
"Ayo bangun, kita harus membeli pakaian pengantin dan cincin pernikahan!" sahut Lu Xuan Cheng dengan sebuah kecupan di bibir Su Li Xia.
Senyuman bahagia menghiasi wajah kedua pasangan tersebut. Mereka bangkit dari tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi, menghabiskan waktu di pagi hari dengan bercumbu di dalam bath tub yang berisi air hangat.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Ling sudah mempersiapkan berbagai macam sarapan sehat yang ia letakkan di atas meja makan. Namun, seekor semut pun tidak terlihat di ruangan itu selain dirinya.
An An sedang sibuk mengutak atik komputer di kamar, dia mencari lokasi orang-orang yang mencoba mencelakakan Mommy dan juga Daddy nya.
Jam terus berjalan, dan sekarang sudah tepat di pukul 10 pagi. An An keluar dari kamar karena perutnya sudah keroncongan. Dia melihat Ling yang duduk di meja makan dengan wajah yang terlihat murung dan kesepian.
"Ling!"
An An berjalan menuju ke tempat duduk khusus miliknya. Dia melompat dan duduk di atas kursi.
Ling menoleh, melihat An An yang duduk di sampingnya.
"Tuan Muda, apakah anda baru bangun?" Tanya wanita itu dengan nada datar.
Bocah itu menggelengkan kepala
"An An sibuk bermain komputer." jawabnya sambil melirik makanan yang menggugah seleranya.
"Tolong ambilkan!" pinta An An seraya menyerahkan piring kosong kepada Ling.
Wanita itu segera menerima piring kosong dari An An, dia berdiri dan mengisi beberapa jenis makanan ke atas piring.
"Selamat makan!" Ucap Ling sembari meletakkan piring ke atas meja.
An An mengambil susu yang terletak di samping piring, dia meminum sedikit susunya lalu meletakkan kembali gelas di atas meja.
"Terima Kasih Ling!" Ucap bocah itu lalu mulai menikmati makanannya.
Setelah beberapa saat, An An menatap kursi milik Mommy nya yang masih kosong. Dia menatap Ling lalu bertanya, "Apakah Mommy sudah selesai sarapan?"
Ling menggelengkan kepala.
"Jadi mereka belum keluar dari kamar?" Tanya bocah itu bersemangat dengan senyuman lebar di wajahnya.
Ling mengangguk dengan wajah kesal.
"Baguslah! Kalau bisa, mereka di kamar saja selama seminggu penuh!" ucap An An tanpa sengaja mengeluarkan kata hatinya.
Ling menatap tajam wajah imut An An yang terlihat licik.
"Jangan menatapku seperti itu! Kau terlalu tua untuk menjadi pengantinku!" Ucap An An dengan wajah serius.
"Tuan Muda!" panggil Ling dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Hmm? Kenapa?" sahut bocah itu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Maaf, tapi saya tidak suka dengan sesuatu yang kecil!" Ucap Ling dengan suara datar.
"Aku ini masih kecil, masih anak-anak! Aku akan setinggi Daddy ketika dewasa nanti! Tidak, aku akan lebih tinggi dari Daddy dan lebih tampan juga. Huhhh!" jawab An An kesal dengan wajah cemberut dan bibir yang mencondong ke depan.
Ling terdiam menahan tawanya, jarang sekali bisa melihat wajah marah An An yang terlihat imut dan menggemaskan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
George mendapat perintah untuk membuat reservasi di toko bridal yang terkenal di Kota N. Sementara Lu Xuan Cheng membawa Su Li Xia ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan.
Sementara itu, Lu Xuan Cheng dan Su Li Xia baru saja menyelesaikan ritual mandinya yang sudah berlangsung selama 5 jam. Keduanya berjalan menuju ruang makan.
Seperti biasa, Ling sudah menyiapkan makanan yang beraneka ragam di atas meja. Kedua pasangan itu duduk bersebelahan. Su Li Xia menatap sekilas kursi An An yang masih kosong, pandangannya di alihkan kepada Ling yang masih berdiri di dekat meja.
"An An belum bangun?" Tanya Su Li Xia kepada Ling.
"Tuan Muda baru saja sarapan di jam 10 pagi. Mungkin dia belum lapar. Apa perlu saya memanggilnya?"
"Tidak, biarkan saja dia bermain dengan komputernya."
Lu Xuan Cheng sedang sibuk mengambilkan makanan untuk calon pengantinnya, dia menatap Su Li Xia lalu bertanya, "Apakah An An sering bermain dengan komputer di dalam kamar?"
"Benar, dia sangat menyukai komputer. Aku membelikan ratusan komputer untuknya setiap bulan."
"Ratusan?"
Su Li Xia menatap mata Lu Xuan Cheng.
"Benar, kadang lebih dari seratus buah. Meskipun jarang sekali!"
Pria itu semakin bingung. Dia melirik Ling sekilas, mencoba menyelidiki apakah Su Li Xia sedang bercanda atau memang serius mengatakan hal itu.
"Bammmm!"
Terdengar suara ledakan yang diikuti getaran kecil di seluruh ruangan
Lu Xuan Cheng terkejut, dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan Ling dan Su Li Xi masih tetap berdiam diri di tempat mereka, keduanya tampak biasa saja seolah tidak mendengar suar ledakan yang menggetarkan seluruh ruangan.
"Duduklah, kau harus terbiasa dengan suara ledakan seperti itu jika tinggal bersama An An." Ucap Su i Xia dengan wajah serius.
Lu Xuan Cheng menaikkan kedua alisnya, dahinya mengerut, dia semakin kebingungan dan penasaran dengan kata-kata Su Li Xia.
"Bammmm!"
Suara ledakan kembali terdengar, kali ini lebih keras dan kencang hingga menjatuhkan beberapa peralatan makan.
__ADS_1
Lu Xuan Cheng tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi, dia berlari ke arah sumber suara ledakan yang ternyata berasal dari kamar An An.
Lu Xuan Cheng membuka pintu kamar, buru-buru ia masuk untuk memeriksa keadaan bocah itu.
Mendengar suara pintu kamar yang terbuka, An An berbalik badan, melihat ke belakang.
"Daddy!" panggilnya ketika melihat wajah Lu Xuan Cheng yang berlari ke tempatnya.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanya pria itu dengan wajah panik dan cemas.
Wajah An An penuh noda hitam yang berasal dari ledakan barang yang menggosong. Pakaian dan jari-jari tangannya juga dipenuhi noda noda gosong.
Bocah itu tersenyum melihat wajah Daddynya yang tampak khawatir.
"An An baik-baik saja, komputer ini yang terkena masalah! Hehehe..." jawab An An sambil menunjuk ke sebuah benda hitam yang sudah tak berbentuk.
"Benda hitam itu adalah komputer?"
An An mengangguk.
Lu Xuan Cheng tidak mengerti apa yang terjadi hingga sebuah komputer bisa berubah menjadi tumpukan benda hitam yang menggosong. Dia menatap sekeliling kamar An An, ruangan yang lebih mirip seperti kapal pecah dari pada sebuah kamar mewah.
"An An, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya pria itu penasaran.
"Ini... Sebenarnya An An sedang mencoba membuat robot pintar dengan komputer ini. Tapi komputernya tiba-tiba mengeluarkan api dan meledak." Jelas An An dengan gayanya yang sedang berpikir.
"Apa kau sering melakukan ini?"
An An mengangguk
"Sudah berapa banyak komputer yang kau ledakkan?"
"Emmmm....!" An An berpikir sejenak.
"Tidak banyak Daddy, hanya sebanyak ini!" Jawab An An sambil membuka 9 jarinya.
"900?" Tanya Lu Xuan Cheng dengan raut wajah terkejut.
"No No!" Sahut An An sambil menggelengkan kepala.
"Fiuhhh... Untunglah hanya 90 saja. Aku tahu Mommy mu pasti bercanda tadi." Ucap pria itu setelah menghembuskan napas lega.
An An memiringkan kepalanya, dia menatap sang Daddy dengan wajah tanpa ekspresi.
"Dad!" Panggil An An dengan suara datar.
Lu Xuan Cheng mengalihkan tatapannya ke An An, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh bocah tersebut.
__ADS_1
"Bukan 90, tapi 9000!"
^^^BERSAMBUNG...^^^