Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Episode 2.19


__ADS_3

Selamat membaca semoga suka ❤️💜


Aku mencintainya....


Mendapatkan dia untuk menjadi istri adalah tantangan yang ingin aku taklukkan. Mia seorang karyawan toko onderdil kendaraan yang sekaligus bengkel. Ku lihat banyak orang yang mencoba menggodanya, pura-pura bertanya atau sekedar bertegur sapa. Aku juga ikut larut dalam pesonanya. Paras cantik, berkulit putih dan berhidung mancung membuatku ingin memilikinya. Wajahnya sedikit sama dengan mantan istriku. Semua keluarga akan kaget jika aku bisa membawanya pulang.


Hari itu mungkin nasibku sedang beruntung. Ban motor ku tiba-tiba bocor. Sehingga aku punya alasan untuk datang ke bengkel itu dan menemui Mia. Dia belum mengenalku, sedangkan aku sudah hafal melihat wajahnya. Beberapa kali aku mencoba membeli sesuatu, berharap dia yang melayani, tapi hanya karyawan lain yang mendatangi. Hari ini aku harus bisa sekedar meminta nomor hapenya. Ku dorong motor yang telah bocor ban belakangnya, ku lalui beberapa bengkel untuk sampai ke sana. Hanya agar bisa bertemu MIA.


“Mas tolong tambal ya!” ucapku pada pegawai bengkel yang menyambut kedatanganku.


“Saya lihat dulu ya Mas!”


"Ya Mas.”


Pegawai bengkel itu menurunkan besi penyanggah yang ada di bawah motor agar bisa berdiri tegak dan melihat keadaan motorku. Sedangkan, mataku terus melihat ke dalam toko berharap ada sosok Mia yang muncul. Aku pilih tempat duduk yang terdekat dengan meja yang biasa diduduki Mia.


“Mas, Sepertinya ini tidak bisa ditambal lagi. Harus ganti Ban baru.”


“Lama gak Mas?”


“Nggak, sebentar kok.”


“Lama juga gak apa, Mas” Jawabku tersenyum.


Pegawai bengkel nya ikut tersenyum, seperti tau maksudku.


“Silahkan ke adminnya dulu ya, Mas!”


“Baik,” jawabku dengan semangat.


Di meja itu, Mia sudah duduk dengan pena dan nota ditangannya.


“Mau ganti apa aja Mas?” tanya Mia.


Suaranya sangat lembut ku dengar, sesuai dengan kelembutan yang terpancar dari wajahnya.


“Mau ganti hatiku,” jawabku dengan senyum menggoda.


“Hehe....”


Dia hanya tertawa kecil menampakkan barisan gigi putih yang berbaris rapi di mulutnya. Tampaknya dia udah tahan godaan.


“Mau ganti ban dalam, ban luar, ganti oli, ganti rem pokoknya ganti aja yang pantas diganti, yang penting bisa lama.”

__ADS_1


Aku menampakkan wajah yang serius. Mia mencatat semuanya dan meminta tanda tangan persetujuan.


“Minta tanda tangannya, Mas!”


“Boleh... Minta nomor hape juga boleh.”


Aku tak perduli terlihat norak. Sudah lama aku menunggu kesempatan bisa berbicara dengannya.


“Namanya siapa?” Tanya ku, memulai pertanyaan pertama.


“Mia,” Jawabnya pendek.


“Tinggal dimana?”


“Gak jauh dari sini.”


“Boleh minta nomor hapenya!”


“Buat apa?”


“Untuk anu...itu....” aduh aku lupa memikirkan jawabannya. Tapi tidak Wandi namanya jika Harus mati kutu dihadapan wanita. Otak pintar ku langsung bekerja, “Untuk bantuan....kalo ada masalah dengan motorku, kan aku bisa tanya-tanya kamu.”


Mia hanya tertawa kecil, dia kembali menyibukkan diri. Aku tak berani lagi menggangunya. Sesekali mata kami bertemu, ketika dia mencuri pandang ke arahku, sedangkan mataku tak pernah lepas dari melihat wajahnya.


Kemudian dia mengajakku mendatangi Mia, ia menconteng setiap yang barang yang di ganti kemudian menandatanganinya. Mia dengan cekatan menghitung jumlah harga yang harus ku bayar, lalu menyodorkannya.


Ku bayar harga yang tertera, Mia menempelkan tanda lunas, serta menuliskan barisan nomor di belakang kertas.


“Itu nomor hapeku,” ucapnya sambil tersenyum malu.


Sejak saat itu aku dengan rutin menghubunginya. Mengantarkan dia pulang, bermain ke rumahnya. Ketika ku beranikan diri, meminta dia menjadi pacarku, dia pun mengangguk mengiyakan.


Mia mengenalkan ku hampir pada semua keluarganya, sedangkan aku belum berani mengajaknya ke rumah. Aku takut rahasia yang selama ini ku simpan terbongkar. Aku tidak siap jika ditinggalkannya. Beberapa kali dia menanyakan keseriusan, karena tidak terlihat niat ku untuk mengajaknya menemui orangtuaku.


Minggu depan Mas Indra akan menikah, kakak tertuaku itu akan menikahi wanita pilihannya. Di rumah mulai ramai untuk menyiapkan acara pestanya. Aku mendatangi Mama yang tampak sibuk, “Ma, Wandi sekarang udah punya pacar.”


“Oh ya,” Tidak ada kekagetan di wajah Mama. Ini bukan pertama kali aku berpacaran, sudah banyak wanita yang aku kenalkan pada Mama sebagai pacar.


“Kali ini, Wandi serius Ma!,” ucap ku.


“Ini juga bukan untuk pertama kalinya kamu bilang serius,” jawab Mama melihat ke arahku.


“Beneran Ma, Aku serius kali ini.”

__ADS_1


“Jika serius, bawalah kesini! Kamu bisa langsung mengenalkannya pada keluarga kita. Pada acara Mas Indra nanti pasti banyak keluarga yang datang,” sahut Mama.


“Siaapp...Baik Ma.”


Aku beranjak pergi, ketika Mama kembali memanggilku, “Apakah kamu udah bilang siapa kamu?”


“Maksud Mama?” tanya ku balik.


“Bahwa kamu seorang Duda dan beranak dua!”


“Aku belum berani Ma.”


Aku cepat pergi sebelum Mama kembali memberikan ku nasehat panjang.


***


Aku mengenalkan Mia pada seluruh keluargaku. Beberapa kali mereka menggoda kami, ku lihat Mia hanya tersenyum malu. Dia menanyakan nama dan hubungan keluarga pada setiap orang yang ku kenalkan. Ketika mengenalkan Rian dan Rani ku bilang saja mereka anaknya Mas Indra. Aku belum berani berterus terang untuk saat ini.


Papa tampak tidak menyukai Mia. Dia takut hubungan ku kali ini akan berakhir sama dengan sbelumnya. Papa pun melihat Mia, bukanlah menantu idamannya. Orang tua Mia dianggap Papa tidak selevel dengannya. Tapi, aku tidak peduli aku yang akan menjalani. Papa dan Mama ku paksa merestui. Karena setelah pernikahan Mas Indra aku akan segera melamar Mia. Aku ingin Mia menjadi istriku seutuhnya. Aku tidak ingin lagi melihatnya di goda oleh laki-laki lain.


***


Setelah menerima lamaranku ternyata Mia mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa aku adalah seorang duda beranak dua. Tapi, setelah ku berikan rayuan maut dan kata-kata indah sekaligus permohonan yang terlihat penuh penyesalan, membuatnya luluh ingin tetap melanjutkan hubungan ini.


***


Setelah menikah aku tak ingin lagi Mia bekerja. Aku tak ingin dia digoda atau bertemu teman-temannya. Beberapa kali dia protes, tapi selalu bisa ditenangkan Mama. Masalah selalu datang di keluarga ku.


Mia terlalu banyak meminta, minta uang belanja, padahal dia bebas makan di rumah Mama. Kadang dia juga minta dibelikan baju, untuk apa baju, toh dia hanya di rumah saja, tidak kemana-mana karena aku pun jarang mengajaknya ikut serta. Aku lebih senang sendiri saja berkumpul dengan teman-teman ku.


Badan Mia yang dulu berisi, ku lihat kini tak menarik lagi. Mukanya juga tak enak untuk di pandang. Aku lebih suka memandang teman-teman wanita ku, yang terlihat cantik dan menarik.


Apalagi setelah Mia melahirkan dua anak kami. Dia terlalu sibuk dengan anak-anaknya. Aku semakin muak jika di dekatnya. Badannya sudah jarang terurus, rumah sering berantakan, pakaianku kadang belum digosoknya, banyak kesalahan Mia yang tidak ku sukai.


Wajar saja aku lebih memilih, bermain di luar bersama teman wanita yang bisa ku ajak kemana saja. Kenapa dia harus marah? seharusnya dia senang karena aku disukai banyak wanita.


Seringkali dia menangis pada keluarga ku, mengadukan ulah ku. Padahal sebelumnya telah ku ceritakan semua keburukan Mia. Mama pasti lebih mempercayai anaknya dibanding Mia. Mama meminta Mia bersabar dan menjadi istri Sholihah yang patuh pada suami.


Mia tidak pernah lagi mengadu, mungkin dia sudah tau bahwa istri yang baik harus menuruti semua kemauan suaminya.


***


Hari itu aku pulang, tak ada yang membukakan pintu seperti biasanya. Aku begitu kesal, memaki Mia yang ternyata telah berani meninggalkan rumah membawa anak-anak kami.

__ADS_1


Ada rasa senang saat dia pergi, aku bisa melanjutkan kesenangan tanpa ada yang menceramahi. Tapi setelah beberapa bulan aku mulai bosan sendiri. Aku harus kembali menjemput Mia. Aku harus bisa membawanya kembali kesini bagaimanapun caranya.


__ADS_2