
An An mengangguk, dia menunjukkan wajah pria yang mengawasi mereka di layar ponsel nya.
"Hey bocah, dari mana kau mendapatkan foto orang ini?" tanya Gu Ching He semakin penasaran dengan An An.
"Tentu saja dari hasil meretas komputer miliknya. Hihi..." jawab An An sambil tertawa.
"Kau... Kau bisa meretas?" tanya Gu Ching He terbata-bata dengan mata yang membelalak.
An An tersenyum dia lalu menjawab, "Tentu saja, itu hal yang sangat mudah."
Gu Ching He terlihat frustasi, dia mengacak rambutnya lalu kembali bertanya kepada bocah di samping.
"Aku jadi semakin tidak percaya jika kau hanya bocah yang berumur 5 tahun. Apa kau alien yang terlahir ke tubuh manusia? Atau kau sebenarnya seorang profesor yang sudah meninggal lalu jiwamu masuk ke tubuh anak ini?"
"Tuan pelanggan, sepertinya kau terlalu banyak menonton film fantasi. Ck... Ck... Ck..." ucap An An sambil menggelengkan kepalanya lalu berdecak beberapa kali.
"Tunggu! Jika yang dia katakan memang benar, maka orang yang selama ini ingin membunuhku adalah orang ini kan?" pikir Su Ching He sambil menatap ke layar ponsel An An.
Wajah seorang pria brewok dengan mata sipit dan alis yang hampir menghilang terlihat di layar ponsel An An. Diam-diam dia mengambil screenshot foto pria tersebut ketika menyelidiki kamera tersembunyi yang berada di dalam ruangan Vip restoran.
Mobil memasuki sebuah halaman rumah yang mirip dengan hutan pohon cemara. Setelah 5 menit mobil berjalan masuk ke halaman, tampak sebuah rumah mewah yang berada di tengah-tengah kumpulan pohon cemara. Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah.
Seorang pria buru-buru berlari ke mobil lalu membukakan pintu mobil. Gu Ching He meraih tubuh An An lalu menggendongnya. Dia turun dengan membawa An An di dalam gendongannya.
Beberapa wanita yang memakai baju pelayan memberi hormat di depan Gu Ching He dengan menundukkan kepala. Pria itu lalu masuk ke dalam rumah mewah itu.
Di dalam ruangan yang juga serba mewah, dengan berbagai barang antik dan benda mahal terpajang di berbagai sudut ruangan, Gu Ching He mendudukkan An An di sebuah kursi sofa berwarna coklat muda.
Seorang pelayan berjalan mendekat lalu bertanya kepada Gu Ching He.
"Tuan, apakah saya perlu menyiapkan susu untuk anak ini?"
"Tidak! Aku mau kopi!" jawab An An secara cepat sebelum pria di samping menjawabnya.
__ADS_1
Pelayan menatap Gu Ching He, menunggu perintah dari pria tersebut. Gu Ching He mengangguk, pelayan itu pun pergi menyiapkan minuman.
"Apa yang kau perlukan untuk menyelidiki berlian yang hilang itu?" tanya Gu Ching He yang mulai penasaran dengan kemampuan An An.
"Aku hanya membutuhkan sebuah laptop." sahut An An.
Gu Ching He mengangkat sebelah tangannya, pelayan yang berada di sudut ruangan segera berjalan pergi lalu kembali dengan membawa laptop. Pelayan itu menaruh laptop yang dibawanya di depan meja An An.
"Silakan Tuan!" ucap pelayan tersebut lalu mundur perlahan hingga ke sudut ruangan.
An An membuka laptop yang berada di atas meja, wajahnya yang selalu tersenyum langsung berubah serius begitu menyentuh laptop di depannya.
Setelah beberapa menit mengutak atik laptop, An An memanggil pria di sampingnya untuk melihat layar laptop di depannya.
Tampak seorang pria mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Gu Ching He, pria tersebut adalah pria yang di temui oleh An An ketika berada di club malam. An An mengambil berlian dari tangan pria tersebut lalu menyerahkan butiran kecil seharga satu unit rumah itu ke tangan Mommy nya.
"Berengsek!" umpat Gu Ching He dengan wajah kesal begitu mengetahui siapa pria yang mencuri berlian miliknya.
"Tuan pelanggan, anda mengenal orang ini?" tanya An An penasaran.
Seorang pelayan masuk membawakan 2 cangkir kopi. Pelayan meletakkan cangkir di atas meja lalu berjalan keluar.
"Berhenti!" perintah An An kepada pelayan tersebut.
Gu Ching He menatap An An, penasaran apa yang akan dia lakukan terhadap pelayan yang mengantarkan minuman kepada mereka.
An An melompat turun dari kursi. Dia berjalan cepat ke arah pelayan tersebut.
"Kakak cantik, boleh aku meminjam ponselmu?" tanya An An dengan wajah imut dan suara yang menggemaskan.
Gu Ching He menepuk wajahnya dengan telapak tangan, sambil menggelengkan kepala, pria itu berpikir dia terlalu bodoh untuk mengharapkan sesuatu yang istimewa dari seorang bocah.
Pelayan mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celana, dia menyerahkan ponsel itu kepada An An dengan senyuman yang ramah.
__ADS_1
Begitu An An menerima ponsel dari pelayan, dia membanting benda kecil berbentuk persegi panjang itu dengan sekuat tenaga. Semua mata langsung tertuju ke bocah kecil yang sedang berdiri di tengah ruangan, termasuk Tuan rumah yang saat ini menatap An An dengan tatapan tajam.
"Kenapa anda menghancurkan ponsel baru saya?" tanya pelayan tersebut sambil berjongkok memunguti satu persatu bagian ponselnya yang terbuka.
An An mencari sesuatu di antara pecahan ponsel di lantai. Dia menginjak tangan pelayan yang berusaha mengambil potongan kecil dari benda pengintai itu.
"An An, bukankah ini sudah keterlaluan?" tanya Gu Ching He yang mengira An An melakukan ini karena tidak menyukai pelayannya.
"Tuan pelanggan, pelayan ini seorang mata-mata!" lapor An An setelah memastikan benda yang dilihatnya memang sebuah alat perekam.
Begitu mendengar kata-kata dari bocah di depannya, pelayan wanita itu langsung berlari, berusaha kabur dari tempat itu karena dia sudah ketahuan.
An An mengambil baterai ponsel di lantai, dia melemparkan baterai itu tepat di kaki pelayan yang sedang berlari. Wanita itu terpelanting jatuh membentur lantai keramik yang keras dan dingin.
Pelayan itu berusaha bangkit lagi, dua penjaga yang berada di dekat sana segera menahan wanita yang bekerja sebagai mata-mata dari musuh Gu Ching He.
"Untuk siapa kau bekerja?" tanya pria itu sambil berjalan mendekat ke arah pelayan.
Pelayan wanita menutup rapat mulutnya, dia menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan dari Gu Ching He.
"Aku tanya sekali lagi! Untuk siapa kau bekerja?" tanya Gu Ching He dengan wajah dingin yang terlihat marah.
An An berjalan mendekati Gu Ching He, dia lalu berbisik di telinga pria itu.
"Aku sudah tahu untuk siapa dia bekerja, aku akan menghancurkan orang itu!" ucap Gu Ching He sambil menatap mata pelayannya.
"Tidak, jangan melakukan itu. Saya mohon!" teriak pelayan ketakutan.
"Bukan salah Nyonya, semua salah saya yang menyarankan untuk memata-matai Tuan." lanjut pelayan itu menyebut majikan aslinya.
An An dan Gu Ching He saling menatap, mereka lalu tersenyum bersama karena pelayan itu masuk dalam jebakan yang di rencanakan oleh An An.
"Bocah kecil yang cerdas!" puji Gu Ching He dalam hati.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^