
Lu Xuan Cheng menatap ke dalam kamar, melihat ruangan yang akan dia gunakan bersama Su Li Xia. Di dalam kamar, terdapat sebuah ruangan yang terbuat dari kaca.
Ruangan kaca terletak di samping kiri tempat tidur utama, di dalamnya hanya terdapat sebuah tempat tidur yang menempel di dinding kaca sebelah kanan. Tempat tidur Lu Xuan Cheng dan tempat tidur Su Li Xia dibatasi oleh dinding kaca yang membuat pria itu mengerutkan alis dan dahinya.
Apalagi ruang kaca di dalam kamarnya memiliki pintu tersendiri yang bisa di kunci dari dalam. Membuat pria itu semakin frustasi.
Lu Xuan Cheng memegang dan mengelus dahinya yang mengusut, ingin rasanya ia menyingkirkan ruang kaca di dalam kamarnya itu sekarang juga. Namun saat memikirkan konsekuensi dari keinginannya tersebut, buru-buru ia melenyapkan pemikiran itu dari benaknya.
"Aduh, kacau sudah rencanaku untuk memiliki adik perempuan!" Batin An An dengan muka melongo.
An An melirik Daddy nya, dia menoel-noel pelan tangan sang Daddy yang masih terlihat kesal.
Lu Xuan Cheng menurunkan pandangannya, menatap An An yang saat ini tersenyum licik dengan sejuta akal bulus di dalam benaknya.
An An mengedipkan sebelah mata, dia menoleh ke ruangan kaca yang berada di dalam kamar orang tuanya lalu kembali menatap mata sang Daddy.
"Apa yang sedang dipikirkan oleh bocah ini? Apakah dia bermaksud untuk membantuku melenyapkan dinding kaca sialan ini?" Batin Lu Xuan Cheng.
An An mengangguk, seakan sedang menjawab pertanyaan yang keluar dari pikiran Lu Xuan Cheng.
"Anakku yang terbaik!" Ucap Lu Xuan Cheng dalam hati.
An An kembali ke dalam kamar untuk menjalankan misinya. Dia naik ke tempat duduk lalu berbicara dengan komputer yang berada di depannya.
"Maaf, sepertinya aku harus meledakkan kalian semua demi kebahagiaan keluargaku!"
An An mulai mengutak atik perangkat komputer di depannya.
Setelah beberapa saat berlalu, bocah itu berkata, "Aku merasa sayang karena semua ini adalah komputer baru. Tapi jika dibandingkan dengan adik perempuanku, semua ini tidaklah berarti!"
An An melompat turun dari kursi sambil memegang sebuah remot kontrol di tangan mungilnya. Dia berjalan keluar dari pintu kamar. Tanpa berbalik, bocah itu menekan tombol merah di remot.
Duuuuuaaaaaarrrrrr!
Ledakan besar terdengar dari dalam kamar An An.
Sementara itu, getaran yang diakibatkan oleh ledakan membuat seluruh gedung apartemen bergetar. Termasuk di dalam kamar Su Li Xia dan Lu Xuan Cheng.
Krakkkkk! Prangggggg!
Dinding kaca yang membatasi tempat tidur besar di dalam kamar akhirnya retak dan jatuh ke lantai. Kepingan dan pecahan kaca berserakan di lantai.
Su Li Xia membeku sejenak, menatap hasil karyanya yang hancur dalam sekejap mata sebelum sempat dia gunakan. Sedangkan Lu Xuan Cheng tersenyum dan bersorak riang di dalam hatinya.
__ADS_1
"Ini baru putraku yang jenius! Aku akan membelikan 1000 komputer sebagai hadiah untuk An An!" Batin Lu Xuan Cheng.
Su Li Xia mengepal erat jari-jarinya, dia beranjak ke kamar sang bocah nakal yang saat ini sedang dalam pelarian sebelum di tangkap oleh Mommy nya.
"Ling, ayo kita ke taman bermain!" Ajak An An saat menemukan Ling yang berada di dapur.
"Taman bermain?" Tanya Ling mengulangi perkataan An An.
Bocah itu segera mengangguk.
"Kenapa An an tiba-tiba mau ke taman bermain? Apakah dia kesepian?" Batin Ling.
"Baiklah, aku akan menemani An An ke taman bermain." Jawab Ling menyetujui permintaan sang bocah tanpa mengetahui apa-apa.
Ling menggendong An An dalam pelukannya, dia membawa bocah itu keluar dari apartemen lalu masuk ke dalam mobil yang terparkir di area parkiran.
"Ayo kabur secepatnya!" Teriak An An dalam hati.
Ling mengeluarkan ponsel, mengirimkan pesan singkat kepada Su Li Xia.
"Nona, saya membawa Tuan Muda ke taman bermain."
Selesai mengirimkan pesan, Ling melajukan mobil ke taman bermain yang terdekat. Saat itu, Su Li Xia baru saja tiba di pintu kamar An An. Dia membuka pintu dan mencari keberadaan bocah nakal itu di dalam.
Karena tidak menemukan An An di dalam kamar, Su Li Xia berkeliling untuk menemui Ling. Setelah beberapa kali mengelilingi semua ruangan, ia menyadari jika Ling juga tidak berada di sana.
Su Li Xia mengeluarkan ponselnya yang masih dalam mode silent. Dia membuka dan membaca pesan dari Ling.
"Bocah nakal itu kabur secepet kilat! Sebaiknya aku membereskan dulu kekacauan yang dia buat di rumah ini!" Gerutu Su Li Xia dengan wajah kesal.
Dalam perjalanan, An An mengirim pesan kepada Daddy nya.
"Daddy, aku kabur ke taman bermain."
Tidak lama setelah mengirimkan pesan kepada Lu Xuan Cheng, bocah itu mendapat balasan singkat dari sang daddy.
"10 Miliar!"
"Hahaha!" Tawa An An menggelegar di dalam mobil. Dia merasa senang mendapat uang jajan pertama dari daddy.
Tringgg! Tringgg!
Sebuah pesan singkat lainnya masuk lagi ke ponsel An An.
__ADS_1
"Setiap bulan"
An An mengedipkan mata beberapa kali, ia tercengang menatap layar ponselnya yang sedang membuka halaman pesan dari Lu Xuan Cheng.
"Jika ku baca sekaligus, 10 Miliar setiap bulan..." Ucap An An dengan suara datar.
Ling mendengar ucapan An An, ia langsung bertanya karena tidak mengerti apa maksud perkataan dari bocah itu.
"An An, apa maksudnya 10 Miliar setiap bulan?"
Dan bocah itu segera menjawab dengan bersemangat.
'Itu adalah uang jajanku dari Daddy!"
Ling menginjak rem mobil, dia menoleh ke belakang, menatap An An yang duduk di samping pintu.
"An An, apakah kamu salah membaca angka nol nya?"
An An menggelengkan kepala.
"Hanya ada satu angka nol." Jawab An An dengan nada menggemaskan.
"Satu nol?" Ucap Ling mengulangi kata An An.
Bocah itu tersenyum nakal, dia melanjutkan ucapannya yang sengaja diputus. "Tapi di belakangnya ditulis miliar. Hihi..."
"Nona memanjakan An An saja aku sudah merasa terlalu berlebihan, dan sekarang Tuan Lu Xuan Cheng malah lebih parah!" Batin Ling.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan mobil putih yang dikendarai oleh Ling. Dua orang pria berkacamata hitam turun dari mobil, mereka membawa sebuah kayu panjang di tangan masing-masing.
Kedua pria tersebut berjalan ke depan mobil putih, tanpa basa basi, mereka mengayunkan tongkat kayu dan mulai menghancurkan mobil milik Ling.
An An berdiri dari duduknya, dia melihat kedua pria di depan mobil yang sibuk memukul dan menghantam kuat mobil yang ia tumpangi.
"Siapa mereka?" Tanya An An tanpa sedikit pun rasa takut di wajahnya.
"Sepertinya anak buah dari Lu Cin He atau si wanita gila!" Jawab Ling berasumsi.
An An tersenyum licik, dia mengeluarkan sebuah tas kecil dari dalam kantong celana.
"Ayo kita bersenang-senang!" Ucap bocah itu sembari mengeluarkan 2 butir benda bulat dari dalam tas kecilnya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1