
An An sibuk membuat jebakan baru di depan rumah, sementara Leona dan Dokter Hanz berdiri di belakang An An, menatap dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh bocah itu.
Lu Xuan Cheng dan Su Li Xia duduk di ruang tamu, Ling menyajikan teh hangat dan makanan ringan di atas meja. Dia lalu berdiri di samping Su Li Xia sambil mendengarkan percakapan dari kedua pengantin baru di depannya.
"Kau mau terus berada di kota ini?" Tanya Lu Xuan Cheng setelah mengesap teh hangat yang dibuat oleh Ling.
"Tidak, aku akan kembali ke Kota X!" Jawab Su Li Xia dengan yakin.
"Kapan kita akan kembali?"
"Secepatnya."
"Di mana kita akan tinggal? Rumahku?"
Su Li Xia menatap mata Lu Xuan Cheng, dia tersenyum lalu menjawab. "Rumah kita!"
Seminggu Kemudian
Kota X
Lu Xuan Cheng berdiri di depan pintu apartemen, melihat dengan wajah tercengang apa yang terjadi dengan bangunan mewah miliknya itu.
"Apa ini yang kau maksud dengan kata "Rumah kita"? Tanya pria itu dengan suara bergetar.
Su Li Xia mengangguk, dia masuk sambil menggandeng tangan An An. Ling dan amggota yang lain ikut masuk, sementara Lu Xuan Cheng masih menatap apartemennya dengan dahi yang berkerut.
"Mom, besar sekali apartemen ini. Apa ini milik Daddy?" Tanya An An bersemangat.
"Tidak, ini milik Mom dan Daddy. Tadinya ini 2 apartemen yang bersebelahan, tapi Mom menyuruh orang untuk menghancurkan dinding yang memisahkan apartemen ini. Apakah An An menyukai rumah baru kita?" Jawab Su Li Xia dengan senyuman manis.
An An mengangguk dengan cepat, dia sangat menyukai rumah barunya yang mewah dan nyaman.
"Mom, di mana kamar An An?" Tanyanya lagi dengan antusias.
"Ayo ikut dengan Mommy, Mom akan menunjukkan kamar yang dirancang khusus untuk An An."
An An segera menggandeng tangan Su Li Xia, mereka berjalan bersama melewati Lu Xuan Cheng yang masih membeku dengan wajah terkejut dan melongo.
__ADS_1
Pria itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat mengetahui istrinya tanpa izin telah mengubah seluruh desain di rumahnya. Bahkan barang-barang koleksi milik Lu Xuan Cheng sudah menghilang entah ke mana.
"Wow! Ini kamar untuk An An? Benarkah?" Ucap bocah itu kegirangan.
An An berlarian mengelilingi kamarnya yang luas. Kamar itu memiliki sebuah ruang khusus yang di dalamnya berisi puluhan layar monitor. Banyak peralatan canggih tersedia di sana, peralatan yang biasanya menjadi perkakas An An dalam menciptakan teknologi terbaru dan benda-benda berbahaya bagi para musuhnya.
Mata An An berbinar cerah, ia berlari ke sana kemari melihat apa saja yang ada di dalam kamar barunya.
Ceklek!
An An membuka pintu kamar mandi, dia melihat sebuah meja wastafel yang hanya setinggi pinggangnya.
Di samping meja wastafel terdapat sebuah laci bertingkat 5. An An membuka laci paling bawah, di dalamnya berisi sabun dan shampo anak-anak. Dia kemudian membuka laci ke dua dari bawah, di dalamnya berisi sikat gigi dan pasta gigi khusus yang biasanya dipakai oleh An An.
Laci ketiga berisi handuk untuk wajah, laci ke empat berisi handuk ukuran sedang dan laci kelima berisi mainan An An untuk berendam di dalam bath tub.
An An melihat ke belakang, terdapat sebuah pintu kaca yang menjadi pembatas tempat shower dan kamar mandi. Di sebelah kanan pintu kaca terdapat sebuah bath tub berukuran besar yang bisa digunakan sebagai kolam renang mini bagi An An yang masih bertubuh kecil.
"Menyenangkan sekali!" Ucap An An sambil tersenyum riang.
Srekkk!
Dinding di depan An An berputar, menampilkan sebuah layar televisi berukuran besar dengan teknologi canggih. An An dapat menghidupkan dan memindahkan siaran televisi hanya dengan perintah suara. Bahkan ia dapat melihat tangkapan CCTV di layar tersebut dengan perintah suara.
"Mommy! An An sangat menyukai ini!" ucap An An dengan girang.
"Stttt, masih ada yang lebih seru." kata Su Li Xia.
Su Li Xia tersenyum misterius, lalu mengarahkan An An ke dinding yang berada di samping layar televisi. Dia menunjukkan sebuah panel kecil yang terletak di dinding dan meminta An An untuk menekan beberapa tombol di dalamnya. Setelah menekan beberapa tombol, tiba-tiba suara besar terdengar dan dinding tersebut mulai bergerak.
An An tercengang melihat ruang tersembunyi di balik dinding kamar mandi. Ruangan sebesar 50cm x 50cm tersebut hanya terdapat sebuah tangga kecil menuju ke atas.
An An memanjat tangga dan membuka pintu di atas langit-langit. Dia melihat ruangan yang penuh dengan layar monitor di setiap sisi dinding, dua unit komputer terpasang di tengah-tengah ruangan dan satu kursi empuk berwarna hitam dengan ukuran tubuh An An berada di depan meja yang juga berukuran mini.
"Woooowwww...!" Ucap Bocah itu dengan wajah tercengang.
Su Li Xia ikut naik, dia memperhatikan wajah bahagia putranya yang tampak sangat menyukai kejutan dari sang Mommy.
__ADS_1
"Semua ini untuk An An?" Tanyanya dengan senyum ceria.
Su Li Xia mengangguk.
"Terima Kasih Mom! Mommy yang terbaik!" Sorak An An lalu memeluk Su Li Xia yang masih berdiri di tangga.
"Ini adalah ruangan darurat yang bisa kamu gunakan saat ada situasi mendesak yang membuatmu tidak bisa keluar dari kamar mandi." Ucap Su Li Xia dengan wajah serius.
"Situasi mendesak?" Tanya An An kebingungan.
"Ya, banyak musuh yang mengincar Daddy dan Mommy. Kau harus berhati-hati di kota ini, mereka semua sangat licik dan berbahaya. Maaf membuat An An harus ikut berada dalam bahaya!" Kata Su Li Xia dengan perasaan bersalah.
An An menggelengkan kepala, "Mommy salah! Mereka lah yang berada dalam bahaya bukan An An. Hihihi...!" Ucap bocah itu percaya diri.
"Mom tau An An bisa melindungi diri. Tapi kau tetap harus berhati-hati dan jangan meremehkan musuh!"
"Baik, siap Mom!" Jawab An An bersemangat.
"Baiklah, ayo turun!" Ajak Su Li Xia sambil mengulurkan tangannya.
Lu Xuan Cheng masih berdiri diam di depan pintu. Dia melihat istri dan anaknya yang baru saja berjalan keluar dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kau masih di sini? Kau tidak mau melihat kamar kita?" Tanya Su Li Xia sambil tersenyum licik.
"Firasat buruk ini, tidak mungkinkan....!" Batin Lu Xuan Cheng.
"Ayo ikut denganku, akan ku tunjukkan kamar kita!" Ajak Su Li Xia sambil meraih tangan Lu Xuan Cheng.
An An ikut menggandeng lengan Mommy dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki kedua orang tuanya.
Ceklek!
Begitu pintu kamar terbuka, Lu Xuan Cheng memundurkan langkahnya dengan kedua kaki yang terasa lemas.
"Oh shittt!" Umpat nya dalam hati.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1