
Selamat Membaca, semoga sukaaπβ€οΈ
"Miaaa.....kamu apa-apaan sih?" Mas Wandi berteriak dari depan pintu rumah.
"Tadi Mas Ben lewat mas, dia ngajak barengan ke dalam, Dika juga kelihatannya capek," ku coba jelaskan.
"Dasar yaa, kamu tu memang perempuan gatel, naik motor berboncengan dengan suami orang." Mas Wandi melanjutkan marahnya.
"Maaf Mas, bukan aku yang minta di bonceng, Mas Ben yang menawarkan," sakit sekali hati ku mendengar kata-kata nya, tapi aku masih berusaha sabar menurut i pesan Mama.
"Sama ajaa Miaaa, kalian akan berselingkuh kan?" Tuduhan Mas Wandi benar-benar menyakitkan, dia semakin berteriak jika ku jawab, aku tak ingin tetangga mendengar teriakannya, ku hiraukan dan berlalu menuju dapur.
"Miaaa....aku belum selesai bicara, kamu itu..."
"Sudahlah Mas, kumohon aku malu di dengar tetangga, jangan teriak-teriak lagi."
"Kamu malu jika tetangga tau kalian telah berselingkuh," dia masih saja melanjutkan tuduhannya.
Entah setan apa yang merasuki Mas Wandi, kata-katanya benar tak pantas di ucapkan. Aku hanya bisa menangis, semoga dia bisa diam. Dika memeluk, Kiyah masih ada dalam gendonganku. Ingin ku tinggalkan rumah ini, kalo tak ingat anak-anak ini masih butuh ayahnya.
Mas Wandi tak lagi berteriak, dia masih ada hati, jika melihatku menangis, mungkin masih ada rasa iba nya. Ku turunkan Kiyah, ku biarkan dia merangkak ke arah papa nya, Mas Wandi menggendong Kiyah dan mengajaknya keluar.
************
Aku masuk kamar, ku lipat pakaian yang dari tadi telah ku angkat dari jemuran, Mas Wandi belum pulang, sejak dia pergi dengan Kiyah. Mas Wandi memang lebih dekat dengan Kiyah, biasanya dia akan ajak kiyah jajan di supermarket di ujung jalan.
__ADS_1
Saat mas Wandi pulang, aku telah selesai memanaskan ikan kemaren yang tidak jadi di makannya, hari ini aku tidak masak, tidak ada uang jika dia marah.
"Mmaaaa," itu suara kiyah, dia memberikan sebuah coklat, Mas Wandi tersenyum, tapi dia terlalu gengsi untuk meminta maaf, itu pasti titipannya untukku. Inilah yang kadang membuat ku susah melepaskannya, dia bisa membuatku melupakan kata-kata yang telah di ucapkan nya tadi.
"Makasih yaa..." ku peluk kiyah kecilku.
******************
Aku hanya diam saat memenuhi kewajiban ku sebagai istri di atas kasur, teringat kata-katanya yang selalu menyakitkan dan dengan mudah ia lupakan jika dia ingin meminta jatah malamnya. Ku biarkan saja, dia saja yang terpuaskan, aku kadang muak melihatnya.
Ternyata dia merasakan aku hanya diam, tanpa perlawanan, membuatnya marah dan membanting bantal ke arahku.
"Kamu seperti batang pisang, tak punya reaksi," dia tinggalkan permainan ini, "Kalau kamu masih seperti ini, aku tak segan lagi pesan P*l*c*r."
Prakkkk.....
Mas Wandi membanting pintu kamar, dan keluar dengan motornya entah pergi kemana, aku hanya bisa beristigfar, mencoba menenangkan diri.
Dika yang mendengar bantingan pintu terbangun dari tidurnya "Mama, bunyi apa itu?"
"Sudah....gak apa-apa, ayoo Dika tidur lagi, besok kan mau sekolah." Dika kembali tidur setelah ku usap rambutnya.
Beruntung Kiyah tidak bangun.
****
__ADS_1
Jam 5.00 aku terbangun, aku tunaikan sholat subuh yang masih sering bolong-bolong ku jalankan "Ampuni hamba Mu ini ya Allah."
Mas Wandi ternyata sudah tertidur lelap di ruang tamu, entah jam berapa dia datang. Tanpa berani membangunkan nya, aku langsung ke dapur menyiapkan sarapan pagi ini, seperti biasa hanya nasi goreng sisa semalam dengan sedikit kecap dan bawang, serta segelas kopi sachetan kesukaan mas Wandi.
Jam 06.00 ku bangunkan Dika
"Dika bangun yuk, sholat subuh dulu habis itu Dika siap-siap sekolah." Sebenarnya ini sudah terlambat untuk sholat, tapi tak apa menurutku untuk mengajarkan Dika yang masih susah bangun pagi.
"Papa gak sholat Ma, Dika yang kecil disuruh sholat!" Dika merengut ke arahku, melihat papa nya yang masih tertidur lelap di kursi tamu.
"Dika kan anak pintar." hanya itu yang bisa ku jawab.
Dika sudah selesai berpakaian rapi di depan sarapannya, mas Wandi telah bangun dan mandi, ia juga duduk sarapan di sebelah Dika.
"Mia, ini duit nanti masak enak, Rian dan Rani mau datang hari ini," Uang 100 ribu dikasih mas Wandi
Rian dan Rani akan datang berliburan di rumah papa nya.
***************
**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.
Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali ππΎππΎππΎ.
Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπ€π€***.
__ADS_1