
Novel ini semula berjudul "Mereka Anakmu" di perjalanan cerita, author ingin mengganti judul menjadi "Hati yang Ku Pilih". Maafkan author pemula ini yang belum bisa ber imajinasi membuat novel, sehingga masih bingung alur cerita mau dibawa kemana. Salut buat penulis hebat, yang ceritanya selalu menarik untuk dibaca❤️💜.
*********************
Aku tidak pernah lagi membicarakan hape, sepertinya mas wandi memang tidak ingin membelikannya. Aku harus berusaha sendiri. Aku yakin pasti bisa.
Rian, rani serta indah dan diah, malam ini tidur di rumah mbak dewi, siang tadi mas indra menjemput mereka. Di rumah sepi kembali, kiyah sudah mau main sendiri. Aku teringat ayah, sangat rindu nasehatnya.
"Assalamualaikum Mbak mia," mbak dela datang ke rumahku.
"Waalaikumsalam, ayo mbak masuk," ajak ku.
Aku jarang sekali kedatangan tamu, hanya beberapa orang saja yang sering datang minta sumbangan untuk keperluan perumahan.
"Tumben sepi, keponakan nya pada kemana?" tanya mbak dela.
"Itu bukan keponakan semua mbak, ada anak mas Wandi juga," mbak dela belum tau, berarti buk siti orangnya tidak mudah bergosip.
"Waktu menikah dengan Mbak Mia, papa dika seorang duda?"mbak dela tampak kaget.
"Iya Mbak, jawabku, lucu melihat ekspresi mbak dela. "Ayoo mbak duduk sini," ajak ku, mbak dela masih berdiri di depan pintu.
"Mata Mbak Mia kenapa sembab? nangis yaa?"
"Hehe....iya Mbak? ingat ayah di kampung."
Tanpa sadar mungkin aku udah terlalu lama nangis, teringat ayah dan masalah dengan mas wandi yang selalu menyiksa bathin ku.
"Mbak Mia kalo ada apa-apa, aku mau loh jadi tempat ceritanya mbak?"
__ADS_1
Ku pandangi wajah mbak dela, ada wajah tulus disana. Tapi aku begitu takut berbagi masalah rumah tangga, jika mas wandi tau dia akan marah dan mengadukannya pada mama.
"Gak ada apa-apa mbak," aku coba berbohong pada mbak dela.
"Aku sering dengar papa dika sering bentak-bentak, kadang aku juga dengar ada suara barang yang sengaja di banting dan tangisan Mbak Mia, sebagai sesama wanita dan seorang istri, aku gak tega Mbak!" Suara mbak dela terdengar serak, seperti hendak menangis.
"Aku begitu sakit Mbak," ku peluk mbak dela, meminta kekuatan dari nya.
"Cerita aja mbak, biar sakit mbak berkurang," mbak dela membujuk ku menumpahkan rasa sakitku.
Ku beranikan bercerita, semoga sesak ini sedikit berkurang.
"Selama menikah dengan mas wandi aku rasanya gak pernah bahagia Mbak, dia yang ku harapkan bisa mencukupi semua keperluan ku dan sedikit membantu meringankan beban ayah, malah berbalik menyakiti. Kata-katanya yang kasar dan mudah emosi, membuatku lelah mbak." Akhirnya tertumpah apa yang selalu ku pendam dalam hati selama ini.
"Cerita aja mbak, aku akan jadi pendengar yang baik," mbak dela berusaha tersenyum menghiburku.
Flashback on
"Kalau kamu gak suka aku pulang malam? pergi aja dari rumah ini," teriak mas wandi.
"Aku dengar kamu berjudi di luar sana mas, karena itu uang gaji mu, tak pernah cukup, benar kan mas?" tanya ku pada mas wandi.
Sudah sering ku dengar dia kembali melakukan perangai nya dulu, suka berjudi dan pakai barang terlarang itu, tapi dia selalu mengelak jika ku tanya.
"Aku bilang pergi, kamu gak dengar??" mas Wandi kembali berteriak tanpa menjawab pertanyaan ku.
Prannkk.....
Piring yang telah ku siap kan untuk makan malam nya pecah seketika.
__ADS_1
Aku hanya berlari ketakutan, aku memilih masuk kamar, daripada melanjutkan pertengkaran ini.
"Miiiaaaa.....," dia sempat menarik rambut ku, sampai akhirnya aku bisa menutup pintu, ku kunci dengan tangan gemetar, aku menangis di sudut kamar.
"Buka pintu!!! kamu dengar gak???"
Prankk....Prankk...
Mas Wandi kembali membanting piring yang ada di atas meja, aku sangat takut, aku berharap kematian datang membawa ku pergi dari sini.
Hening....
Praakk...
Ku dengar suara pintu di banting dan tak lama bunyi motor menjauh, aku bersyukur mas wandi pergi, semoga ia tak pulang malam ini.
Ku bersihkan pecahan kaca yang bertebaran, ku punguti satu persatu dengan hati-hati, se olah - olah sedang mengumpulkan hati ku yang telah berserakan, ku usap air mata yang selalu jatuh tanpa diminta.
.......................
Mari dengarkan suara hati, mungkin ia lelah ingin bernyanyi....
..............
**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.
Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali 🙏🏾🙏🏾🙏🏾.
Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaa🤗🤗***.
__ADS_1