Hidup Kembali Di Tubuh Yang Berbeda S2

Hidup Kembali Di Tubuh Yang Berbeda S2
S2 Episode 11


__ADS_3

"Mereka mengejar hingga kemari?" tanya An An dengan suara berbisik.


"Mana aku tahu, aku tidak memiliki mata yang bisa menembus dinding!" sahut Dokter Hanz yang langsung menyambar tubuh An An.


"Paman Dokter, apakah rumahmu memiliki pintu belakang juga?" tanya An An penasaran dan sedikit berharap.


Dokter Hanz menggelengkan kepala, dia menatap An An sambil berjalan menuju ke sebuah pintu.


"Sttt!"


Pria itu meminta An An untuk diam karena dia akan menyembunyikan bocah itu di dalam sebuah lemari besi.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari sini sebelum aku mengeluarkan mu. Kau mengerti bocah?" ucap Dokter Hanz yang baru saja menurunkan tubuh An An.


An An mengangguk patuh, namun di dalam pikirannya, bocah itu sudah berencana untuk keluar sebelum Dokter Hanz membukakan pintu untuk tamu tak diundangnya itu.


"Paman Dokter, permen lollipop mu di mana?" tanya An An yang ingin menghemat permennya.


"Kenapa kau malah bertanya hal yang tidak penting seperti itu?" sahut Dokter Hanz dengan wajah kesal.


"Sebaiknya Paman Dokter menghabiskan permen itu." ujar bocah itu memberi petunjuk.


"Ckkk...! Rasanya sangat aneh, aku tidak suka!" jawabnya lalu berkata kepada An An. "Cepat sembunyikan dirimu. Aku akan pergi membuka pintu."


"Ting Toooongggg!"

__ADS_1


"Ting Toooongggg!"


"Bughhh Bughhh Bughhh!"


Bel pintu kembali berbunyi, kali ini lebih lama di sertai suara gedoran pintu.


"Ingat, habiskan permennya!" seru An An sebelum menutup pintu lemari.


Dokter Hanz berjalan ke pintu depan, dia mengintip dari lubang di pintunya untuk melihat berapa jumlah tamu yang tak di undangnya itu.


"Ya ampun, kenapa banyak sekali?" gerutunya ketika melihat banyak pria di depan pintunya yang memakai pakaian serba hitam dengan kaca mata hitam pula.


"Apa sebaiknya aku memanggil polisi?" pikir Dokter Hanz yang sudah bersiap menekan ponselnya.


Pintu tiba-tiba saja terbuka karena di dobrak dengan kuat dari luar. Dokter Hanz terperanjat, dia memundurkan langkahnya secara perlahan hingga mencapai dinding tembok.


"Di mana bocah itu?" tanya seorang pria kepada Dokter Hanz.


"Bocah? Siapa maksud kalian?" sahut Dokter Hanz yang berpura-pura tidak tahu.


"Aku benar-benar tidak tahu siapa maksud kalian." ujarnya berbohong.


"Aku melihat kau membawanya! Sebaiknya kau serahkan bocah itu kepada kami sebelum kami membunuhmu!" ancam pria itu dengan wajah yang menyeramkan.


"Kalian pasti salah orang, sejak tadi aku hanya sendirian. Tidak ada bocah yang kalian maksud." ujar Dokter Hanz yang mulai ketakutan karena para preman itu mulai mendekat.

__ADS_1


"Baaammmm!"


Suara ledakan dari bola asap yang di lempar oleh An An membuat para pria dewasa itu terkejut. Mereka mengalihkan tatapan ke arah bocah tersebut secara serentak.


Bukannya takut, An An malah melambaikan tangannya. Dia memancing para pria itu agar mendekat ke arahnya.


Sementara si penakut Dokter Hanz sepertinya salah paham, dia mengira An An sengaja memancing para preman untuk pergi ke arahnya agar Dokter Hanz bisa melarikan diri. Kenyataannya, An An memang memancing kumpulan laki-laki berbaju hitam itu untuk mendekatinya agar mereka menghirup asap yang sudah menyebar di sekitarnya.


"Bocah, cepat kabur!" teriak Dokter Hanz yang langsung berlari menghampiri An An.


"Jangan mendekat!" jerit An An memperingatkan pria yang berprofesi sebagai dokter forensik tersebut.


Tetapi kepanikan dari Dokter Hanz membuat dia tidak mengerti peringatan dari sang bocah. Dia mengira An An melarangnya mendekat karena ingin melindungi dirinya dari para preman. Laki-laki itu pun tetap berlari ke tempat An An berdiri, di ikuti oleh para preman yang menyusul dari belakang.


"Brughhh! Brughhh! Brughhh!"


Para pria dewasa mulai berjatuhan, ambruk di lantai setelah menghirup asap yang di sebarkan oleh An An.


Bocah itu memegang dahi sambil menggelengkan kepala melihat Dokter Hanz yang terlalu dungu untuk mengerti peringatan darinya. Pria itu pun ikut ambruk bersama para preman berbaju serba hitam.


An An berjalan ke tempat ambruknya tubuh sang dokter, dia lalu berjongkok di depan pria itu.


"Ck...Ck... Ck...! Mana ada guru yang bodoh begini!" seru An An sambil menggeleng-gelengkan kepala.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2