
Selamat Membaca semoga suka πβ€οΈ
Setelah pembicaraan siang tadi kami tak lagi banyak bicara, Anak-anak mengajak papanya makan malam di luar, sebuah rumah makan cepat saji yang berlogo kakek tua. Teringat ayam yang ku goreng tadi pagi dengan susah payah, akan kalah dengan makanan disini.
"Kita makan di rumah aja yuk, kan tadi Mama udah masak ayam juga," ajak ku.
"Gak mau ah, itu pasti udah dingin," rengek Rani pada papa nya.
"Iya sesekali juga kok," kata Mas Wandi.
"Oh gak apalah, toh aku jarang di ajak Mas Wandi makan di luar" aku berkata dalam hati.
Kami makan di sebuah mall besar di kota ini, tidak jauh dari rumah kami, tapi aku jarang sekali di ajak Mas Wandi main kesini.
Tiga uang lembaran merah berpindah tangan dari dompet Mas Wandi ke dompet mbak di restoran ayam goreng ini.
Aku tidak ikut pesan, biarlah nanti sisa makan Kiyah dan Dika yang ku habiskan.
Kami lanjut jalan-jalan di mall ini, Rian dan Rani memilih barang-barang yang disukainya, tidak berapa lama keranjang bawaan kami sudah penuh, Mas Wandi dan Rani yang mengantri untuk membayar aku hanya menunggu dengan yang lainnya, ku lihat beberapa lembaran merah telah di tukar Mas Wandi dengan belanjaan tadi.
Aku hanya bisa menelan ludah, ada kecemburuan pada Rani dan Rian, begitu mudah Mas Wandi mengeluarkan uang untuk mereka. Seandainya uang tadi diberikan padaku, hape yang sudah lama menjadi impianku akan ku miliki. Seumur pernikahan kami, Mas Wandi tidak pernah membelanjakan uangnya sebanyak itu.
"Tidak adil," aku pergi menuju parkiran sambil menggendong kiy6ah dan memegang Dika.
*****************
__ADS_1
"Mas, uang belanja mana? aku mau belanja," pintaku pada Mas Wandi pagi ini.
"Uang ku habis semalam, kamu goreng lagi ayam yang kemaren untuk makan mereka, kamu tetap makan telur, biar cukup," jawab Mas Wandi acuh.
Aku tinggalkan Mas Wandi tanpa menjawabnya.
Kopi dan nasi goreng sudah ku siapkan di meja, nasi goreng cukup untuk sarapan pagi ini, sisa nasi semalam masih banyak.
"Papa pegi dulu ya," Mas Wandi pamit pada anak-anaknya.
"Iya Pa, hati-hati ya!" mereka menjawab serentak.
Ku lanjutkan menggoreng ayam yang tidak jadi dimakan. Ini bisa jadi lauk makan siang anak-anak, aku cukup telur dadar.
***************
"Iya Ma, gak suka," Diah pun meninggalkan piring yang masih penuh.
Hanya Rani yang berusaha menggigit sedikit demi sedikit ayam di piringnya.
Rian mengurungkan diri untuk makan,
"Ma, kami pesan makanan online aja ya?" tanya mereka.
"Mama gak ngerti caranya," jawabku.
__ADS_1
"Kami bisa, mama tenang aja, siapkan aja duitnya," Rian mulai memencet hapenya, ku lihat makanan itu dengan mudah terpesan, seperti yang sering ku lihat di TV.
"Tapi, duit darimana? Mas Wandi kan tadi tidak meninggalkan uangnya."
"Berapa Rian?" tanyaku cemas.
"Murah kok ma, cuma 76 rb," sahut Rian
Gllek...ku telan air ludah ku, bagi mereka uang segitu tidak banyak, tapi bagiku itu jatah dari Mas Wandi untuk 3 hari.
Ku congkel lagi celengan Dika, "Maafkan Mama dika, Mama gak mau dibilang pelit."
*********************
Hati memang tidak sekeras dinding, tapi
akan menjadi sekeras batu jika terus tersakiti*.
..................................
**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.
Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali ππΎππΎππΎ.
Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπ€π€***.
__ADS_1