
Selamat Membaca semoga sukaβ€οΈπ
Dengan uang 100 ribu yang diberikan Mas Wandi, ku belikan Ayam dan bahan-bahan untuk bikin makanan sebagai cemilan yang semoga bisa cukup 2 sampai 3 hari. Mereka akan datang bersama anak Kak Yuni 2 orang, mereka sudah beberapa kali datang ke kota ini, tapi baru satu kali ini sejak aku pindah ke rumah baru, yang dibeli Mas Wandi, biasanya mereka liburan di rumah Mas Indra.
Di hari sabtu ini, Mas Wandi dan Dika libur, jadi aku bisa sedikit lebih cepat masak dan bereskan rumah, ada Mas Wandi yang membantu memegangi Kiyah, beruntung Kiyah tidak rewel hari ini. Dika senang sekali saat kuberi tahu, kakak-kakak nya akan datang, dia ikut sibuk membantuku membereskan mainannya. Makanan kesukaan mereka sudah ku siapkan ayam goreng tepung dan sambal favorit mereka.
Jam 13.20 mereka sampai. Diantar mobil travel yang mengantar mereka langsung sampai depan rumah, terlihat wajah lelah mereka.
Anak-anak yang pernah tidak di akui Mas Wandi di depanku terlihat sudah remaja, Rian sudah kuliah semester 4, Rani sudah SMA kelas XI, anak-anak Kak Yuni, Diah seumuran dengan Rani dan Indah masih kelas IX. Mereka mencium tangan ku dan Mas Wandi hormat, aku peluk Rani, sungguh aku kangen, rasanya sudah lama kami tidak bertemu sejak Mas Wandi punya jabatan di kantornya kami jarang pulang ke rumah Mama.
"Ayoo, udah lapar kan? Mama udah masak enak buat kalian," ku gandeng Rani dan Indah mengajak mereka masuk.
"Iya Ma, tadi sopirnya cuma mampir sebentar, kami belum sempat makan di jalan." Jawab Rian sambil membawa tasnya masuk.
"Mama masak apa?" tanya Rani.
"Coba tebak?" tanyaku balik.
"Pasti ayam goreng tepung" Mereka serempak menjawab, kami semua tertawa.
Mas Wandi hanya tersenyum kecil.
Makanan yang ku rencanakan bisa cukup sampai besok, ternyata langsung habis siang ini. Aku hanya tersenyum pasrah melihat hanya tulang belulang ayam yang tergeletak tak berdaya di piring. Aku lupa membagi makanan tadi untuk malam.
Malamnya....
"Pa, lapar nih!" rengek Rani.
__ADS_1
"Makan lah ke belakang!" jawab mas Wandi.
"Habis Om," jawab Diah.
Mas Wandi sudah melotot ke arahku, aku ketakutan tak bisa membagi makanan tadi
"Mama masak in mie ya!" beruntung tadi ada kelebihan uang ku belikan mie goreng 5 bungkus.
Ku masak mie goreng dibantu Rani dan Diah sambil bercerita menanyakan kabar nenek dan kakek mereka. Aku merasa senang mereka disini, ada kawan yang bisa ku ajak bercerita, menghilangkan sedikit ketakutan dan Mas Wandi akan sedikit ramah pada ku di depan anak-anaknya.
Mie itu langsung habis dalam sekejap, meninggalkan piring-piring kotor yang langsung ku cuci, mereka masuk kamar dan tertidur.
"Mas minta uang, besok pagi-pagi mia akan belanja," pintaku pada Mas Wandi yang masih memainkan hapenya.
"Yang kemaren ku kasih habis?" tanya Mas Wandi.
"Ini, Mas Wandi menyodorkan uang 50rb ke arahku, "kamu makan telor aja, biar anak-anak yang makan ayam, jadi lebih hemat," Mas Wandi memang tak punya perasaan, padahal anak-anaknya lah yang lebih banyak makan ayam itu, mereka 1 orang 2 potong, karena sudah terbiasa di rumah neneknya seperti itu.
Ku ambil uang di tangan Mas Wandi, aku tak mau berdebat, takut mereka dengar. Mas Wandi semakin pelit pada ku, padahal kekayaannya bertambah sejak aku melahirkan Kiyah dan di dalam harta pasti ada doa istri di situ. Ku baringkan tubuh lelahku di atas kasur yang mulai tipis dan aku tertidur, dengan Kiyah di sampingku.
.................
Setelah sholat subuh, Ku lihat semua masih tertidur, sudah ku coba membangunkannya, tapi mereka hanya menggeliat sedikit dan kembali menarik selimut, mungkin mereka masih kelelahan di jalan kemaren.
Aku berjalan ke warung, dengan menggendong kiyah yang ternyata bangun saat aku membangunkan kakak-kakak nya, Mas Wandi masih tertidur, aku takut dia terbangun dan marah, jika Kiyah menangis ku tinggal.
"Mbak Mia, tumben pagi-pagi udah belanja," tanya buk siti yang punya warung.
__ADS_1
Aku memang biasanya belanja setelah Mas Wandi dan Dika berangkat, paginya kami hanya sarapan nasi goreng.
"Ada anak-anak Mas Wandi di rumah buk, gak enak kalo aku belum masak," jawabku sambil tersenyum.
"Anak papa Dika?, Buk Siti heran "maksudnya siapa?" tanya Buk Siti.
Aku memang tidak pernah bercerita pada tetangga, karna mereka memang tidak pernah bertanya, aku juga jarang berkumpul jadi wajar menurutku mereka tidak tau.
Wajah Mas wandi juga terlihat muda tidak tampak seperti bapak yang telah mempunyai anak remaja.
"Mas Wandi dulu seorang duda buk, anaknya udah 2 orang, udah remaja pula," sambil tertawa aku menjelaskan.
"Ooo, hebat kamu Mia," ucap buk siti.
"Apanya yang hebat buk?" aku bertanya lucu atas pernyataan Buk Siti.
...........................
"Terkadang kita butuh orang lain, sekedar menumpahkan sesak di dada"
************************
**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.
Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali ππΎππΎππΎ.
Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπ€π€***.
__ADS_1