Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Teman Cerita


__ADS_3

Selamat Membaca semoga sukaa❤️🤩🤗


**********************


"Hebat apanya buk?" ku ulangi pertanyaan ke Buk Siti.


"Iya, masih muda tapi mau menikah dengan duda, padahal kamu bisa loh dapat yang lebih baik," ujar Buk Siti.


Aku hanya tertawa, "Mas Wandi juga baik, buk," "tapi, dulu," batin ku.


"Ayam nya belum datang, Mbak Mia, tunggu om datang dulu ya, kamu pilih-pilih sayur dulu," ujar Buk Siti, melihat ku celingukan.


"Masih lama gak buk?" Aku takut Mas Wandi bangun melihatku belum datang, dia berpikir macam-macam.


"Sebentar lagi, tadi bannya bocor jadi harus di tambal dulu," jawab Buk Siti.


"Pagi Mbak Mia," Mbak Dela tetanggaku datang.


"Pagi juga Mbak Dela," jawabku sambil tersenyum.


"Udah bilang papa Dika, kalo mau ikut arisan?" Tanya Mbak Dela.


"Belum Mbak, hehehehe lupa," jawab ku.


Padahal sebenarnya aku tak berani menanyakannya.


"Sayang banget, padahal sabtu depan udah mulai yang pertama loh," ujar Mbak Dela.


"Gak apa-apa Mbak, kalo boleh nanti aku ikut di tengah jalan aja," jawabku sambil tetap tersenyum


Suami Buk Siti datang....


Ku pilih ayam sekilo, mudah-mudahan cukup sampai malam.


Setelah membayar aku izin pamit, Mbak Dela mengejar ku,

__ADS_1


"Mbak Mia, tunggu dong! kita kan se arah,"


"Iya Mbak Dela, ayoo!" ajak ku.


Kami berjalan beriringan pulang, rumah kami bersebelahan tapi aku belum pernah main ke rumah Mbak Dela, cuma saling menyapa lewat pagar rendah di samping rumah kami.


"Mbak Mia, maaf ya, bukannya mau ikut campur urusan rumah tangga mbak, setiap hari saya dengar Papa Dika sering marah-marah, saya kasihan sama Mbak Mia," Ucap mbak dela menatapku sedih.


Aku hanya bisa diam, wajar saja Mbak Dela mendengarnya, rumah kami yang hanya dibatasi tembok, Mas Wandi pun sering marah di depan pintu rumah.


"Gak apa-apa Mbak, mungkin karena memang selama ini aku yang salah, sehingga membuat Mas Wandi marah," aku mencoba menutupi masalahku.


"Kalo Mbak Mia mau bercerita, aku akan mendengarnya, untuk mengurangi beban Mbak," Mbak Dila mengusap pundak ku.


"Mbak, aku duluan yaa," Mbak Dila pamit padaku.


Ternyata kami telah sampai di depan rumah ku. Mas Wandi telah berdiri di depan pintu, terlihat kemarahan di wajahnya, pasti Mbak Dela juga melihat, semoga ini tidak menambah rasa curiganya pada rumah tangga kami.


"Maaf Mas, tadi ayamnya belum datang," kataku.


"Iya Mas, maaf," jawabku.


"Kopi aku mana?" dia kembali berteriak.


"Iya Mas, ini aku buatkan," aku segera berlalu ke arah dapur.


*******************


"Mama mau masak apa?" Rani sudah berada di belakangku.


"Mau masak ayam, enaknya di apa in yah?" tanya ku.


Kiyah tidak mau di letakkan, dia belum terbiasa lihat orang rame si rumah.Terpaksa aku masak sambil menggendongnya.


"Ayam goreng tepung lagi," kata Rani dan Diah serempak.

__ADS_1


Mereka kemudian membantu ku membersihkan ayam.


"Mas, tolong bantu pegang Kiyah sebentar! aku mau masak," pintaku pada Mas Wandi.


Mas Wandi mencoba mengambil Kiyah dari ku, sebentar lagi dia berangkat kerja, aku belum mulai masak. Dika tidak mau sekolah hari ini, katanya mau main dengan Bang Rian.


"Mia, cepat dong sarapannya mana?" Mas Wandi sudah berteriak lagi.


"Iya Mas, sebentar lagi!" jawabku.


"Sudahlah, aku mau pergi, kamu jadi istri selalu lamban," Mas wandi memarahiku di depan anak-anaknya.


Aku hanya tertunduk malu, rasanya ingin menangis, beruntung Rani cepat mengalihkan suasana.


"Pa, nanti kita jalan-jalan ya!" Ajak Rani.


"Nanti Papa usahakan pulang cepat ya," jawab Mas Wandi sambil mengusap rambut Rani.


"Benar ya Pa?" tanya Rian meyakinkan Papa nya lagi.


"Iya, sudah sana mandi! Papa mau berangkat kerja," Mas Wandi mengambil kunci mobilnya dan menyerahkan Kiyah pada ku.


************


Aku kembali melanjutkan masak ayam yang sudah ku beri tepung, dua kali goreng lagi, ini akan selesai, sambil menggendong Kiyah yang tak mau lepas dari pelukan ku, badanku terasa remuk ditambah sakit hati karena dikatai Mas Wandi.


Ku pisahkan ayam goreng ini menjadi 2 bagian, untuk makan malam dan siang, sarapan tadi mereka sudah makan cemilan buatan ku. Untuk diriku sudah ku siapkan telur dadar yang dikasih banyak bawang, wanginya harum membuat lapar. Ku ambil nasi sepiring, makan di sudut dapur, sambil tetap menggendong Kiyah, aku terlihat sangat menyedihkan.


******************


**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.


Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali 🙏🏾🙏🏾🙏🏾.


Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaa🤗🤗***.

__ADS_1


__ADS_2