
An An mengirim pesan itu ke nomor ponsel Lu Xuan Cheng, ia lalu berdecak sambil bergumam sendiri di dalam kamarnya yang terasa sepi.
"Ckk... Aku tidak akan memanggil orang ini dengan panggilan Daddy sebelum mengetahui semuanya dengan jelas. Apakah dia benar-benar membuang Mommy dan aku yang merupakan darah dagingnya?"
An An terus memikirkan hal-hal yang mungkin saja menjadi kesalahpahaman di antara kedua orang tuanya. Beberapa menit berlalu, bocah yang kelelahan itu akhirnya tertidur dengan ponsel yang masih tergenggam erat di tangannya yang mungil.
Sementara itu, di sebuah ruangan gelap yang hanya di terangi dengan cahaya lampu malam berwarna biru. Lu Xuan Cheng duduk di sebuah kursi yang berada di depan meja kaca. Tangan kanannya memegang sebotol minuman keras yang isinya sudah berkurang setengah bagian.
Pria itu merenungkan tentang masa lalunya. Ia merenungkan tentang Su Li Xia, wanita yang pernah ia cintai dan anak mereka yang lucu dan menggemaskan yang belum pernah mendapat pelukan darinya.
Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan waktu yang telah berlalu, tapi ia berharap mereka bisa bertemu lagi dan merawat An An bersama-sama.
"Aku pernah berpikir jika wanita itu hanya seorang wanita licik yang berpura-pura bersikap polos dan baik hati di depan umum. Tetapi, entah mengapa di dalam hatiku, aku merasa dia bukanlah wanita yang seperti itu. Beberapa tahun ini, tidak ada satupun hari di mana aku bisa menyingkirkan wajah wanita itu dari pikiranku!"
"Drtttt! Drrttt!"
Ponsel Lu Xuan Cheng bergetar, dia menoleh menatap layar ponsel yang berada di atas meja. Lu Xuan Cheng menyambar ponsel itu lalu membuka pesan masuk yang muncul di depan layar.
"Nomor tak di kenal?" gumam pria itu.
Merasa pesan dari nomor asing itu tidaklah penting, Lu Xuan Cheng mengabaikan pesan tersebut tanpa membaca isinya. Dia kembali meneguk minuman keras yang berada di tangannya. Setelah menghabiskan semua isi minumannya, pria itu meletakkan botol tersebut di atas meja.
Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, lalu menengadahkan wajahnya, menatap ke atas langit-langit.
"Kehidupanku sangat datar dan membosankan sebelum aku bertemu dengannya. Setelah mengenal wanita itu, hidupku mulai berwarna dan dipenuhi dengan penantian yang membuat jantungku berdebar setiap kali aku menatap matanya. Namun, ketika aku kehilangan dirinya, aku merasa hidupku seperti jatuh ke dalam neraka yang paling dalam." kata-kata dalam hati Lu Xuan Cheng.
"Ting Tong!"
Bunyi bel pintu kamar hotel Lu Xuan Cheng berbunyi, namun ia tidak peduli. Pria itu masih duduk diam di kursi tanpa sedikit pun niat untuk membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ting Tong!"
"Ting Tong!"
Bel pintu terus berbunyi, membuat suasana hati pria itu semakin buruk dan kesal. Dia bangkit dari kursi lalu berjalan ke pintu kamar kemudian menarik pintu secara kasar.
Di depannya, ia melihat George yang tampak cemas dan panik.
"Tuan Muda, terjadi masalah dengan Nona Su Li Xia!" ucap pria itu melaporkan informasi yang baru saja dia terima.
Mata dingin Lu Xuan Cheng kini menatap tajam pria di depannya, dengan segera ia bertanya kepada pria itu. "Apa yang terjadi dengan wanita itu? Bagaimana keadaannya? Apakah dia terluka?"
"Nona Su Li Xia baik baik saja, kami secara kebetulan melihat keributan yang terjadi di jalan raya. Ternyata Nona Su Li Xia juga berada di sana dan beliau adalah target dari salah satu pembunuh yang ditugaskan oleh ... "
George menutup rapat bibirnya. Dia tidak berani melanjutkan pembicaraannya sebab takut Tuan Muda di depannya akan segera mengamuk.
"Oleh siapa?" tanya Lu Xuan Cheng dengan suara yang meninggi.
"Bammm!!!"
Lu Xuan Cheng memukul daun pintu dengan keras, mengeluarkan kekesalan dan amarahnya.
"Di mana dia?" tanya laki-laki itu kepada asistennya yang saat ini berdiri gugup di depannya.
"Maaf Tuan, kami kehilangan jejak Nona Su Li Xia ketika mengikuti mobilnya." jawab George dengan perasaan menyesal karena lagi-lagi ia gagal menemukan Su Li Xia.
"Selidiki apa yang ingin dilakukan oleh Lu Cin He! Karena dia mencoba menginjak ekorku, aku akan menunjukkan kepadanya, apa yang akan terjadi apabila dia mengganggu singa yang sedang tertidur!"
George mengangguk dan pergi meninggalkan kantor Lu Xuan Cheng untuk memulai penyelidikan. Lu Xuan Cheng merenung sejenak, memikirkan cara terbaik untuk melindungi Su Li Xia dan anak mereka dari ancaman yang datang dari Lu Cin He.
__ADS_1
Namun, tak lama setelah itu, Lu Xuan Cheng teringat akan pesan yang masuk dari nomor asing di ponselnya. Dia segera berbalik dan berjalan cepat ke dalam kamar, lalu meraih ponsel yang ia letakkan sembarangan di atas meja.
Lu Xuan Cheng membuka pesan tersebut dan mulai membacanya. Matanya yang sebelumnya dingin dan kaku kini mulai berbinar cerah, dan ia tak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya setelah menebak siapa pemilik nomor asing tersebut.
Lu Xuan Cheng menghubungi nomor ponsel An An yang dia gunakan untuk mengirimkan pesan. Dia menelepon beberapa kali namun tidak ada yang menjawab panggilan telepon tersebut.
Karena tidak ada jawaban, pria itu lantas mengirim pesan balasan kepada An An.
"Omong kosong apa yang kau katakan? Mana mungkin aku mengirim pembunuh untuk menyakiti kalian. Untuk sementara, jangan pergi ke mana-mana tanpa perlindungan. Aku akan membereskan orang-orang itu. Dan juga, Bocah! Kau harus lebih sopan ketika berbicara dengan Ayahmu!"
Setelah mengirim pesan kepada An An, Lu Xuan Cheng menelepon nomor seseorang yang bernama Lord di ponselnya.
"Selidiki nomor yang aku kirimkan kepadamu! Cari lokasi mereka sekarang juga!" ucap pria itu setelah terdengar suara jawaban dari ponselnya.
"Baik, Tuan Muda!"
Lu Xuan Cheng memutuskan sambungan telepon, dia melempar ponsel ke atas sofa yang berada di depannya.
Wajah suram pria itu kini terlihat lebih bahagia, ia membuka pakaiannya lalu berjalan ke kamar mandi. Pria itu membersihkan diri di bawah guyuran air hangat, beberapa kali dia tersenyum-senyum sendiri ketika memikirkan pertemuannya dengan wanita yang sudah lama ia cari-cari.
Selesai melakukan ritual mandinya, ia lalu keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang baru saja ia ambil dari dalam lemari. Pria itu mengambil ponsel, kunci mobil dan dompet yang dia lemparkan ke atas sofa lalu berjalan ke arah pintu kamar.
"Kumohon, biarkan aku bertemu dengannya!" gumam pria itu lalu berjalan keluar dari kamar.
"Drtttt! Drtttt!"
Lu Xuan Cheng merasakan getaran dari ponselnya, buru-buru ia merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel dari dalam sana.
"Satu pesan masuk!" tertera di depan layar.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^