Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Sabar


__ADS_3

Sejak punya jabatan, Mas Wandi sering di kirim ke luar kota, katanya setiap berangkat dapat uang jalan dan uang saku. Aku sangat bersyukur sekali, rizki kami bertambah setiap harinya, walau uang saku tak pernah ditambahkan, malah kadang Mas Wandi sering lupa meninggalkan uang belanja, aku ikhlas yang penting Mas Wandi masih setia mendampingi kami.


Uang tabungan Dika sering ku gunakan diam-diam, jika papanya lupa memberikan uang belanja.


"Mama kok ambil uang Dika?" Dika memergoki saat mencongkel celengannya.


"Eh...iya...iya...eh maaf ya nanti mama ganti," aku gugup.


"Mama gak punya uang ya?"


"Uang mama habis, Papa lupa ngasih uang, Dika kan belum makan?"


"Iya Ma, gak papa, pakai uang Dika aja!" Dika yang baru berusia lima tahun, tapi sudah mengerti apa yang aku rasakan.


"Makasih ya Nak," ku bawa Dika dalam pelukan.


"Nanti kalo Papa pulang, Dika minta uang lagi," Dika membujukku.


Ahh....semoga Papa mu mengerti nak.....


******************


"Asyiiik,... Papa pulang," Dika berlari ke arah Papanya yang baru pulang dari luar kota.


Rumah sudah ku bersihkan sebelum Mas Wandi pulang, aku tak ingin dia menganggap aku di rumah hanya duduk santai.


"Iyyaa.....nih Papa pulang bawa oleh-oleh untuk Dika, Kiyah dan Mama."


Ku ambil tas pakaian Mas Wandi ku keluarkan pakaian kotornya, langsung ku rendam, besok pagi tinggal di cuci.

__ADS_1


Tas berisi oleh-oleh dari Mas Wandi sudah di bongkar Dika, dia dan Kiyah masing-masing dapat mainan dan baju asli daerah itu, aku juga dibelikan baju kaos yang bertuliskan nama daerah yang dikunjungi Mas Wandi. Ku ucapkan terimakasih sambil memeluknya.


...............


Dika sudah ku masukkan TK tahun ini, ku pilih yang dekat rumah saja, biar tak payah mengantar dan menjemputnya. Mas wandi telah setuju, uang pendaftaran dan baju sudah dilunasinya. ku ajak dia ke pasar untuk membeli keperluan sekolah lainnya. Aku jarang sekali bisa ke pasar, Mas Wandi tidak suka aku pergi sendiri, sedangkan dia pun jarang sekali mengajak ku keluar, hanya Mbak Dewi lah yang bisa ku andalkan jika aku benar-benar ada keperluan.


....................


"Mas, minta uang dong untuk tabungan di sekolah Dika, tiap anak di ajarkan nabung," mintak ku saat Mas Wandi sarapan.


Setiap pagi selalu ku buatkan nasi goreng sisa nasi semalam dan segelas kopi bubuk sachetan kesukaannya.


"Pakai uang mu belanjamu aja, masak nabung aja di paksa." Mas Wandi tetap melanjutkan sarapannya.


"Uangnya gak cukup kalo dibagi lagi untuk tabungan sekolah Dika Mas, kamu malah sekarang ngurangi jatah belanja ku." Mas wandi sekarang hanya ngasih 20 ribu atau 30 ribu sehari itu pun kalau dia tidak lupa, kalau lupa terpaksa ku korek lagi celengan Dika.


Mas Wandi melototi ku dan berkata "Makanya jadi istri tu yang hemat, suami susah payah cari duit kamu cuma bisa minta."


"Papa jangan marah-marah sama Mama, kasihan Mama, Pa," Dika memeluk kaki ku.


"Dasar Mama mu aja yang cengeng." Mas wandi meninggalkan kami sambil melemparkan sendok makannya ke lantai.


"Ayyoo.... Dika kamu sekolah gak?" mas Wandi ternyata sudah siap di mobilnya, biasanya pagi Dika di antar papanya dulu, pulang nya baru aku jemput.


"Iyyaa Pa...." Dika berlari ke arah papanya, tapi ingat belum salam dengan ku dia kembali lagi.


Ku berikan tangan kananku, Dika benar-benar anak yang baik, semoga sifat buruk Papanya tidak menurun padanya.


"Nanti mama jemput yaa, Dika jangan kemana-mana, tunggu sampai mama datang," ku peluk Dika.

__ADS_1


"Dikaaa cepaaaat, nanti papa terlambat nih!!" Mas Wandi kembali teriak dari mobilnya.


................


Hari ini dengan uang 25 ribu di tangan pemberian Mas Wandi yang di tinggalkan nya di meja kamar, ku berjalan ke warung sayur di ujung jalan, disana sudah ramai oleh ibu-ibu yang juga belanja memilih sayur yang ingin dimasaknya. Sambil menggendong Kiyah yang belum bisa berjalan di umur nya yang hampir 2 tahun ini.


"Eh mbak Mia, jarang kelihatan," Mbak Dela tetangga sebelah rumahku menyapa saat aku tersenyum melewatinya.


"Heheh iya Mbak, beres-beres di rumah," jawabku


"Kerjaan rumah gak ada habis-habisnya Mbak," mbak tia yang berada di depan ku menyahutinya.


Aku hanya tersenyum. Sebenarnya ingin sekali-kali berkumpul atau berkunjung ke rumah tetangga sekedar bersilaturahmi, tapi Mas Wandi dan mamanya tidak suka aku melakukannya, katanya nanti bisa jadi bahan gosip.


"Mbak Mia 2 minggu lagi arisan perumahan kita habis, kamu ikut yaa, biar kenal dengan tetangga disini," ajak Mbak Dela. Sejak perumahan ini berganti ketua RT, banyak kegiatan sosial yang di aktifkan kembali, sehingga perumahan ini lebih nampak hidup daripada pertama kali aku datang.


"Insyaallah Mbak, nanti aku tanya Papa Dika dulu yaa," jawabku.


"Oh, iyalah gak papa, nanti kabari aja ke rumahku ya, aku bendaharanya." Kata Mbak Tia nimbrung di percakapan kami.


Setelah ku dapatkan apa yang ingin ku masak dengan harga uang 25 ribu, aku pamit pada ibu-ibu di sana.


"Permisi buk!!"


Mereka semua tersenyum ke arahku, ku langkahkan kaki pulang.


********"""*******"""******


Salam dari penulis pemula, yang memberanikan menulis novel disini.

__ADS_1


Mohon maaf jika masih banyak kesalahan penulisan dan alur cerita, silahkan komentari, author sangat berterima kasih πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ


Kalau suka ceritanya, tolong like dan berikan tanda cintanya, vote nya juga sangat di tunggu terimakasih.πŸ€—πŸ€—πŸ€©πŸ€©**


__ADS_2