
Lu Xuan Cheng merasa penasaran, dia memutuskan untuk berjalan menuruni anak tangga.
Ruangan gelap yang hanya diterangi beberapa lampu pijar berwarna oranye membuat tempat itu terasa menyeramkan. Lu Xuan Cheng mengeluarkan ponselnya, dia menyalakan lampu dari ponsel untuk dijadikan senter.
Setelah tiba di bawah, terdapat sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya. Lu Xuan Cheng meneruskan langkahnya, dia berjalan hingga ke ujung lorong dan menemukan sebuah pintu besi tahan api di sana.
Pria itu memutar gagang pintu, ia lalu membuka pintu besi dengan perlahan. Di depannya, tampak sebuah ruangan gelap berukuran 3 x 3 Meter yang di dalamnya hanya terdapat sebuah pintu lain yang terbuat dari kayu mahoni tua.
Lu Xuan Cheng berjalan masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. Setelah maju tiga langkah ke depan, pintu besi di belakangnya tiba-tiba menutup sendiri.
Lu Xuan Cheng merasa jantungnya berdegup kencang saat pintu besi di belakangnya menutup sendiri. Dia mencoba membuka kembali pintu itu, namun tidak berhasil. Pria itu terjebak di dalam ruangan gelap dan tak tahu bagaimana caranya untuk keluar.
Namun, sesaat setelah pintu besi tertutup, Lu Xuan Cheng teringat bahwa di depannya terdapat sebuah pintu kayu. Pria itu segera bergegas menuju pintu kayu dan mencoba membukanya. Dia memutar gagang pintu lalu menarik pintu tersebut, namun ternyata pintu terkunci rapat.
Lu Xuan Cheng berbalik ke belakang, menatap dan memperhatikan sekeliling ruangan. Melihat adanya cahaya kecil yang bersinar di sudut ruangan, Lu Xuan Cheng mendekat ke arah cahaya tersebut dan menemukan sebuah kunci yang terletak di atas meja kecil.
Pria itu merasa lega ketika berpikir kemungkinan ini adalah kunci untuk membuka pintu kayu yang ada di depannya. Namun, saat ia mengambil kunci itu, terdengar suara aneh di dalam ruangan.
Lu Xuan Cheng merasa merinding dan langsung menyalakan lampu ponselnya, mencoba mencari sumber suara itu. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Hanya ada keheningan dan cahaya oranye dari lampu pijar yang berkedip-kedip.
Ketika ia mengarahkan pandangannya ke arah pintu kayu, ia melihat sesosok bayangan yang muncul di depannya. Bayangan itu terlihat seperti manusia, tapi tampak tidak berwujud dan bergerak-gerak seperti asap.
Lu Xuan Cheng merasa pemasaran, dia mencoba mendekati bayangan itu lalu meraih asap yang bergerak dengan sebelah tangannya.
"Ckk... Trik untuk menakuti anak kecil!" gumam Lu Xuan Cheng.
__ADS_1
Dia berjalan ke pintu kayu lalu mencoba membuka pintu kayu itu dengan kunci yang ia temukan. Tapi ternyata kunci itu tidak cocok. Ia mencoba sekali lagi, tapi pintu kayu tetap tidak terbuka.
"Sial!" umpatnya kesal.
An An yang berada di dalam kamarnya sedang duduk dengan konsentrasi tinggi, menatap layar komputer yang memperlihatkan puluhan gambar ruangan gelap tempat Lu Xuan Cheng berada. Dengan tangkas, ia mengontrol perangkat di depannya untuk melakukan beberapa modifikasi pada layar, sehingga dapat memberikan tampilan yang lebih jelas.
An An menekan sebuah tombol di remot kontrol yang terhubung dengan perangkat di ruangan gelap tempat Daddynya berada. Bocah itu lalu tersenyum nakal sambil menggerakkan jari-jarinya untuk memberi perintah di perangkat pintar yang terpasang di ruangan gelap.
"Hihi... Seru sekali bermain dengan Daddy yang tidak penakut!" ucap An An kegirangan.
Lu Xuan Cheng berpikir untuk mendobrak pintu kayu, dia memundurkan langkahnya lalu mengambil ancang-ancang. Saat dia berniat mendobrak pintu, tiba-tiba Su Li Xia muncul dari balik pintu kayu.
Lu Xuan Cheng tidak dapat mengontrol gerakan tubuhnya, dia menabrak tubuh wanita itu dan keduanya terjatuh dengan posisi Lu Xuan Cheng menindih tubuh Su Li Xia.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan tegas.
"Aku hanya penasaran karena terdapat sebuah tangga menuju ke bawah tanah!" jawab pria itu dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan wajah Su Li Xia.
Su Li Xia melepaskan genggaman tangannya, dia berniat untuk bangkit dengan berguling ke samping. Namun kali ini, giliran Lu Xuan Cheng yang menahan tubuh Su Li Xia. Dia menindih tubuh wanita itu dengan berat tubuhnya lalu menatap kedua mata Su Li Xia dengan tatapan lembut.
Perlahan, ia menurunkan wajahnya hingga kedua bibir mereka saling menyatu. Dia mulai mencium dan menikmati bibir lembut milik Su Li Xia dengan penuh bergairah. Dan hasratnya semakin bangkit begitu Su Li Xia membalas ciumannya.
An An yang masih menatap layar komputer, saat ini terlihat kesal.
"Mainanku sekarang menjadi mainan Mommy!" gerutu bocah kecil itu. Ia lalu tersenyum dengan wajah ceria sambil melanjutkan ucapannya. "Tapi aku rela, apalagi jika aku bisa mendapatkan seorang adik perempuan. Hihi..."
__ADS_1
Su Li Xia teringat dengan kamera CCTV yang berada di dalam ruangan, ia segera mendorong tubuh Lu Xuan Cheng ke samping lalu bangkit dan berdiri.
Lu Xuan Cheng kaget dengan tindakan Su Li Xia yang tiba-tiba mendorongnya, namun dia segera mengerti saat wanita itu menatap ke sebuah kamera yang berada di atas sudut ruangan.
"Ayo masuk!" ajak Su Li Xia lalu berbalik badan.
Lu Xuan Cheng menahan tangan wanita itu. Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.
"Kenapa kau hidup di tempat seperti ini? Apakah kau kesulitan dalam mencari uang?"
Su Li Xia kembali berbalik, ia menatap mata pria di hadapannya dengan wajah kebingungan.
"Apa maksudnya tempat seperti ini? Memangnya apa yang salah dengan tempat ini?" batin Su Li Xia.
"Su Li Xia, kenapa kau tidak mencariku untuk meminta bantuan? Apakah di matamu, aku hanya seorang pria bajingan yang melepas tanggung jawab setelah menghamili seorang perempuan?" tanyanya lagi dengan alis dan kening yang mengerut.
Su Li Xia sekarang paham apa yang sedang ditanyakan oleh Lu Xuan Cheng. Dia ingin tertawa namun takut membuat malu pria di hadapannya. Wanita itu akhirnya menahan tawa dan hanya berdiri diam sambil menunggu pertanyaan apalagi yang akan dilontarkan oleh Lu Xuan Cheng.
"Ada sesuatu yang sudah lama ingin ku tanyakan kepadamu. Bolehkah aku bertanya tentang kakakmu?" ucap pria itu meminta izin dengan wajah penasaran.
Meskipun ia tidak suka jika Lu Xuan Cheng membahas tentang dirinya yang dulu, Su Li Xia tetap mengangguk, mengizinkan Lu Xuan Cheng untuk bertanya.
"Kenapa kau meminta Ling untuk membunuh Kakakmu?" tanya pria itu dengan tatapan tajam.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1