
Happy reading semoga suka 💜❤️
..........
Wira datang tidak lama setelah Tian dan Wulan pergi, dia membawa tiga bungkus nasi di tangannya.
"Tian kemana, Mia?" tanya Wira yang melongok kan kepalanya ke ruangan ku.
"Pergi, katanya sih mau makan di luar!" sahut ku masih di ruangan, berusaha menyalin angka-angka yang ada di kertas ke komputer di depan ku.
Terdengar suara plastik yang dibuka pelan, cepat ku selesaikan pekerjaan ku, kasihan jika Wira harus makan sendiri. Tinggal sedikit lagi, ternyata lebih mudah jika sudah mengerti, walaupun jari ku masih susah mengikuti mata yang masih mencari-cari huruf dan angka yang ku inginkan.
"Ayo Mia, kita makan aja! gak usah tunggu Tian!" ucap Wira yang mulai membuka bungkusannya.
"Yuk! sepertinya Tian gak akan makan disini juga, tadi ada temannya Wulan kesini!"
Menyebut kata Wulan, seperti ada perasaan cemburu yang terselip di ucapan ku. Ah, tapi siapa aku yang harus cemburu.
"Wulan itu pacarnya Tian."
Wira mengucapkan tanpa menoleh, sepertinya dia tidak setuju, penekanan kata 'teman' tadi, mungkin dia berusaha membuatku tidak terlalu berharap pada Tian.
"Ooo,"
"Kenapa, Ooo?"
"Oo itu tanda aku udah ngerti, Wulan itu pacarnya Tian."
"Cemburu yaa?!"
Wira tampak tertawa kecil, dia membaca ekspresi di wajahku, aku langsung menunduk malu dan kembali konsentrasi pada makanan di depanku.
__ADS_1
"Lah ngapain cemburu?! Kami hanya berteman."
Dengan cepat ku selesaikan makan, sebentar lagi orderan harus segera dikirim, barang di gudang Tian sudah mulai banyak yang kosong. "Makasih ya Wira! Aku mau lanjut kerja lagi!"
"Trus ini jatahnya Tian gimana?"
"Untuk kamu aja! Cacingnya masih lapar tuh!" ucap ku sambil tertawa.
****
Jam 16. 20, aku udah selesai merapikan gudang, meletakkan barang yang lama di bagian depan biar lebih mudah mencarinya tidak tertumpuk dengan barang yang akan datang besok.
"Hai, belum pulang?" Tian sudah berada di dekatku, Wira sudah pulang dari jam setengah 4, karena kerjaannya sudah selesai.
"Ini mau pulang," ku ambil tas kecil yang ku letakkan di dalam kemari, "Kamu yang kunci pintunya ya!"
"Biar ku antar! Sebentar aku kunci dulu!"
"Tadi aku sengaja kesini, biar bisa antar kamu pulang!" tampak raut kecewa di wajah Tian.
"Maaf! kamu sih gak bilang!" ucap ku sambil tersenyum kecil.
Tin...tin....Tin...tin...
"Nah itu, ojeknya udah datang, aku duluan ya!" ku tinggalkan Tian yang masih terpana melihatku, "Bye Tian!"
*****
Malam ini Kiyah tertidur lelap di sampingku, tanpa beban, rasanya aku ingin jadi bayi lagi, bisa tidur dan makan tanpa perlu memikirkan cicilan. Mataku belum bisa di ajak tidur bermacam hal bermain di pikiran.
Teringat Dika yang hampir Dua minggu ini belum ku temui, bagaimana keadaannya saat ini? bahagia kah Dia? Sengaja ku biarkan tidak mendatanginya di rumah Mas Wandi, agar dia bisa terbiasa tanpa aku, yang dianggap tak mampu merawatnya. Senin kemaren hari pertama nya masuk sekolah, siapa yang mengantar dan menjemputnya?
__ADS_1
'Mama rindu Dika,' gumamku sedih.
Tiba-tiba terlintas bayangan Tian bersama Wulan tadi siang. Mengapa Tian tidak pernah bercerita dia sudah punya kekasih? Kenapa dia masih sering menggoda? membuat hati ini ingin berlabuh ke hatinya.
Ah, siapa aku?! tak pantas aku punya harapan lebih. Sampai saat ini statusku tanpa kejelasan, tergantung tak bertali. Aku tak bisa mengurus perceraian ini, karena buku nikah sampai saat ini masih dipegang Mama. Menikah tapi tak bersuami. Janda tapi tak ada bukti.
"Mia, kamu gak mau cerita masalah mu?!" ucap Tian kala itu.
"Nanti aja Tian, jika semuanya udah jelas!"
"Harus kamu yang membuatnya jelas!" Tian bicara tegas, "Jangan mau terus disakiti!"
Tian tampak kesal melihat ke arahku, mungkin dia membenci kebodohan yang terus ku lakukan. Mengalah dan menyerah dan membiarkan diri kalah.
Dalam pernikahan harusnya tidak ada istilah menang kalah, semua pihak harus bisa menempatkan diri pada posisinya masing-masing. Tian pasti belum mengerti dia tidak pernah menikah.
Aku tarik nafas dalam dan menghembuskan nya berkali-kali berharap lepas juga beban yang kurasakan. Kini pikiranku kembali teringat gandengan Wulan di pinggang Tian.
Mereka terlihat serasi dengan wajah dan tinggi yang hampir sama. Mereka juga selevel tingkat pemikiran dan tingkat statusnya. Aku harus bisa mendoakan Tian bahagia. Aku harus bisa melupakan perasaan ku pada Tian yang mulai tumbuh kembali sejak bisa melihatnya lagi.
Ku tatap cermin yang ada di kamarku dan melihat ke wajahku.
"Hei Mia, tidak sepantasnya kamu berharap terlalu jauh pada Tian. Bagaimana mungkin Tian bisa menyukaimu? Status yang tak ada kejelasan, takkan ada laki-laki yang mau serius denganmu. Apalagi ada anak dua yang bisa membuat orang ilfill di dekatmu. Bisa jadi selama ini Tian hanya kasihan melihat nasibmu. Jadi, jangan berharap lebih, kamu tak pantas untuknya!"
Aku harus bisa menghilangkan rasa ini. Tian adalah orang baik yang kasihan padaku. Matanya ini ku paksa tidur, karena pikiranku sudah lelah untuk berpikir.
Bersambung....
*****
Dengan senang hati menerima kritik dan saran, baru belajar menulis, kemungkinan banyak kesalahan dalam penulisan dan isi bacaan. Author sangat berterima kasih sekali.
__ADS_1
Bantu like dan coment juga yaa ❤️💜