
Su Li Xia memegangi pundaknya yang mulai mengeluarkan darah segar, dia mengangkat senapan panjang dan menatap jauh ke depan.
Seorang pria sedang memegang pistol dari balik pohon besar yang terletak beberapa meter dari pintu gudang. Pria itu membidik Su Li Xia dengan pistol di tangannya.
"Cepat masuk!" ucapnya kepada Lu Xuan Cheng agar mengamankan An An terlebih dahulu.
Pria itu segera berlari sambil memeluk An An. Dia melindungi bocah itu dari peluru yang entah kapan akan ditembakkan lagi oleh pembunuh yang berkeliaran di sekitar sana.
Sementara Su Li Xia membidik dan menarik pelatuk senapan dengan kuat. Dia menembakkan peluru ke arah pria yang memegang pistol tersebut. Peluru melesat dengan cepat, menembus tulang tengkorak pria berbaju hitam yang menembaknya tadi.
Sebuah peluru dari arah lain melesat ke arah Su Li Xia. Pria itu ternyata tidak datang sendirian, beberapa orang berbaju hitam terlihat sedang bersembunyi di balik pepohonan.
"Sial!" umpat Su Li Xia dengan wajah kesal setelah menghindar dari peluru yang ditembakkan ke arahnya.
Su Li Xia memundurkan langkahnya, dia masuk ke dalam pintu gerbang dan dengan cepat menutup pintu berkarat itu.
Dia berbalik badan dan ternyata Lu Xuan Cheng sudah berdiri di hadapannya dengan wajah yang terlihat cemas dan khawatir.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.
Lu Xuan Cheng menatap pundak Su Li Xia yang terluka, alisnya sedikit terangkat dengan kerutan di dahi. Jelas dia sangat mengkhawatirkan wanita itu.
"Aku baik-baik saja!" ujarnya dengan wajah dingin.
__ADS_1
Su Li Xia masuk ke dalam gudang dan berjalan menuju ruang depan. Dengan perlahan, dia duduk di sebuah kursi kayu yang tersedia di sana. Lu Xuan Cheng segera mengikuti dan mendekatinya untuk membantu merawat luka Su Li Xia.
Namun, begitu Lu Xuan Cheng mendekat, Su Li Xia mengangkat tangan untuk menahan langkah pria itu. "Jangan mendekat lebih dari ini karena aku akan langsung melubangi kepalamu!" ucap Su Li Xia dengan wajah serius.
Lu Xuan Cheng sedikit terkejut dengan sikap Su Li Xia yang keras kepala, tetapi dia mengerti bahwa wanita itu masih marah dan menyimpan dendam terhadapnya. Dia memundurkan langkahnya lalu berdiri menatap Su Li Xia.
Sementara itu
An An berlari ke dalam, mencari keberadaan Ling. Begitu pula dengan Ling yang berlari keluar menuju ke atas karena dia mendengar suara tembakan saat sedang menyiapkan makanan.
"Linggg!" teriak bocah itu dengan suara keras.
Ling melihat An An berlari ke arahnya, dia segera melebarkan tangan lalu meraih bocah itu ke dalam pelukannya.
Ling memperhatikan seluruh tubuh, mulai dari atas hingga ke bawah kaki An An. Memastikan jika anak itu tidak terluka.
"An An baik-baik saja, tapi Mommy tertembak!" jawab bocah itu dengan wajah cemas.
Ling mengerutkan kedua alisnya, dia tampak kebingungan dan heran kenapa tempat persembunyian mereka bisa diketahui oleh musuh.
"Aku akan memikirkan itu nanti, sekarang aku harus mengobati luka Nona terlebih dulu." pikir Ling.
Ling berlari menuju ke bawah tanah, dia mendudukkan An An di sebuah kursi sofa. Ling kemudian berjalan ke sebuah laci yang terletak di sudut ruangan, ia membuka laci itu lalu mengeluarkan kotak obat dan senjata api dari dalam laci.
__ADS_1
"Tuan Muda, saya akan melihat kondisi Nona. Anda harus tetap berada di sini, mengerti?"
An An mengangguk dengan cepat, ia menurut dan segera berlari masuk ke dalam kamar. An An kemudian membuka laptop yang berada di atas meja kamar, bocah itu memeriksa kamera CCTV untuk melihat wajah pelaku yang menyerang mereka.
Setelah memeriksa CCTV yang terpasang di sekitar rumah, An An mengetahui jika ada 4 pria asing yang muncul di depan rumahnya. Dia lalu mencari data informasi tentang ke 4 pria tersebut dengan meretas database di kepolisian yang merekam semua wajah penduduk di Kota N.
"Ke 4 orang ini adalah buronan. Aneh sekali! Kenapa mereka menyerang Mommy?" Tanya An An dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Su Li Xia menggunting pakaiannya, dia membuka kain yang menutupi luka di pundaknya agar lebih mudah dibersihkan.
Su Li Xia mulai membersihkan luka di pundaknya dengan hati-hati, menggunakan kain kasa dan cairan antiseptik. Dia merasakan sedikit rasa sakit dan menahan napas ketika kain itu menyentuh lukanya.
Setelah itu, dia mengoleskan salep antibiotik dan membungkus pundaknya dengan kain perban. Namun, kain perban yang di balut oleh Su Li Xia terlihat sangat berantakan.
Lu Xuan Cheng mendekat lagi, hendak membantunya membalut kain perban dengan benar. Namun ia kembali mengalami penolakan dengan sebuah pistol yang mengarah ke atas kepalanya.
"Jika kau maju selangkah lagi, kau akan segera menemui Raja Neraka!" ancam Su Li Xia sembari menodongkan ujung pistol ke arah Lu Xuan Cheng.
Pria itu mengangkat kedua tangannya, ia lalu mundur secara perlahan. Tanpa pria itu sadari, sebuah kursi mini berada di belakangnya. Dia tersandung dan hampir terjatuh.
"Bammm!"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^