan kembali cemberut, "Awas, kalo lama!"
"Anak-anak tolong jagain tante Wulan ya! Ntar kabur," teriak Tian tertawa , dia langsung berlari ke arah kamar mandi.
Mia hanya tersenyum melihat keakraban yang dirasakan keluarganya saat ini. Hidupnya yang terasa lebih lengkap, seakan dia tak ingin apa-apa lagi di dunia ini.
Semua telah ia simpan sebagai kenangan, saat akhirnya dia bisa kembali bisa bersatu dengan Dika dan Tian sebagai suaminya saat ini.
****
__ADS_1
Flashback
Setelah kepergian Tian, Mia masuk ke kamarnya dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan. Salahkah perasaannya selama ini? Dia pernah terluka dan tersakiti, jika ada yang menawarkan bahagia tak boleh kah dia mendapatkannya? Dosa kah dia menikmati setiap debaran yang hadir, saat bisa berdekatan?
Dia hanya wanita biasa yang juga ingin merasakan indahnya cinta. Lima tahun menikah, dia hanya tau pedihnya rumah tangga. Mungkin bukan Tian yang Tuhan ciptakan untuk bahagianya.
Mia ikhlaskan Tian untuk Wulan saat dia juga membutuhkannya. Mia ikhlas...sungguh ikhlas. Sakit kehilangan yang dulu ia rasakan takkan dibiarkannya dirasakan oleh wanita lain. Ia telah pernah terluka apa salahnya jika dia merasakan sekali lagi.
Dia berjanji akan habiskan air matanya malam ini, esok takkan ada lagi air mata yang jatuh untuk sebuah kenyataan. Mia ingin melangkah lurus ke depan. Tanpa ada lagi sandungan.
***
Pagi yang cerah, matahari tak malu-malu hadir di antara celah jendela kamar, yang belum terbuka. Mia merentangkan tangannya lebar-lebar, selebar harapan yang akan ia terbangkan. Kiyah tidur dengan Ibu, karena tadi malam Mia sudah pulang cukup larut.
"Pagi Bu, Maaf Mia kesiangan!" sapa Mia pada Ibu yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja. "Pagi juga kesayangan Mama," ucapnya pada Kiyah yang sedang menonton acara kesayangannya.
"Tak apa Mia, jarang-jarang loh kamu bangun siang, gak kerja hari ini?"
"Mia udah berhenti Bu. Mia ingin buka usaha aja!"
"Yakin? Buka usaha modalnya besar loh!" tanya Ayah.
Ayah sudah bersiap berangkat, ada acara wisuda pagi ini. Ayah pasti tidak ingin ketinggalan mengabadikan setiap langkah wisudawan dan menukarnya dengan sedikit rupiah.
"Ayah selalu dukung apapun yang akan Mia kerjakan. Asal tidak melanggar hukum dunia dan hukumnya Tuhan." Ayah mengucek rambut Mia, baginya Mia masih gadis kecilnya dulu. "Ayah berangkat dulu, doakan rezekinya lancar hari ini ya!"
"Insya Allah yah!" Mia mencium punggung tangan ayahnya.
Ibu mengantarkan ayah sampai pintu depan, sedangkan Mia menemani Kiyah menonton televisi. Dia memikirkan dimana tempat yang pas untuk usaha barunya. Yang terjangkau oleh kantongnya.
Cling...
Sebuah pesan masuk ke hapenya. Laporan dari e-banking masuknya sejumlah dana ke rekeningnya. Kemudian menyusul pesan dari Tian.
[Itu gaji terakhirmu ditambah bonus penjualan, yang pernah saya janjikan]
[Tapi Tian, ini terlalu banyak!]
[Kamu baru saja menolak hatiku, jangan lagi menolak pemberianku]
Mia tak berani lagi membalasnya. Lebih baik dia mensyukuri, uang ini bisa dipakai untuk tambahan modal usahanya nanti.
Hari ini ia tidak ingin kemana-mana. Sambil bermain dengan Kiyah, diapun merancang kafe yang sesuai dengan keinginannya. Dia mempelajari semuanya lewat internet dan media sosial. Buku ditangannya sudah penuh dengan coretan. Mia tersenyum seolah kemenangan akan ada di genggamannya.
***
__ADS_1
Kenangan Cafรฉ
Akhirnya kafe ini selesai. Baru ada beberapa kursi, belum banyak dekorasi, hanya beberapa hiasan yang ia pinjam dari rumah Ayah. Serta kembang ibu yang ia pindahkan kesini.
Mia tersenyum mendapatkan hasil kerasnya selama ini sudah berubah menjadi sebuah usaha baru. Walaupun uang sewa dari kafe ini ia dapatkan dari penjualan perhiasan Ibu.
"Pakailah Mia, kamu lebih butuh!"
"Jika modal Mia kembali. Mia akan belikan lagi ya!"
"Tak usah, anggap saja ini pemberian dari seorang Ibu untuk anaknya!"
Mia tak bisa menahan harunya. Ibu tirinya sangat mencintainya, walau dulu dia pernah sangat membencinya.
Kenangan kafe, nama yang ia berikan untuk kafe ini. Karena banyaknya kenangan yang ingin ia abadikan disini. Di dalam hatinya. Tak ada lagi yang perlu ditangisi semuanya dijadikan renungan untuk pelajaran di masa depan. Biarlah semua jadi kenangan, pahit manisnya tak perlu dibuang.
***
Satu dua orang mulai datang mengunjungi kafe Kenangan. Mia langsung melayani, dialah pelayannya sekaligus pemilik kafe ini. Lelahnya terbayarkan ketika ramainya kafe mulai menambah saldo keuangannya.
Setiap sore akan ada seorang pelanggan setia yang selalu berkunjung. Hanya memesan secangkir kopi setelahnya dia seolah tak peduli dengan kesibukan si pemilik kafe. Mia bukannya tak tau, jika ada sepasang mata yang selalu melihat langkahnya. Tapi, ia tak merasa ini suatu gangguan.
"Ini kopi tambahan untuk pelanggan setia!"
"Dapatkah aku minta bonus yang lain?"
"Kira-kira bonus apakah yang tuan minta?"
"Maukah si pemilik kafe ini berkenan sekedar mengajakku bicara."
Jangan tanya debaran, dia sudah pernah coba hilangkan.
Bersambung....
***
Sekitar satu atau dua chapter lagi, novel ini akan tamat, terimakasih banyak untuk yang masih setia membaca.
Maafkan jika masih banyak kesalahan di sana-sini.
Tetap ditunggu yaa, pliss!!๐๐
Setelah ini author akan melanjutkan novel kedua yang sempat dianak tiri kan. Sambil menunggu up, silahkan intip-intip ya, jangan lupa tinggalkan jejak juga, terimakasih banyak๐๐ผ๐๐ผ๐๐
__ADS_1