
Happy reading semoga suka💜❤️
***
"Aku mencintai Tian. Rasanya ingin mati, sesakit ini rasanya saat hati ini ditolak. Huuuu....huuuu.... Mengapa Tuhan tidak adil. Aku hanya ingin Tian huuu....huuu...."
Malam itu aku tak bisa tidur. Pikiranku berkelana kemana-mana. Terbayang raut kesedihan dari wajah Wulan. Setiap kali mengingatnya menangis, membuatku hatiku terasa sakit.
Tangisan Wulan membuatku sangat merasa bersalah. Akulah wanita perusak itu. Apa yang akan dilakukan Wulan jika tahu bahwa akulah wanita itu?
Aku akan membuat mereka kembali bersama. Aku ingin Wulan kembali ceria dan tetap menjadi teman seorang Mia.
***
Ku bereskan semua kertas-kertas yang berserakan di meja ini. Aku telah menyiapkan tugas ku sampai Minggu depan Keputusan penting telah ku ambil. Malam ini aku ingin mengakhiri nya.
"Udah beres semua? Sebelum pulang kita makan dulu ya?"
Tian telah berdiri di sampingku, saat aku mengunci pintu gudangnya.
"Aku tidak lapar"
"Tapi aku lapar." Tian mengambil tanganku dan menciumnya, cepat ku tarik dan melepaskannya dari genggaman Tian.
"Hari ini terakhir aku bekerja disini. Semua tugas untuk satu minggu ke depan telah ku selesaikan. Aku yakin kamu pasti dapat karyawan pengganti sebelum satu minggu itu."
Tian terdiam mendengar ucapan ku. "Maksudmu apa Mia?"
"Aku ingin berhenti Tian. Berhenti bekerja disini." 'Dan berhenti mencintaimu.'
Dengan cepat aku berlari dari hadapan Tian. Aku tidak sanggup memandang wajahnya. Aku takut berubah pikiran. Dengan sigap Tian menarik tas yang tergantung di pundak ku.
"Beri aku penjelasan, Mia."
Tian memperlihatkan raut kebingungan di wajahnya.
"Aku gak mau menjelaskan apa-apa."
Tian masih memegang erat tas ku. "Lepasin!!!! Aku mau pulang!"
"Kenapa marah, Mia? Jelaskan dulu, jangan buat aku bingung." Tian sekarang menarik lenganku, membawaku kembali ke dalam, dia memepet tubuhku sehingga tubuh ku terjepit di antara dua tangannya.
"Tidak ada yang di perlu di jelaskan, Tian. Aku ingin berhenti. Memulai pekerjaan baru di tempat yang...."
Tian mendekatkan wajahnya menangkap bibirku yang masih terbuka. Aku menikmati sensasi dari ciuman yang di berikan nya. Sejenak aku terlupa, jika ada yang harus aku selesaikan. 'Biarkan aku menikmatinya untuk yang terakhir kali'. Ku pejamkan mata, menahan tangis yang menyeruak di dalam hati, saat keinginan tak sejalan dengan apa yang akan ku katakan.
Ku dorong tubuh Tian dengan kuat, sehingga dia terdorong ke belakang. Aku berlari menghindarinya.
"Berikan aku penjelasan! aku tidak akan lagi mengejar mu."
Suara Tian melemah di belakangku. Ku lihat dia tertunduk bersikap berlutut menghadap ke arahku. 'Jangan seperti itu Tian, sikapmu membuat aku lemah'
"Aku sudah melepaskan Wulan untukmu. Mengapa ini balasannya."
Tian menatapku dengan perasaan frustasi dan penuh kesedihan. Aku tidak bisa lagi berdiri disini terlalu lama. Aku takut aku yang akan menangis dan merubah keputusanku. Aku harus kembali menguatkan tekad ku. Untuk membuat Wulan kembali pada Tian.
"Aku akan kembali pada Wandi. Kami akan berkumpul lagi."
"Mia, Jangan.... Aku rela jika kamu memang tak bersamaku. Tapi, aku tak ingin mendengar mu kembali terluka..."
Ku tutup mataku merasakan setiap kata yang diucapkan Tian penuh Cinta.
"Kenapa? Kami masih sah secara hukum. Aku ingin Dika kembali dan ini satu-satunya jalan."
__ADS_1
Aku tak berani memandang wajah Tian. Yang mencoba mencari kebohongan dari ucapan ku.
"Aku mencintaimu Mia."
"Tapi, aku tidak mencintaimu, Tian."
"Katakan sekali lagi, aku tidak percaya ucapan mu." Terlihat kilatan sedih dari matanya.
'Tidak kah kau lihat, aku juga terluka.'
"Aku tidak mencintaimu. Aku tidak pernah menyukaimu. Tidak pernah..."
"Mia...."
"Aku tidak mencintaimu."
"Aku tidak mencintaimu."
Ku ulangi ucapan ku berulang kali. Aku ingin Tian membenciku dan kembali pada Wulan.
Biarlah ku hapus semua rasa.
"Pergilah Mia... Aku memang tidak pantas meminta hatimu."
Aku tak perlu lagi berlari. Tian tidak akan mengejar ku lagi. Ku bawa luka hati yang ku buat sendiri.
"Jika kau kembali terluka, aku selalu siap menjadi pengobat nya."
Ucapan Tian membuatku kembali menoleh. Kepalanya sudah menelungkup di atas meja dan menyembunyikan wajah di antara lengannya. Ku dengar isak an kecil dari nya. Tian menangis.
Ingin ku kembali, memeluk tubuhnya. Meredakan tangisnya...mengatakan semua ini hanyalah kebohongan semata. Tapi, kenyataan bahwa Tian akan lebih bahagia bersama Wulan membuat tekad ku kembali kuat.
Aku tidak ingin bersaing dengan Wulan. Dan aku juga tidak siap jika harus bersanding dengan Tian. Aku tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama. Biarlah kucari laki-laki yang sepadan biar tidak ada lagi hinaan.
Ku tatap punggung Tian, yang tidak lagi menoleh ke arahku. Aku yakin kamu akan baik-baik saja. Karena mulai sekarang aku yang akan merasakan sakit ini sendiri, tanpa ada kamu tempat berbagi.
Biar Aku Yang pergi
by. Aldi Maldini
.................
Tak ku sangka
Semua seperti ini
Semua yang indah
Berubah jadi sirna
Tak habis pikir
Ku tega seperti ini
Meninggalkan mu
Tanpa suatu kepastian
Ku hanya bisa berharap
Kau bahagia di sana
Dengan dia pilihan ku
__ADS_1
Walau dia sahabatku
Biar aku yang pergi
Biar aku yang tersakiti
Biar aku yang berhenti
Berhenti mengharapkan mu
Oh Tuhan kuatkan aku
Menerima semua ini
Jika dia memang untukku
Kuharap kembalikan dia padaku
Ku hanya bisa berharap
Kau bahagia di sana
Dengan dia pilihanku
Walau dia sahabatku
Biar aku yang pergi...
***
Setelah beberapa katanya ku ganti,
Lagu ini kurasakan pas dengan keadaan ku saat ini. Biarkan Aku pergi.
Tiiin...tiinn.
Tian telah berada di sampingku. "Biar ku antar pulang."
"Aku bisa pulang sendiri."
"Sekali ini, Mia. Setelah itu aku tidak akan menganggu mu lagi."
Tian memberikan helem dan jaketnya padaku.
"Aku bisa pulang sendiri, Tian."
"Kumohon, Mia. Inikah balasan mu selama ini. Ketika hatiku telah kau tolak. Izinkan sekali ini, aku ingin kau menerima tawaranku."
'Satu kali ini Mia, jangan kecewakan dia.'
Masih terlihat sisa dari tangisannya. Hati kecilku tidak tega menolak. Ku ambil jaket dan helm yang diberikan Tian. Setelah memastikan aku duduk dengan benar, Tian melajukan motornya.
Di perjalanan pulang kami sama-sama terdiam. Aku menatap punggungnya, ingin sekali ku peluk punggung itu, mengatakan semua ini akan berlalu. semuanya akan baik-baik saja. Tapi, aku tidak mempunyai keberanian melakukannya.
Tak terasa kami sudah sampai di rumahku. Tian melepaskan helm ku. Dia memandang wajahku sangat lama, "Aku mencintai mu, kemaren, sekarang dan juga nanti."
Ku biarkan dia mengecup keningku. "Pergilah, salam buat Ayah dan Ibu, salam sayang juga buat Kiyah."
Ku lepaskan jaket milik Tian.
Tian menolaknya, "Tidak usah, ambil saja, anggap saja sebuah kenangan."
Tian kembali mencium keningku, kemudian berbalik dan menaiki motornya. Aku melihat tubuhnya sampai hilang di telan kegelapan. Seperti hilangnya harapan yang baru saja ku tanam.
__ADS_1
****
Bantu like dan komennya yaa🤗💜❤️