Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.18


__ADS_3

Happy reading semoga suka ❤️💜


Aku menarik nafas panjang, mungkin aku harus mempunyai teman untuk bercerita. Sudah lama masalah ini ku pendam sendiri. Tak punya kawan bercerita membuatku hanyut sendiri dalam derita. Mungkin dengan bercerita bisa mengurangi beban yang menyesakkan dada. Walaupun takkan ada saran yang bisa diberikan, biarlah beban hilang lewat perkataan.


“Dika ada disana.” Aku memulai ceritaku. “Di rumah mertuaku, tepatnya mantan mertua. Sudah dua minggu ini mereka menahannya, berharap aku bisa kembali pada anaknya.”


Aku mengusap wajah yang terasa berkeringat di mobil ber AC ini. “Aku tidak tahu harus bagaimana? Kembali pada Mas Wandi hanya akan membuat luka baru pada luka lama yang belum sembuh. Tapi, hanya itu jalan satu-satunya untuk bisa bersama Dika lagi. Aku mencoba kuat dihadapan mereka. Mengatakan diriku baik-baik saja tanpa Dika, padahal separuh nyawa ku telah ku tinggalkan bersama Dika. Apa hebatnya seorang Ibu tanpa anaknya? Aku tidak sekuat itu.” Ku tutup wajah dengan kedua tangan, menahan tangis yang mendesak ingin keluar.


Aku tak lagi melanjutkan obrolan. Keburukan Mas Wandi biarlah menjadi kenangan buruk yang tersimpan rapi di hati. Aku sudah biasa tidak membaginya dengan siapapun. Sejak Mama mengatakan, seorang istri harus bisa menutup aib suami. Aku tak berani curhat pada siapapun lagi. Termasuk kepada Ayah, lelaki yang bersiap melindungi, melihat cahaya yang mulai redup dari wajahku. Ayah hanya bisa mengira-ngira bahwa aku terluka. Anak yang dibesarkan nya dengan separuh nyawa, ternyata telah lama memendam duka.


Pernikahan yang di impikan adalah dua penyatuan jiwa akan memberi warna pada kehidupan baru, tetap hanya jadi mimpi semata. Aku tidak meminta suami yang romantis dan suka memuji, hanya menginginkan lelaki yang bisa dijadikan tempat untuk bersandar hati. Tapi, aku terlambat menyadari Mas Wandi memilki sifat tak elok, egois dan minim empati, bahkan kadang kasar perkataan melukai hati.


Lima tahun menikah hanya luka bisa dicatatkan dalam ingatan. Keluarga Mas Wandi pun tidak bisa diajak bertukar cerita, melepaskan sedikit rasa sakit sedih dan pahit yang ku rasakan. Hanya “Sabar” yang mereka kira solusi pernikahan yang tak berarti ini.


Tian kembali mengambil tangan yang ku gunakan untuk menutup wajah dari tadi. Aku membiarkannya kali ini. Genggaman tangan Tian mengalirkan kekuatan baru yang sudah lama tak kurasakan. Dia menepikan mobilnya ke sebelah kiri jalanan.


“Menangis Lah, Mia!” Dibawanya kepalaku pada dadanya yang bidang.


Aku terisak, “Aku rindu Dika, Tian. Salahkah seorang Ibu yang merindu anaknya.”


Tian menggelengkan kepalanya, “Memang sepantasnya seorang Ibu rindu anaknya.”

__ADS_1


“Tapi, aku Ibu yang bodoh...Aku tak bisa mempertahankan anakku. Aku tak punya kekuatan untuk mengambilnya...Hiks...hiks...Apa yang harus ku lakukan?!”


Tian hanya mengusap kepalaku, lama dia memelukku, membiarkan diriku meracau tak jelas melepas semua sesak yang telah lama ku pendam sendiri. Aku tersadar, setelah kurasakan dadaku sedikit lapang lepas dari himpitan beban. Ternyata benar, terkadang kita butuh teman untuk melepaskan kepenatan hati yang menanggung derita diri. Refleks ku lepaskan pelukan Tian, “Maaf!” sahutku menghapus air mata yang dari tadi mengalir.


“Bagaimana sekarang. Sudah enakan kan?” tanya Tian.


Aku menganggukkan kepala, tersenyum padanya. Sedikit beban ku hilang dan telah ku tumpahkan. Tian menjadi tumpuan curhatan. Walau tak semua ku ceritakan.


“Terimakasih, sudah mau menjadi pendengar. Beban Ku sedikit berkurang,” ucap ku pelan.


“Kita lanjut pulang ya!”


Ku pejamkan mata sejenak, melihat langit yang mulai terang. Dan kemudian beralih pada Tian, kuberikan senyum terimakasih yang tulus untuk seorang teman.


Kami tak lagi bicara, Tian menghidupkan musik menemani perjalan menuju ke rumahku.


Tiada dirimu ada di samping aku


Hanya rembulan menatap diam aku


Tiada hangat mu menemani dinginku

__ADS_1


Ku merentas sedih hati, Inginkan engkau disini


Hatiku rindu sekali sampai terbawa mimpi


Ku rindu kepadamu ingin dipeluk kamu


Ku tak bisa tanpamu sendu


Ku rindu kepadamu ingin dibelai kamu


Aku mati tanpamu sendu


Hanya rembulan menatap diam aku


Tiada hangat mu menemani dinginku


D’Bagindas - Sendu


Bersambung


•••••••••

__ADS_1


Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.


Bantu like, koment ya biar author semangat nulisnya 🤗


__ADS_2