Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.20


__ADS_3

Happy reading semoga suka 💜❤️


***


"Kemaren malam kemana aja?"


Wulan sudah berdiri di depan pintu, berbicara ketus ke arahku.


"Saya?"


"Iya, kamu?"


"Nama saya Mia, Mbak! Mari kenalan lagi mungkin mbak nya lupa."


Ku ulurkan tangan mengajaknya bersalaman, tapi Wulan masih bersikap angkuh. Tangan ku dibiarkannya tergantung tanpa sambutan.


"Gak usah panggil Mbak! Kamu kan tau nama saya Wulan."


'Dasar aneh di ajak kenalan gak mau, tapi maksa minta dipanggil nama.'


"Kemaren pasti kamu menahan Tian atau mengajaknya kemana-mana, biar gak jadi ke rumahku."


Aku hanya melongo mendengar tuduhan Wulan. Aku tidak tau alasannya mengapa dia harus berkata seperti itu.


"Maaf Wulan, saya gak ngerti."


"Jangan pura-pura gak ngerti. Kemaren malam dia tidak jadi ke rumahku. Sampai sekarang ponselnya tidak bisa dihubungi. Pasti kamu tau Tian kemana?!"


Wulan mulai meninggikan suaranya. Aku jadi tidak enak dengan Wira, yang mulai mengintip ke arah kami.


"Duduk dulu, Wulan!"


Kuberikan dia kursi yang ada di dekatku. Napasnya tampak tersengal menahan marah. Tapi, akhirnya dia mau duduk setelah berapa kali ku bujuk. Aku pun duduk di sebelahnya mencoba menenangkan.


"Setelah mengantar Wulan. Aku pun langsung di antar pulang oleh Tian. Kami tidak mampir kemana-mana. Tian pun tidak ku tawari mampir ke rumah ku. Tian bilang dia juga akan langsung pulang. Sampai sekarang aku tidak tau ponselnya tidak aktif karena aku tidak pernah menghubunginya."

__ADS_1


Ku jelaskan panjang lebar pada Wulan, agar dia mengerti. Aku tidak pantas untuk menjadi saingannya. Tapi, adegan Tian yang memelukku tadi malam tidak berani ku ceritakan. Biarlah bukan hal yang penting. Tian hanya menghibur karena kasihan padaku.


"Benarkah? Kamu sedang tidak berbohong kan?"


"Tidak ada untungnya aku membohongi mu. Sekarang kamu coba hubungi Tian lagi!"


Aku seperti sedang membujuk seorang adik yang merengek karena merasa mainannya ku ambil. Wulan menurut, dia kembali melakukan panggilan untuk seseorang yang namanya teratas pada panggilan keluar di ponselnya.


Tuuutt.....tuutt.....tuuut...


Bunyi panggilan masuk untuk ponsel di seberang sana. Dua kali Wulan menghubungi tapi belum ada jawaban untuk panggilannya. Wulan kembali emosi.


"Mengapa sekarang dia tidak mau menerima telpon ku?" wajahnya memerah. Ada perasaan tidak tega melihatnya.


Tidak ingin melihat wajah Wulan yang selalu cemberut, ku sibukkan diri di depan laptop.


Kriiingg.....Kriingg....


Ponsel Wulan berbunyi, dia berteriak senang, "Ini Tian," ucapnya melihat ke arahku.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Dia mengangkat telponnya dan menjauh dariku. Aku kembali fokuskan diri, melepaskan bayangan Tian yang sempat hadir di pikiran.


Wulan sudah berteriak di dekatku. Sekarang teriakannya tidak lagi bernada marah seperti biasanya. Aku ikutan senang, karena baru kali ini juga Wulan memanggil namaku.


"Syukurlah, aku mau lanjut kerja lagi ya!" ucapku pada Wulan.


Wulan mendekatiku, "Sekarang kita berteman yuk!" ajaknya.


Dia mengacungkan jari kelingking kanannya. Aku terpana melihat kelakuannya, baru saja dia datang marah-marah, uluran tangan Ku pun, tadi tidak disambutnya, sekarang dia malah mengajak berteman.


"Ayok!"


Diambilnya tangan kananku dengan reflek kelingking kananku mengait dengan kelingkingnya.


"Okey....sekarang kita berteman. Aku pulang dulu ya Mia!" Ucap Wulan meninggalkan ku yang masih melongo akan ulahnya. Tidak ada ucapan maaf atau terimakasih. Semua dianggapnya selesai dengan tautan kelingking tadi. Ya sudahlah, orang kaya mah bebas.

__ADS_1


***


"Pak Wandi, tolong siapkan semua berkas, kwitansi, nota dan pengeluaran. Rapikan lagi pembukuan, karena akan ada pergantian pimpinan sekitar dua minggu lagi."


Pak Boby memberi perintah yang mengejutkan. Selama aku bertugas menjadi bendaharanya Pak Boby, kami selalu bekerjasama jika ada pengeluaran.


"Uang yang Bapak pinjam kemaren gimana, Pak?"


Tanyaku takut-takut. Ku dengar Pak Boby dilengserkan dari tampuk pimpinan karena ada kasus penyalahgunaan kekuasaan. Uang yang dipakai Pak Boby lumayan banyak ditambah uang yang ku pakai untuk keperluan sendiri. Dalam waktu minggu aku harus bisa merapikan semua data. Kepalaku tiba-tiba pusing.


"Catat saja uang yang pernah ku pinjam. Akan ku ganti secepatnya. Uang yang tidak bisa ku ganti akan ku siapkan nota fiktif nya."


Bekerja sama dengan Pak Boby sebenarnya enak, dia termasuk pimpinan yang royal terhadap anak buahnya. Setiap kali ada pencairan dana aku akan dapat bagian darinya. Tapi, ternyata aku baru sadar beginilah resikonya sekarang. Aku harus menyiapkan banyak data-data fiktif untuk menutupi setiap pengeluaran yang tidak berkaitan dengan urusan kantor.


Belajar dari Pak Boby aku pun banyak menggunakan uang kantor untuk urusan pribadi. Uang banyak ku habiskan di meja judi. Sekali-kali mengajak Rika, Rini, Santi, Sinta dan wanita lainnya untuk jalan. Tergantung siapa yang saat itu mau ku dekati.


Sekarang aku harus bisa mengembalikan semuanya dalam waktu dua minggu. Waktu yang sebentar untuk pengembalian yang sangat banyak. Apa yang harus ku lakukan? Siapa yang bisa ku pinjamkan uang untuk menutupi semua ini? Badanku oleng.


"Pak Wandi, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun ya! Karena laporan setiap data akan diperiksa langsung oleh pihak kejaksaan."


"Me-Mengapa begitu Pak?" tanyaku terbata-bata.


"Kasus ku yang kemaren sudah sampai ke kejaksaan. Sekarang mereka akan memeriksa dari segi keuangan apakah nanti akan memberatkan masalahku atau bisa meringankan," Jawab Pak Boby lunglai.


Aku pun tertunduk lunglai. Jika ada kesalahan di laporan keuangan ini, aku juga akan terseret di dalamnya. Sebagai Bendahara aku yang bertanggung jawab setiap Uang yang masuk dan dikeluarkan.


"Baik Pak, aku akan berusaha merapikan semuanya." Aku mencoba menghibur Pak Boby atau itu juga hiburan untukku.


Aku tidak mungkin menceritakan uang yang telah ku gunakan. Semua resiko harus ku tanggung sendiri.


"Tolong ya Pak Wandi, jangan sampai nanti ada kesalahan yang memberatkan masalahku."


Pak Boby meninggalkan ruangan ku dengan lesu. Tidak terlihat lagi senyum yang biasa mengembang di wajahnya. Pesona Pak Boby selama ini menjadikan dia, bisa punya istri kedua. Dia laki-laki yang hebat menurutku. Bisa menikah tanpa diketahui istri pertama. Tapi itu dulu, sebelum kasus ini muncul ke permukaan.


Aku harus memikirkan caranya uang yang ku gunakan bisa kembali ke kas. Sial...uang yang telah ku gunakan ke meja judi, tak lagi membuahkan kemenangan. Tidak mungkin juga aku meminta kembali hadiah yang pernah ku berikan pada wanita yang selalu menggoda untuk meminta hadiah mewahnya.

__ADS_1


Aku harus menjual, mobil yang ku punya. Tapi, harganya akan jauh turun karena keadaan yang memaksa.


Aku harus bagaimana???....


__ADS_2