
Leona meletakkan sebelah tangannya di pundak Dokter Hanz, dia menekan pundak pria itu hingga tubuhnya menunduk dan berjongkok.
Sebuah tongkat kayu mengayun dari belakang kepala Dokter Hanz, Leona segera menangkap tongkat dengan tangannya yang lain. Dia melompat lalu berputar di udara, sebelah kakinya menendang tepat di wajah pria yang mengayunkan tongkat ke arah Dokter Hanz.
Pria itu jatuh tersungkur di atas lantai, dari hidungnya terlihat darah segar yang mengalir keluar. Tak terima dengan kekalahannya, pria itu kembali berdiri dan menyerang Leona secara bertubi-tubi. Leona yang berasal dari kelompok pembunuh hanya perlu menggunakan sedikit tenaga untuk menghindar dari semua serangan.
Setelah melihat adanya kesempatan untuk menyerang, Leona menginjak kaki pria yang menyerangnya, ia meninju wajahnya berulang kali hingga kedua pipi pria tersebut membengkak, membiru dan tampak babak belur dengan sangat kacau.
Sementara Dokter Hanz berjalan sambil berjongkok ke sudut ruangan, dia memperhatikan sekelilingnya dengan waspada. Memastikan jika tidak ada musuh yang akan menyerangnya lagi dari arah belakang.
"Bughhh!"
Pria bertubuh besar itu jatuh ke lantai dan pingsan seketika.
Leona berjalan cepat ke tempat Dokter Hanz berjongkok, ia menarik lengan pria itu lalu berlari keluar dari gedung pengadilan. Setelah masuk ke dalam mobil biru milik dokter muda di sampingnya, Leona segera melajukan mobil dengan kecepafan tinggi.
Beberapa pembunuh yang mengincar nyawa Dokter Hanz ikut berlari masuk ke dalam mobil dan mengejar mobil Dokter Hanz.
"Pegang erat-erat! Aku akan menambah kecepatan." ucap Leona yang masih fokus menatap ke depan.
"Jangan gila! Memangnya ini belum cukup cepat? Aku bekum mau mati!" teriak Dokter Hanz dengan wajah ketakutan.
"Diam dan pegangan yang kuat! Jika kau mati, itu salahmu sendiri!" sahut Leona tanpa menunjukkan ekspresi di wajahnya.
"Memangnya apa salahku? Aku hanya membuktikan kebenaran, memangnya itu salah?" ketus Dokter Hanz dengan wajah kesal.
"Hei, Dokter bodoh! Berapa banyak orang yang sudah kau singgung? Kau harus banyak bersyukur karena kau masih hidup sampai sekarang!" sindir wanita itu dengan nada tegas.
Leona menginjak pedal gas hingga kandas, Dokter Hanz ketakutan hingga menutup bibirnya rapat-rapat dengan pegangan yang semakin kuat.
Leona terus melaju dengan mobil biru yang ia kendarai, menyelip mobil-mobil di depannya yang terlihat seperti kura-kura besar yang sedang melintas.
__ADS_1
Dua mobil hitam tampak masih mengejar mobil Leona dengan gencar. Mereka mengikuti Leona yang menyalip semua mobil di depan tanpa mempedulikan para pengemudi yang memaki dan menyumpahi mereka dengan suara tinggi.
Begitu tiba di sebuah persimpangan tiga, Leona memancing kedua mobil untuk berbelok ke sebelah kiri, dia memutar arah dengan cepat lalu berbelok ke kanan. Kedua mobil hitam mencoba mengikuti mobil Leona yang berbelok, namun ukuran mobil mereka yang terlalu besar tidak cukup untuk berbelok tajam dalam satu putaran.
Leona menatap ke kaca spion, melihat kedua mobil hitam yang sedang sibuk memutar kepala mobil. Dia menaikkan sudut bibir kanannya, senyuman sinis dan licik membuat wajah cantik Leona terlihat menakutkan.
Kedua mobil hitam terjebak kemacetan yang mereka timbulkan akibat memutar arah. Salah satu pengemudi mobil hitam berdecak kesal sambil memukul setir di depannya. Sedangkan pria yang mengendarai mobil hitam lainnya terlihat marah dan emosi tinggi karena terus-terusan gagal dalam membunuh targetnya.
Mobil biru meluncur dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kedua mobil hitam yang mengejarnya Mereka akhirnya bebas dan langsung menuju ke rumah.
Dokter Hanz memukul-mukul pelan lengan Leona, memberi isyarat untuk memberhentikan mobil. Leona menyadari ada yang salah dengan laki-laki itu, ia segera menginjak rem lalu berhenti di tepi jalan.
Dokter Hanz buru-buru turun dari mobil, dia lalu menundukkan punggungnya dan mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.
"Hoekkk! Hoekkk!"
Leona yang masih duduk di kursi pengemudi hanya menggelengkan kepala sambil berkata "Lemah!"
Leona menarik beberapa lembar kertas tisu, ia turun dari mobil dan berjalan mendekati Dokter Hanz yang masih menunduk sambil memegangi perutnya.
"Apa aku terlihat baik-baik saja di matamu?" ucap pria itu dengan wajah lemah yang nada kesal.
"Ckk... Kau ini lemah sekali! Sepertinya aku harus mulai melatih tubuhmu agar tidak selalu menjadi beban!" ucap wanita itu dengan wajah serius.
Mendengar kata "melatih" membuat Dokter Hanz merinding, dengan cepat ia menolak tawaran dari Leona.
"Tidak perlu! Aku baik-baik saja sekarang, aku tidak memerlukan latihan. Terima kasih!"
"Menyedihkan!" gumam Leona sambil menggelengkan kepala.
Wanita itu kembali masuk ke dlaam mobil, ia menyalakan radio untuk mendengarkan berita sambil menunggu Dokter Hanz yang masih sibuk mengurusi perutnya.
__ADS_1
Kabar Ye Du Fan, walikota yang menjadi pelaku pembunuhan dan pemerkosaan telah tersebar luas melalui televisi dan media sosial. Secara serentak para penduduk di kota N meminta jabatannya di tarik kembali.
Leona tersenyum, dia menatap ke depan kaca, melihat pria lemah yang tiba-tiba tampak sedikit keren di matanya.
"Padahal dia lemah begini, dari mana ia mendapatkan keberanian untuk melawan seorang walikota?" batin Leona.
"Yah... Meskipun dia lemah, tetapi dia sudah berusaha memberikan keadilan bagi orang-orang yang sudah menjadi korban kejahatan. Aku bahkan tidak sanggup melakukan itu!" ucapnya lagi dalam pikiran.
Sementara itu, di sebuah ruangan luas yang hanya terdengar suara napas memburu dan desahaan dari seorang wanita dan seorang pria. Keduanya masih sibuk dengan aktivitas mereka di atas tempat tidur.
Su Li Xia memejamkan mata, menikmati semua sentuhan dan belaian lembut dari Lu Xuan Cheng. Pria itu semakin bersemangat untuk menikmati setiap inchi di tubuh sang wanita yang begitu menggoda.
Su Li Xia merasakan hatinya berdegup kencang ketika Lu Xuan Cheng semakin gencar memberikan belaian pada tubuhnya. Ia merasa tersentak ketika tangan pria itu menyentuh bagian intimnya, namun rasa nikmat seketika melanda tubuhnya.
Dengan penuh semangat, Lu Xuan Cheng mulai menjelajahi tubuh Su Li Xia dengan lidahnya yang lihai. Su Li Xia menahan erangan kenikmatan yang ingin keluar dari mulutnya, saat bibir Lu Xuan Cheng mengecup leher dan dada dengan lembut.
Su Li Xia merasa kepalanya berputar dan tubuhnya merasa seperti terbang ketika Lu Xuan Cheng memasukkan anggota tubuhnya yang mengeras ke dalam tubuhnya. Pria itu memompa dengan semangat dan ritme yang semakin cepat, membuat Su Li Xia terjerembab ke puncak kenikmatan yang luar biasa.
Setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, Su Li Xia merasa lapar dan haus akan cinta dari Lu Xuan Cheng. Ia membalas dengan memberikan belaian yang lembut pada pria itu, dan mereka berdua merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan.
Namun, Su Li Xia juga merasa sedikit cemas dengan apa yang telah terjadi. Ia berharap bahwa Lu Xuan Cheng akan menjadi pasangan yang baik dan setia baginya, dan tidak hanya meninggalkannya setelah mereka melakukan hal tersebut.
Keduanya berbaring dengan posisi saling berpelukan. Lu Xuan Cheng memejamkan matanya yang terasa lelah. Rasa lelah yang tiba-tiba menyeruak begitu ia menemukan wanita yang ia cari-cari selama 5 tahun belakangan.
Sementara Su Li Xia masih membuka mata sambil memeluk tubuh kekar Lu Xuan Cheng yang tidak tertutupi sehelai pun kain di permukaan kulitnya. Dia menatap ke arah tirai jendela, memikirkan semua hal yang sudah ia lalui dengan kesalahpahaman yang mendalam terhadap laki-laki di sampingnya.
"Xuan...!" panggilnya dengan nada lembut.
"Hmm?" sahut pria itu dengan suara seraknya.
Su Li Xia bangkit dan duduk dengan kepala tertunduk. Dia menatap mata Lu Xuan Cheng yang terlihat indah lalu bertanya kepada pria itu dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Haruskah kita menikah sekarang juga?"
^^^BERSAMBUNG...^^^