
Happy reading semoga suka❤️💜
***
Tian menepikan mobilnya, menghentikan di jalanan yang yang telah penuh digunakan untuk para pedagang dadakan.
"Jangan pergi lagi Mia!"
Dikecupnya bibir ku yang belum sempat menjawab ucapannya. Bagaimana cara melepaskan? Jika semua yang kurasakan adalah balasan dari setiap doa yang ku panjatkan.
Ku pejamkan mata, menikmati semua rasa.
"Heii.... Jangan parkir disini Pak! Nutupin orang jualan."
Salah seorang pedagang, memukul pelan kaca mobil Tian. Kami tersentak ketika sadar apa yang barusan dilakukan.
"Ayo jalan!"
Ku sembunyikan muka ku menahan malu. Tian kembali mengambil tanganku.
"Aku mencintaimu Mia. Aku tak butuh jawaban sekarang, tapi tolong pikirkan."
"Bagaimana dengan Wulan?"
"Aku akan berterus terang. Malam minggu nanti akan ada pertemuan keluarga. Disitu aku akan jelaskan."
"Tapi, nanti jangan bawa-bawa namaku ya Tian. Kami baru saja berteman."
"Nggak kok, tenang aja...."
Ku nikmati perjalanan ini. Memandang jalanan yang penuh dengan kendaraan yang melaju seperti takut ditinggalkan. Seperti aku...yang menikmati kebersamaan ini. Aku ingin memiliki Tian tapi takut kehilangan Wulan.
Semakin hari kami semakin intim. Beberapa kali pergi tak lagi bersama Wulan. Tian memintaku mengajak Kiyah bersama kami, katanya sebagai latihan jika nanti, aku menerima lamarannya.
Seperti Malam ini, kami berjalan menikmati pemandangan alun-alun kota ini. Beberapa kali Tian mengajak ku berhenti untuk mencicipi jajanan yang tampak menarik baginya.
Kiyah tak pernah lepas dari gendongannya. Kiyah pun sangat menikmati. Setelah lama dia tak lagi bertemu Mas Wandi. Mereka sangat cepat menjadi akrab.
"Nanti kalo kita menikah, kamu mau punya anak berapa?"
"Waduuhh..."
"Kenapa? Namanya juga angan."
"Aku belum berani mikir sejauh itu."
"Mulai sekarang kamu harus mikirin. Aku kan mau serius." Tian mengambil tanganku dan meletakkan di dadanya.
"Mikir nanti aja, kalau udah resmi."
Ku cubit pinggang Tian dan langsung berlari menghindari kejarannya. Kiyah tertawa senang saat Tian membawanya lari dalam gendongan.
__ADS_1
Aku masih berpikir ini semua hanya mimpi. Begitu cepat Tuhan mengabulkan doaku dengan kebahagiaan. Rasanya aku takut terbangun dan menyadari jika Tian bukan diciptakan untukku.
"Hei...melamun lagi."
Kami telah duduk di bangku panjang dibawah lampu. Memandangi bintang yang tak pernah tampak sendirian. Indah, seindah mimpiku saat ini.
"Aku takut ini mimpi."
"Ini nyata Mia, aku akan selalu ada buat kamu."
"Seandainya ini mimpi, aku tidak ingin bangun, biarkan aku tertidur panjang, menikmati kebahagiaan ini."
"Izinkan aku mewujudkan mimpimu. Aku akan buat kamu bahagia. Aku janji."
Ku sandarkan kepalaku di bahu Tian. Kiyah juga sudah mulai terlelap, ikut menikmati bahu Tian sebagai sandaran.
***
Hari minggu pagi. Ku nikmati waktu libur sehari ku untuk bermain bersama Kiyah, kami belum keluar kamar dari tadi. Menghibur diri karena belum bisa menemui Dika. Kiyah mengeluarkan semua mainannya, dia terlihat senang mendapat kawan untuk bermain. Selama tinggal dengan Nenek mungkin dia tidak merasa sepuas bermain dengan Mama.
Tok...tok...
Bunyi ketukan di pintu kamarku, menghentikan permainan kami. Terlihat Ibu di depan pintu, menunjuk ke ruang depan.
"Ada tamu, katanya mau nyari Mia."
"Siapa Bu?"
Ku ingat-ingat siapa yang dimaksud Ibu.
"Cewek atau Cowok?"
"Cewek. Itu yang pernah kesini dengan Tian, waktu ngantar kamu."
"Ooh....Iya. Wulan."
"Ibu gak tau. Cepat temui kayaknya dia lagi sedih."
Ku pandangi Kiyah yang tampak kecewa permainannya terganggu.
"Bentar ya sayang. Mama mau menemui Tante Wulan dulu!" Ku kecup kening Kiyah, dan menitipkan pada Ibu.
"Wulan," panggilku.
Walaupun Wulan berdiri dan menghadap ke arah luar, tapi aku yakin itu dia. Aku tidak punya banyak teman. Dia salah satu teman yang akan ku pertahankan.
"Mia, bisa ikut aku sebentar! Ada yang mau aku bicarakan."
"Ada masalah apa Wulan?"
"Nanti akan ku ceritakan semuanya."
__ADS_1
Aku mencoba menebak apa yang akan di bicarakan Wulan. Apakah ada hubungannya dengan Tian.
"Bentar ya, aku siap-siap!"
Wulan menganggukkan kepalanya dengan lemah. Terpancar kesedihan dai wajahnya. Membuatku takut untuk mengetahui masalah yang akan dikatakannya.
Setelah bersiap dan berpamitan pada Ayah, Ibu dan Kiyah. Kembali ku temui Wulan yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Mobil putih itu baru pertama kali bisa ku masuki. Biasanya kami berjalan bertiga menggunakan mobil Tian.
Wulan melajukan mobilnya masuk ke sebuah mall. Kemudian dia mengajakku memesan makanan di sebuah restoran cepat saji yang bergambar kakek tua. Dia hanya memesan minuman. Sepertinya masalah yang akan di bicarakan Wulan sangat berat, tidak ada senyum yang terpancar dari bibirnya sejak tadi.
Kami memilih duduk, di bagian sudut. Terlihat ramainya kota dari kaca yang ku jadikan sandaran.
"Tian tidak menerima pertunangan kami."
Tanpa basa-basi lagi Wulan memulai ucapannya. Sekarang air mata mulai mengenang di matanya. "Katanya dia tidak bisa bersamaku. Ada wanita lain yang telah lama dicintainya."
Ku biarkan Wulan menumpahkan semua beban di pikirannya.
"Aku malu, Mia. Selama ini telah menganggap dia sebagai calon imam ku. Ternyata dia menganggap ku tak lebih dari seorang adik." Wulan melanjutkan, sambil sesekali menghapus air mata yang jatuh perlahan. "Dia mencintai seseorang dan membiarkan cintaku bertepuk sebelah tangan. Apa aku tak menarik, sehingga dia tidak ingin mencoba mencintai ku."
Ku tarik napas panjang. Ku tak lagi berselera menikmati makanan di depanku. Hanya ku ambil remahan kecilnya, memasukkan sedikit demi sedikit ke mulutku.
"Apa kamu tau siapa wanita yang dicintai Tian?"
"Hah...Ap-apa?" Aku kaget mendengar pertanyaan mendadak dari Wulan.
"Kalian sudah lama berteman. Aku kira Tian akan berbagi rahasia denganmu."
Huk....huk...
Aku terbatuk, remahan kecil dari balutan tepung si paha ayam itu menggelitik tenggorakan.
"Ma-maaf Wulan. Aku keselek."
Wulan mengambilkan minum untukku. Ku minum tak lagi menggunakan sedotan. Air di gelas itu langsung tandas. Wulan melanjutkan ucapannya. "Aku ingin melihat siapa wanita yang dicintai Tian. Aku ingin melihat secantik apa dia? sekaya apa? sehingga bisa membuat Tian tidak bisa berpaling darinya."
"Apa aku kurang cantik, Mia? Menurut mu kenapa Tian menolak ku? Aku kurang apa?!"
Wulan tak bisa lagi menahan emosinya, suaranya sedikit meninggi, beberapa orang mengalihkan perhatiannya pada kami, Tapi Wulan tidak lagi peduli. Dia kembali menangis.
"Huuu....huuu...Kamu temanku Mia, Tolong berita tahu kekuranganku. Aku ingin Tian....Huuuu....huuu."
"Aku benci wanita yang dicintai Tian, Huuu....huuu....Dia mengambil Tianku."
Ku peluk Wulan mencoba menenangkannya. Bajuku telah basah oleh air matanya
"Maafkan aku wulan. Andai kamu tau wanita itu adalah aku. Bisakah kamu tetap menganggap aku temanmu?"
Bersambung.....
❤️💜
__ADS_1
Bantu like dan komen yaa, makasih 🙏🏼