
Setelah Mama dan kak Yani pulang, ku lanjutkan menyelesaikan adonan donat ku. sore ini harus di antar, tiba-tiba Dika merasa bosan dan ingin terus di gendong, aku butuh seseorang yang mau mengajak Dika main, aku teringat Septian, tapi..... Seandainya mama tidak memberikan ultimatum, mungkin akan suruh dia datang saat ini.
Pekerjaan ku akhirnya selesai, donat ini harus segera di antar, sedangkan Dika masih tidur, ku titipkan Dika sebentar ke buk Yuli, tetangga baruku.
"Buk titip Dika sebentar yaa, Mia mau ngantar donat ini ke ujung simpang sana, mudah-mudahan dia tidak bangun, sebelum Mia datang."
"Ya gak papa Mia, pergilah," jawab buk Yuli.
"Makasih Buk, maaf merepotkan," sambil ku keluarkan sepeda dan ku ikat kotak donat di boncengan belakang.
Sambil mengayuh sepeda ku resapi perjalanan hidup ku, begitu banyak cobaan yang datang, kebahagian selalu cepat tergantikan dengan kesedihan, air mata ku menggenang di mata, mataku jadi buram, daannnn........
Bruukkkk......
Aku jatuh bersama sepeda ku, donat terlepas dari ikatannya dan susunan nya hancur, hanya beberap yang bisa terselamatkan, topingnya sudah tak jelas lagi warnanya. Ku beranikan tetap mengantarkannya sesuai janji ku.
"Buk, maaf tadi saya jatuh, donatnya rusak hanya beberapa buah yang masih cantik di lihat, kalo ibuk berkenan ambil ini aja," tak berani ku tatap wajah ibuk itu.
"Kamu gimana sih Mia, kan janjinya 50 buah, yang bagus cuma 10, berarti 40 lagi aku harus cari lagi nih, padahal acara sebentar lagi dimulai, gak jadi deh, aku gak mau ambil, nanggung......biar ku beli di tempat lain." Ibuk itu terus marah.
Aku gak mungkin memaksanya, ini kesalahan ku, ku tutup kembali kotak, dan kembali ku ikat ke boncengan sepedaku, dengan air mata yang telah menetes, aku pamit.
"Permisi buk, terimakasih."
__ADS_1
Ya Allah semoga rezeki ku masih ada si tempat lain.
Alhamdulillah Dika masih tidur saat aku sampai rumah, ku tawarkan donat pada buk Yuli sebagai ucapan terimakasih telah bantu jagain dika,
"Buk, ini ada 10 donat yang masih bagus, tadi ibuknya gak jadi ambil, ini untuk buk Yuli aja."
"Gak usah mia, ibuk ikhlas kok," buk Yuli menolaknya
"Tolong ambil aja buk, biarlah untuk yang di rumah ini aja," sambil ku tunjuk 40 buah lagi yang sudah rusak.
"Kamu sudah susah payah bikinin nya biar ibuk ganti aja yaa," buk yuli berlalu ke dalam rumahnya.
Aku berjalan pulang, kejadian tadi membuat ku lelah, mengalahkan rasa luka yang ada.
"Terimakasih buk", hanya itu yang bisa ku ucapkan.
**************""""
"Maaf Tian, kamu gak usah datang lagi."
"Kenapa Mia? ada yang marah?" tanya Tian.
"Iya, tak baik, suamiku sedang dalam penjara, aku berdua an dengan lelaki lain disini, apa kata orang," jawabku.
__ADS_1
"Aku hanya ingin main dengan Dika," bela Tian.
"Tolonglah Tian, aku lelah harus dimarahi ibu mertua ku, jika kamu terus datang aku juga akan jadi guncingan orang," ku mohon padanya.
"Mia, aku sedih melihat nasibmu, kenapa kamu tidak minta pisah?"
"Aku tak bisa, sekarang pulang lah," ku berdiri sambil memegang pintu depan, tanpa berani ku pandang wajah Tian.
Walau rasa ini ada yang hilang saat kamu melangkah pulang, maafkan aku septian kamu harus pergi.
Septian ternyata tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Jika kamu mau pisah dengan suami mu, aku akan menikahi mu Mia, sebentar lagi aku tamat, dan aku juga sudah bekerja di Sebuah kantor." Septian menatap ku tulus.
"Jangan ngaco Tian, pergilah, aku ini istri orang."
"Aku tak kan pergi dari sini," Tian tetap tak beranjak dari tempat duduknya.
"Terserah," aku masuk ke kamar sambil menggendong Dika, ku kunci kamar, berharap Septian beranjak pulang.
**************
Terimakasih yang udah menyempatkan baca tulisan perdanaku ini, 💜💜💜 kalau suka tolong like, vote dan komentarnya yaa
__ADS_1