Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Aku akan terus ber Sabar


__ADS_3

Sebentar lagi Mas Wandi pulang, aku harus menyiapkan makanannya, rumah telah ku bersihkan dibantu dika yang merapikan mainannya, Kiyah masih tidur sejak siang tadi. Sudah jam 17.00 Mas Wandi belum juga pulang, makanan yang di atas meja sudah dingin, ku masukkan lagi dalam wadahnya, biarlah nanti 8mas Wandi pulang ku panaskan lagi.


Dika sudah mandi, dia berteriak membangunkan adeknya yang langsung menangis kencang, ku bujuk Kiyah dan ku mandikan. Di umur nya yang sudah 2 tahun belum bisa berjalan, Kiyah memang sedikit lambat pertumbuhan nya dia duduk setelah umur 1,5 tahun. Sampai sekarang dia juga belum bicara, hanya bisa bilang "Mmaaa....Pppaaaa......Aaanggg....," aku sebenarnya cemas, berulang kali ku ajak Mas Wandi menemani ke dokter spesialis anak, tapi Mama melarangnya, Mama bilang "Setiap anak mempunyai perkembangan nya sendiri-sendiri".


Mbak Dewi yang ku tanyakan tentang perkembangan Kiyah, mengajak ku untuk menemui dokter anak langganan Rehan. Tapi aku takut Mas Wandi marah kalau aku pergi, padahal Mbak Dewi udah menjanjikan dia yang akan membayar biaya kunjungan, Mas Wandi pasti akan mengadukan ke mama jika aku tetap pergi.


Mbak dewi tau yang ku takutkan, dia tak pernah lagi mengajakku, hanya berani menyarankan untuk mengurut kaki Kiyah dan terus ajak ngobrol.


.................


Setelah magrib Mas Wandi baru sampai di rumah, tanpa banyak tanya, ku siapkan air mandi dan ku seduh kopi kesukaannya, makanan telah ku panaskan dan ku letakkan kembali ke meja.


Mas Wandi melihat ke arah meja makan dan berkata,


"Aku gak makan, tadi udah di traktir bos."


Ku singkirkan kembali dengan perasaan sedih, ku tahankan tadi siang tidak memakannya takut jika nanti Mas Wandi pulang marah jika lauknya habis.


Semoga masih bisa dipanaskan untuk besok.....

__ADS_1


Ku dekati mas Wandi yang sedang memainkan hapenya, aku ingin izin ikut arisan di perumahan ini.


"Mas, aku ingin bicara," ku keraskan sedikit suara ku biar dia dengar.


[Apa? oh ya ya..... nanti aku langsung kesana, siapp boss]


Ternyata mas Wandi tidak mendengarku.


"Apa? nanti aja kita bicara, aku dipanggil bos, ada pertemuan penting." Mas wandi nampak buru-buru.


"Iya Mas," jawabku takut-takut.


"Papa pergi ya Sayang!!" Mas Wandi menggendong Kiyah sebentar. Lalu mengambil kunci mobilnya, gak apalah masih ada waktu, kata Mbak Dela masih 2 minggu lagi. Nanti ku cari waktu lagi untuk bicara dengan Mas Wandi. Sebagai suami istri, kami jarang sekali bicara, Mas Wandi bisa menghabiskan waktu menelpon Mamanya, tapi tidak dengan ku.


Ku kunci semua pintu, ku ajak Dika dan Kiyah untuk masuk kamar, hari-hari ku sangat melelahkan. Mas Wandi tidak pernah menawarkan bantuan untuk pekerjaan rumah atau sekedar bermain dengan anaknya. Dia takkan perduli apapun kondisiku, rumah harus terlihat bersih dan makanan tersaji di meja. Saat anak-anak sakit dia pun akan marah, menganggap ku tak becus menjaga anak.


Ayah, aku lelah....ingin ku adukan semuanya padanya, tapi aku tak ingin menambah sakit ayah. Kata ibu akhir-akhir ini vertigo ayah sering kambuh. Seandainya dulu ku dengarkan pesan ayah, untuk mempertimbangkan pernikahan ini. Ayah....aku rindu, sejak aku pindah ke kota ini, aku tak diperbolehkan Mas Wandi menemui keluargaku. Telpon pun di batasi, Mas Wandi akan marah jika aku ketahuan menelpon ayah, ibu atau adik-adikku.


............... .. ........

__ADS_1


Aku terbangun jam setengah lima, kepalaku pusing karena kebanyakan mikir sambil menahan tangis malam tadi. Ku lihat Mas Wandi belum ada di kamar, ku cari ke ruang tamu dan kamar lainnya, ternyata memang dia belum pulang ke rumah. Mas Wandi biasa bawa kunci cadangan kalo keluar malam, katanya aku kalo tidur kayak orang mati, susah dibangunkan, keluarga ku juga pernah bilang begitu, kadang aku bisa tiba-tiba saja tertidur dan gak bangun-bangun. Aku pernah baca masalah tidur yang aku alami katanya itu sebuah penyakit dan harus di cari solusinya.


Ku hidupkan mesin cuci dan masak air, tak berani ku telpon Mas Wandi, biarlah ku tunggu dia pulang. Pernah ku telpon waktu dia belum pulang sampai jam 2 malam, hanya bentakan dan kata-kata kasar yang ia lontarkan.


"Mama, Papa udah pegi ya?" Dika sudah bangun dari tidurnya.


Aku hanya tersenyum kearahnya.


"Dika kan mau pergi sekolahnya di antar Papa." terlihat raut sedih di wajahnya.


Aku harus bilang apa??? Apakah perlu ku katakan Papa nya tak pulang malam ini.....


**********


**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.


Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ.


Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπŸ€—πŸ€—***.

__ADS_1


__ADS_2