Hati Yang Ku Pilih

Hati Yang Ku Pilih
Nasehat Dela


__ADS_3

Malam itu Mas Wandi tidak pulang ke rumah, aku tak berani menelponnya untuk bertanya. Ku coba menghubungi Mama Mas Wandi.


"Assalamualaikum Ma,"


"Waalaikumsalam, Mia, ada apa telpon malam-malam?" tanya Mama.


Ini udah jam setengah 2 malam, wajar Mama kaget menerima telpon dari ku.


"Mas Wandi belum pulang ma, hampir tiap malam begini," curhat ku.


"Wandi kan pegang jabatan penting di kantornya, jadi wajar selalu sibuk, apalagi ini kan akhir tahun." Mama mencoba menenangkan ku.


"Tapi Ma, perasanku gak enak, aku takut Mas Wandi kembali ke pergaulan nya yang lama," aku mencoba menyakinkan Mama.


"Biarlah besok Mama coba telpon Wandi, sekarang tidurlah!"


"Maaf mengganggu Mama, makasih ya Ma, Assalamualaikum," Ku tutup telpon.


Ku baringkan badan lelahku, di samping Kiyah dan Dika, kasihan sekali anak-anakku yang ingin sekali bermain dengan Papanya, tapi harus berbagi dengan kesenangan Papanya di luar sana.


Flashback Off


Mbak Dela masih setia mendengar ceritaku sambil sesekali mengusap-usap tangan ku.


"Maaf Mbak, aduh jadi cerita panjang lebar," aku tertawa ringan setelah melepaskan semuanya.

__ADS_1


"Sekarang udah mendingan kan Mbak, saat ada yang mendengar cerita kita, pasti semua terasa lebih ringan," sahut Mbak Dela.


"Iya Mbak, makasih ya," jawabku.


"Mbak kalo boleh saran, sebaiknya Mbak cari uang sendiri, biar Mbak tidak terlalu mengandalkan suami jika ingin sesuatu, apalagi, maaf... kalo suaminya tipe seperti Mas Wandi," kata Mbak Dela.


"Aku ingin sekali Mbak, tapi Mas Wandi melarang ku bekerja," jawab ku.


"Mbak jualan kue aja, aku pernah mencicipi donat yang Mbak kasih waktu itu, enak sekali loh."


"Tapi, aku takut Mbak, Mas Wandi akan marah besar jika dia tau."


Aku melihat ke langit-langit rumah, membayangkannya Mas Wandi marah, membuatku sangat takut.


"Diam-diam aja Mbak, pagi sebelum Papa Dika bangun Mbak antar aja donatnya ke warung Buk Siti," Mbak Dela masih berusaha mengajak ku menerima sarannya.


Yaaa... aku akan mencobanya, semoga saja Mas Wandi tidak tau.


"Ya udah, aku permisi dulu Mbak," ucap Mbak Dela.


"Makasih sarannya Mbak," ku ambil tangan Mbak Dela dan menciumnya hormat.


Umur Mbak Dela lebih tua dariku, anaknya semuanya sudah remaja. Suami Mbak Dela, Mas Ben sangat menyayanginya, terlihat dari wajah Mbak Dela yang selalu bahagia.


**********************

__ADS_1


Pagi ini.....


Aku bangun lebih pagi dari biasanya, Mas Wandi kembali pulang larut malam, aku gak tau apakah Mama jadi menegurnya atau tidak, aku sudah capek memberitahunya, hanya aku yang disuruh sabar.


Aku mulai membuat adonan donatnya, beruntung bahannya mudah di dapat, untuk modalnya aku pinjam dulu dari celengan Dika. Dika tak pernah lagi protes, mungkin dia juga kasihan melihat ku.


Kemaren sore aku sudah memberi tau Buk Siti akan menitip jualan ku di warungnya, Buk Siti tidak keberatan, malah terlihat sangat senang sekali, bisa membantu ku. Aku sangat bersyukur di kelilingi tetangga yang baik.


"Buk, ini aku titip 40 buah dulu ya Buk," ucap ku pada Buk Siti.


"Iya Mia, letakkan di depan ya, biar bisa langsung terlihat," jawab Buk Siti.


"Makasih banyak ya Buk,"


"Sama-sama Mia"


Aku terburu-buru pulang ke rumah, sebelum Kiyah dan Mas Wandi bangun aku harus sampai di rumah.


****************


Jangan bicara cinta, jika hanya memberi luka.


******************


**Author hanya penulis pemula yang memberanikan diri menulis novel disini.

__ADS_1


Jika ada penulisan, tanda dialog, penggunaan huruf besar yang salah, dimohonkan untuk bersedia mengoreksinya, author akan sangat berterima kasih sekali πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ.


Jika suka tolong juga berikan like, tanda cita dan vote nya yaaπŸ€—πŸ€—***.


__ADS_2