
Dokter Hanz mencoba penemuan terbaru An An di dalam kamar tamu. Dia diberikan kamar pribadi oleh Ling karena pria itu berkata ingin membantu An An untuk menguji coba penemuannya.
An An membuat sebuah alat pelacak yang bisa mengetahui keberadaan seseorang dan mendengar suara di sekitar alat tersebut. Hanya cukup dengan menempelkan alat tersebut di tempat yang ingin kita lacak, alat itu sudah bisa menjalankan fungsinya.
"An An bocah nakal!"
"An An bocah busuk yang suka menakuti orang!"
Dokter Hanz terus menjelekkan An An dengan suara berbisik. Dia menempelkan alat pelacak di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
An An mengirim pesan melalui ponselnya kr ponsel Dokter Hanz.
"Semua yang kau katakan akan ku jadikan sebagai acuan untuk memperlakukan tamuku dengan baik! Terutama tamu yang sedang menghina Tuan Rumah di sini!"
"Ckk... Bocah ini ternyata memang jenius!" gumam Dokter Hanz setelah membaca pesan dari An An.
"Ada pesan masuk! Ada pesan masuk!"
Suara burung beo berteriak "Ada pesan masuk" terdengar dari ponsel Dokter Hanz. Pria itu membuka dan membaca pesan di ponselnya.
"Aku memang jenius, memangnya kau?? Dasar Dokter bodoh!"
Sementara itu, An An bersorak girang di dalam kamarnya. Dia merasa senang karena telah berhasil menciptakan alat pelacak dan perekam suara dalam bentuk yang sangat kecil dan tipis.
"Drap Drap Drap!"
Suara langkah kaki orang berlari terdengar dari depan kamar.
"Brakkk!"
Pintu kamar An An terbuka, bocah itu menatap ke arah pintu sambil menodongkan sebuah pistol mini dengan kedua tangannya.
Dokter Hanz muncul dari balik pintu dan segera berlari masuk ke dalam kamar An An.
"Jangan tembak! Jangan tembak! Ini aku!" Ucap pria itu buru-buru sambil mengangkat kedua tangan ke atas.
"Mau apa kau kemari?" Tanya An An masih sambil menodongkan pistol buatannya.
"Ini, aku mau bertanya dari mana alat ini mendapatkan energi?" Tanya pria itu sambil menunjuk alat pelacak yang An An buat.
Dokter Hanz merasa kebingungan, sebab alat pelacak An An hanya setebal 2mm. Tidak mungkin ada baterai di dalam alat setipis itu sehingga Dokter Hanz sangat penasaran dari mana alat itu mendapatkan sumber tenaga.
__ADS_1
An An menurunkan pistolnya, dia tersenyum bangga sambil melontarkan pertanyaan kepada Dokter Hanz.
"Kau mau tahu? Kau sangat menginginkan jawabannya?"
Dokter Hanz segera mengangguk dengan cepat.
"Sayang sekali, aku tidak ingin memberitahumu!" Ucap An An mengejek pria itu.
Dokter Hanz membuat raut wajah kesal. Dia benar-benar dibuat naik datah jika berhadapan dengan bocah di depannya itu.
Dokter Hanz berjalan keluar dengan wajah cemberut. Setelah kakinya menginjak lantai di luar pintu, pria itu berbalik badan.
"Kau benar-benar tidak mau memberitahuku?" Tanya pria itu lagi.
An An berjalan maju ke depan, dia memegang gagang pintu lalu membanting pintu dengan keras.
"Brakkk!"
Dokter Hanz mengepal kedua tangannya, "Dasar bocah sialan!" Umpat pria itu dengan wajah yang lebih kesal lagi.
Ling menyiapkan sarapan untuk semua orang di dalam rumah. Dia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi namun tidak ada satu pun penghuni rumah yang menuju ke ruang makan selain dirinya.
Bocah itu menggosok-gosok matanya yang masih terasa berat. Dia naik ke kursi yang dibuat khusus untuknya lalu duduk di atas.
"Selamat Pagi, Tuan Muda!" sapa Ling sambil mengambilkan sepotong roti dan sebuah telur mata sapi setengah matang.
"Tuan Muda, anda mau sosis ayam atau sapi?" Tanya Ling sambil menatap An An.
"Ling, bisakah kau memanggilku An An saja?" Pinta bocah itu seraya menunjuk ke arah sosis sapi.
"Tidak!" Anda adalah orang yang saya layani, saya harus bersikap sopan." Jawab Ling dengan tegas.
"Ckk... Kau benar-benar kaku. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai ibu keduaku!" Keluh An An dengan wajah cemberut.
Ling segera mendekat, menundukkan tubuhnya di depan An An.
"Panggil saya Mama, saya akan memanggil Tuan Muda dengan nama anda." Ucap wanita itu dengan mata yang berbinar cerah.
An An menatap Ling dengan tatapan serius, "Mama Ling!" panggilnya tanpa sedikitpun keraguan.
Ling langsung memeluk Tuan Mudanya sambil mengelus rambutnya yang halus.
__ADS_1
"Anak baik, mulai sekarang An An harus mendengar kata-kata dari Mamamu ini!" Ucap Ling dengan senyuman licik.
"Firasatku mengatakan jika aku sedang masuk ke dalam lubang jebakan!" batin An An.
"Sekarang, tolong An An bangunkan dan panggil Nona untuk sarapan!"
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena Mamamu yang menyuruhmu melakukannya!"
"Bolehkah aku menarik kata-kataku tadi?" batin An An dengan wajah cemberut.
An An melompat turun dari kursi, dia berjalan menuju ke kamar Su Li Xia.
"Tok Tok Tok!"
Mendengar suara pintu diketuk, Su Li Xia bertanya dari dalam kamar.
"Siapa?"
"Ini aku, An An!"
Ceklek!
Su Li Xia membuka pintu, menundukkan tubuhnya di depan An An.
"Ada apa sayang? Kenapa pagi-pagi ke kamar Mommy?"
"Mama Ling memintaku untuk memanggil Mommy, Mama Ling mau Mommy ikut sarapan."
"Mama Ling?"
Su Li Xia kebingungan dengan sebutan yang An An ucapkan.
"Benar, mulai sekarang, Mama Ling menjadi Mama An An yang kedua. Mommy tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak!" Jawab Su Li Xia namun segera di ralat oleh Lu Xuan Cheng.
"Aku keberatan!"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1