
Kaki dokter muda itu terasa lemas ketika melihat serigala menjilati wajah dan leher kedua pria di bawahnya secara bergantian. Dokter Hanz mengira serigala putih akan segera mencabik-cabik daging di wajah kedua pria itu. Dia merasa takut hingga kedua kakinya kehilangan tenaga.
Namun ternyata Xiao Pai hanya menakut-nakuti mereka tanpa berniat menjadikan kedua pria itu sebagai santapan. Tampak cairan kekuningan yang berada di bawah bokong mereka berdua. Bau pesing yang menyengat segera tercium di seluruh ruangan.
"Hiuhhh! Hiuhhh!"
Xiao Pai mendengus mengeluarkan napasnya secara kasar. Dia berbalik badan dan berjalan kembali ke dalam kandangnya.
"Ckkk! Memalukan sekali!" Cibir An An sambil menggelengkan kepala saat melihat kedua pria dewasa di depannya mengompol di celana.
"Bau sekali... Hissshhh! Ayo pergi!" Ajak An An sambil menutup lubang hidungnya dengan jari-jari tangan.
Dokter Hanz segera berdiri, berjalan cepat mengikuti Leona yang hampir menutup pintu besi.
"Hufff!"
Pria itu menghela napas panjang. Ia lega dan sedikit tenang setelah mengetahui bahwa bocah di depannya hanya menakut-nakuti mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Su Li Xia melepaskan pernak pernik di atas kepalanya. Dia merasa kesulitan karena banyak sekali kep kep rambut yang terselip di antara rambut hitamnya yang tebal dan panjang.
Melihat hal itu, Lu Xuan Cheng segera menghampiri tempat duduk pengantinnya yang saat ini sedang berada di depan meja rias.
"Mau ku bantu?" Tanya pria itu sambil menatap wajah Su Li Xia yang terpantul dari cermin.
"Tolong lepaskan semua benda merepotkan ini!" Pinta Su Li Xia yang mulai kesal dengan kep rambut yang menyangkut di atas kepalanya.
Lu Xuan Cheng tersenyum melihat wajah cemberut istrinya yang tampak menggemaskan. Dia membantu melepas semua kep dan aksesoris dengan berhati-hati. Setelah selesai melepas semuanya, Lu Xuan Cheng membalik tubuh istrinya sehingga mereka saling berhadap-hadapan.
"Mana hadiahku?" Tanya pria itu meminta hadiah atas pekerjaannya.
Wajah Su Li Xia yang awalnya kesal seketika berubah menjadi senyuman manis dan hangat. Dia memegang kedua pipi Lu Xuan Cheng lalu mengecup bibirnya.
"Terima kasih..." Ucap Su Li Xia malu-malu.
Dia kembali mengecup bibir Lu Xuan Cheng.
"Suamiku..." lanjutnya menyambung apa yang hendak ia ucapkan.
Kedua bola mata pria itu membesar, terkejut mendengar kata "suamiku" yang keluar dari bibir Su Li Xia yang tidak pernah ia bayangkan bahkan dalam mimpi sekali pun.
__ADS_1
"Istriku, tolong ulangi sekali lagi!" pinta Lu Xuan Cheng dengan wajah yang tampak tidak percaya terhadap pendengarannya.
"Terima kasih, suamiku!" Ucap Su Li Xia mengulangi kata-katanya tadi.
Lu Xuan Cheng mengangkat istrinya secara tiba-tiba, ia membawa Su Li Xia ke tempat tidur lalu membaringkan tubuh kecil wanita itu di atas ranjang.
"Ini kembalian dari hadiahku!" Bisik Lu Xuan Cheng dengan sengaja menghembuskan udara ke telinga istrinya.
Su Li Xia merinding geli tapi nikmat, dia melingkarkan kedua lengan di leher Lu Xuan Cheng dan mulai menempelkan bibir mereka. Keduanya saling beradu lidah, menikmati sentuhan dari benda lembut tak bertulang yang membuat degup jantung mereka semakin cepat.
Lu Xuan Cheng melepaskan tautan bibirnya, memundurkan sedikit wajahnya sambil menatap kedua mata Su Li Xia.
"Su Li Xia, 我爱您!" Ucap Lu Xuan Cheng menungkapkan perasaannya.
NB: 我爱您 \= Aku mencintaimu
Dia kembali menempelkan bibirnya di leher jenjang Su Li Xia, membuat beberapa jejak dan tanda cinta di kulit mulus yang tampak sedikit memerah.
Malam berganti pagi. Matahari mulai naik ke atas langit, menyinari bumi dengan cahayanya yang terasa hangat.
Ling berjalan menyusuri sekitar rumah untuk membersihkan debu dan kotoran, dia melewati depan kamar Su Li Xia.
"Aaahhhhh!"
"Brakkk!"
Ujung vakum tanpa sengaja mendobrak pintu kamar Su Li Xia, pintu kayu yang tidak dikunci oleh pasangan pengantin tersebut. Pintu terbuka lebar, memperlihatkan pasangan di atas ranjang yang sedang melakukan olah raga sejak tadi malam.
Lu Xuan Cheng dan Su Li Xia terperanjat, terkejut dengan pintu yang terbuka secara mendadak. Mereka menatap ke arah pintu, melihat Ling yang berdiri dengan kedua mata membesar dan wajah yang semerah buah tomat.
"Ma... Maafkan saya!" Teriak Ling panik, dia segera menutup kembali pintu kamar, berbalik badan dan berlari kencang meninggalkan tempat itu.
Lu Xuan Cheng kembali menatap istrinya, dia tersenyum nakal sambil berkata. " Ayo kita lanjutkan!"
"Ling! Tolong aku!" Teriak Su Li Xia dengan tubuh yang gemetaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bughhh!"
"Pranggg!"
__ADS_1
"Dug Dug Dug!"
"Aàaaaaaakhhhhhhhh!"
Lu Cin He berteriak keras, menghancurkan barang-barang di dalam villa yang baru saja ia beli.
"Manusia tak berguna! Tak ada satupun yang berhasil mematahkan kaki bajingan itu! Percuma aku membayar kalian mahal-mahal, seekor semut pun tak mampu kalian bunuh!"
Makian dan omelan dari Lu Cin He menggema di seluruh ruangan. Darahnya meninggi begitu mendengar kabar kegagalan dari anak buahnya. Ditambah dengan ancaman dari Lu Xuan Cheng yang berkata akan menghancurkan semua perusahaan miliknya.
Lu Cin He sangat memahami adik tirinya itu, apa yang ia katakan pasti akan dilakukan tanpa sedikitpun keringanan.
"Sial!!!" Umpatnya dengan wajah merah padam.
Lu Cin memandang wajah anak buahnya yang penuh dengan memar dan kemerahan yang membengkak. Emosinya semakin meningkat karena ia merasa malu selalu kalah dalam persaingan dengan Lu Xuan Cheng.
"Keluar!!" Bentak pria itu dengan suara yang tinggi.
"Drap Drap Drap!"
Mereka segera berlari keluar meninggalkan ruangan Lu Cin He sebelum menjadi korban pelampiasan kemarahannya.
Lu Cin He menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Setelah beberapa saat, ia tersenyum licik dengan pikiran jahatnya yang sedang merencanakan hal buruk.
Lu Cin He mengambil ponsel yang berada di atas meja, ia menghubungi seseorang yang bernama Qing Qing di daftar kontak.
"Qing Qing, aku punya kabar buruk untukmu!"
"Kabar apa? Jangan menggangguku jika kau hanya menyampaikan kabar sampah!"
"Kau madih menyukai adik tiriku? Ah, maksudku Lu Xuan Cheng."
"Tentu saja, aku selalu menyukainya dari kecil. Kau sangat tahu itu. Jika bukan karena ayah mengirimku ke tempat jauh, aku pasti sudah menikah dengan Kak Xuan."
"Sayang sekali, Kak Xuan mu sudah menikah semalam!"
"Brakkk! Tut Tut Tut!"
Telepon langsung di tutup oleh Qing Qing.
Lu Cin He menyeringai, dia menatap keluar jendela kaca yang besar, menatap jauh ke depan dengan pemandangan kota yang indah.
__ADS_1
"Jika aku tidak bisa mengganggumu secara pribadi, maka aku akan mengirim seseorang yang bisa menghancurkan kebahagiaanmu! Hahaha...!"
^^^BERSAMBUNG...^^^