Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.21


__ADS_3

Happy reading semoga suka ❤️💜


***


Wandi


Uang penjualan mobil masih belum mencukupi untuk menutupi kekurangan uang kantor yang ku pakai. Jalan satu-satunya aku harus meminta bantuan Mama atau Mas Indra.


Ku beranikan menelpon Mama. Aku sudah menyiapkan alasan yang tepat, jika Mama mengajukan pertanyaan tentang uang itu.


Tuut...tuut...


"Ya....Hallo Wandi," jawab Mama dari seberang sana.


"Iya Ma. Mama sehat kan?" basa-basi ku sebelum melancarkan aksi memelas ku.


"Alhamdulillah sehat, ada apa nih? Tumben kamu nelpon."


Firasat seorang Ibu memang tidak diragukan lagi.


"Ini Ma. Wandi baru saja menyelesaikan laporan keuangan kantor, ternyata ada selisih sekitar 30 juta," sahutku dengan nada sedih.


"Loh, kenapa bisa gitu?" Tanya Mama kaget.


"Gak tau Ma. Sepertinya, Mia ikut melarikan uang itu saat kabur dari rumah."


"Tega sekali wanita itu. Mama sudah menduganya. Biar Mama damprat dia, untuk kembalikan uang itu."


"Jangan Ma. Dia pasti tidak mengakuinya. Wandi pinjam uang Mama dulu ya! Hanya sebentar, jika pemeriksaan selesai akan Wandi kembalikan."


Hanya itu satu-satunya alasan yang terpikir olehku. Dengan menuduh Mia melarikan uang, Mama tidak akan bisa menanyai Mia. Mereka jarang bertemu sekarang.


"Baiklah, tapi Mama kasih tau Papa dulu ya. Karena Papa pasti bingung jika uang yang di tabungan berkurang."


"Jangan kasih tau Papa, Ma. Wandi hanya pinjam sebentar. Paling lama dua Minggu."


Aku tau sifat Papa, walau dia jarang bicara, tapi kami semua tau kebenciannya pada Mia sudah lama ada. Jika masalah ini sampai ke telinga Papa dia tidak akan segan-segan mendatangi keluarga Mia, untuk melabraknya. Rahasiaku akan terbongkar jika itu terjadi.


"Kalau begitu mungkin Mama hanya bisa meminjam kan separuhnya ya! Separuhnya lagi, mungkin kamu bisa gadaikan mobilmu."

__ADS_1


"Gak apa Ma. Iya nanti mungkin Wandi akan gadaikan mobil. Sejak anak-anak gak disini, mobil jarang terpakai kok," ucapku dengan cepat.


Mama tidak perlu tau, mobil sudah ku jual sebelumnya. Kekurangan uang itu sangat banyak, membuat kepalaku sakit memikirkannya.


"Besok Mama transfer ya!"


"Jangan besok Ma, sore ini aja ya!"


"Baiklah. Nanti Mama minta antar Rian ke ATM."


"Makasih Ma."


Cepat ku matikan telpon sebelum Mama berubah pikiran.


***


Setelah melihat transferan dari Mama yang hanya mengirim 15 juta berarti aku harus mencari kekurangan separuh lagi. Ku belokkan motor menuju rumah Mas Indra. Aku jarang berkunjung ke rumahnya, menghindari kata-kata dari Mas Indra yang selalu menasehati.


Aku juga membeli rumah yang jauh dari Mas Indra. Biar Mas Indra dan Mbak Dewi tidak selalu melihat semua langkahku.


Ku hentikan motor tepat di depan pagar Mas Indra. Rumah yang bercat putih itu, terlihat biasa saja dibanding rumah sekitarnya. Mereka hidup sederhana, karena Gaji mereka tiap bulannya, selalu di sisihkan untuk mengirim ke Mama, membantu biaya sekolah Rian dan Rani ditambah sekarang ada Dika disana. Aku sebagai Papa dari mereka tidak pernah mempermasalahkannya, toh mereka juga keponakan Mas Indra.


Aku tidak bisa mengirimkan uang tiap bulannya, hanya sesekali jika mereka meminta. Atau jika kebetulan aku punya uang di tangan.


Ku ketuk pintu, pintu itu masih pintu yang sama dengan 12 tahun yang lalu. Bawaan dari perumahan, sangat tidak berkelas.


Di ketukan kedua, pintu itu terbuka. Terlihat Mas Indra yang masih memakai seragam kantornya.


"Hei, tumben kesini, ayo masuk!" Ajak Mas Indra.


Ku lihat Mbak Dewi langsung ke belakang sepertinya menyiapkan makan atau minum. Mereka biasa seperti itu setiap kali aku datang. Aku tidak akan boleh pulang sebelum makan di rumah mereka.


Tanpa banyak basa-basi ku ceritakan masalahku, persis sama yang ku ceritakan pada Mama. Berharap belas kasihan Mas Indra.


"Aku tidak menyangka Mia seperti itu? Tampangnya baik dak taunya maling," ucap Mas Indra. "Aku sudah pernah bilang, sebelum menikah, coba kenali...."


"Jadi Mas bisa pinjamkan aku uang gak?"


Ku potong ucapan Mas Indra, akan sangat panjang jika dia mulai menasehati. Jika tidak terpaksa sangat malas aku kesini.

__ADS_1


"Kamu kan tau, semua uang gaji ku serahkan pada Mbak mu (Mbak Dewi) untuk di kelola. Kalau mau minjam itu sama Mbak mu."


Ini hal yang juga tidak ku suka dari Mas Indra. Tidak sepantasnya seorang suami tunduk pada istrinya. Sehingga Mas Indra tidak bisa kemana-mana jika tidak ada Mbak Dewi disampingnya. Terlihat lemah menurutku.


Ku hela napas panjang. Ada perasaan gengsi meminjam uang dari Mbak Dewi. Tapi, sudah terlanjur kesini. Waktu pemeriksaan juga tinggal beberapa hari. Tidak ada jalan lain. Ku utarakan kembali semuanya pada Mbak Dewi yang sebelumnya telah diajak Mas Indra untuk bergabung bersama kami.


Ku pasang muka sesedih mungkin, berharap kasihan darinya.


"Kami ada uang yang rencananya mau dipakai untuk renovasi sedikit. Tapi, jika kamu lebih membutuhkan biarlah renovasinya ditunda dulu," sahut Mbak Dewi.


"Iya Mbak, aku minjam nya cuma dua minggu kok."


Aku sangat berterima kasih atas pengertian dari Mbak Dewi. Setelah makan malam dan bermain sebentar dengan Rehan, aku izin pulang.


***


Mia


Sejak saat itu hubungan ku dengan Wulan sangat baik, dia selalu meminta nasehat jika ada masalah dengan Tian. Wulan menganggap ku sebagai kakaknya, berapa kali aku terpaksa ikut jika mereka jalan. Bertiga aku jadi penengah mereka.


Tian terlihat senang jika aku ikut bisa ikut. Beberapa kali dia mencuri pandang atau tanpa sengaja memegang tanganku. Wulan tak pernah lagi curiga, jika Tian lebih memilih mengantarkan ku pulang setelah mengantarnya.


"Aku tidak bisa terus-terusan begini Tian."


Ku lepaskan tangan Tian yang selalu memegang tanganku. Wulan baru saja kami antar pulang. Dia terlihat senang, saat menyuruhku pindah ke depan, duduk di samping Tian yang melajukan kemudinya.


"Aku harus bagaimana Mia? Sudah kukatakan aku tidak ada rasa dengan Wulan. Aku mencintaimu...sejak dulu."


Tian sudah berulang kali mengatakan ini. Membuat dadaku penuh rasa sesak.


"Aku tidak enak dengan Wulan. Dia anggap aku kakaknya. Bagaimana seorang kakak bisa berlaku seperti ini pada adiknya."


Aku sudah seperti seorang pendosa yang tidak takut lagi akan Tuhannya. Ku nikmati permainan yang diberikannya Tian, mengasyikkan penuh debaran.


Tian menepikan mobilnya, menghentikan di jalanan yang yang telah penuh digunakan untuk para pedagang dadakan.


"Jangan pergi lagi Mia!"


Dikecupnya bibir ku yang belum sempat menjawab ucapannya. Bagaimana cara melepaskan? Jika semua yang kurasakan adalah balasan dari setiap doa yang ku panjatkan.

__ADS_1


***


Bantu like dan komennya yaa🤗😘


__ADS_2