
Su Li Xia secara reflex mengulurkan lengannya ke arah Lu Xuan Cheng. Mereka terjatuh bersama dengan posisi Su Li Xia berada di atas Lu Xuan Cheng.
"Nona!" panggil Ling yang baru saja masuk ke ruang depan.
Ling membelalakkan matanya, terkejut melihat Su Li Xia yang sedang menindih tubuh Lu Xuan Cheng. Kedua orang itu langsung menoleh, menatap Ling yang masih melebarkan bola matanya.
"Ma... Maafkan saya! Si... Silakan dilanjutkan!" ucap Ling terbata-bata dengan wajah yang merona merah.
Ling segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan Su Li Xia dan Lu Xuan Cheng yang masih berada dalam posisi yang membuat orang-orang menjadi salah paham.
Su Li Xia mendorong tubuh Lu Xuan Cheng, ia menahan kedua tangannya di dada pria itu untuk bangkit dan berdiri.
"Ling, kemari!" perintahnya kepada Ling yang masih berada di dekat sana.
Ling mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas dengan kedua telapak tangan, ia lalu berjalan ke ruang depan.
"Ya, Nona?" Ucapnya dengan wajah yang semerah buah tomat.
"Tolong perbaiki perban ini!" pinta Su Li Xia sambil menunjuk pundaknya.
Ling mengangguk, ia segera berjalan mendekati Su Li Xia lalu membuka perban yang terbalut secara sembarangan.
Lu Xuan Cheng masih berbaring di lantai, dia tersenyum sendiri dengan wajah bodoh yang terlihat seperti orang idiot. Senyum yang muncul begitu saja ketika dia meyakini bahwa Su Li Xia masih belum melupakan masa lalu mereka.
"Debaran jantungnya sangat cepat ketika dia menyentuhku tadi. Aku yakin, dia masih memiliki perasaan terhadapku!" batin Lu Xuan Cheng.
Pria itu bangkit, berdiri dari lantai keras yang membuat punggungnya terasa sakit. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon George. Setelah terdengar suara jawaban dari asistennya, Lu Xuan Cheng kemudian memberikan perintah.
"Bawa beberapa orang kemari untuk membersihkan serangga di sini!"
"Baik, Tuan Muda!" jawab George yang langsung mengemudikan mobil menuju ke rumah Su Li Xia.
__ADS_1
Lu Xuan Cheng berjalan mendekati Su Li Xia, dia menundukkan tubuhnya, berlutut di depan wanita itu. Dia meraih tangan Su Li Xia, mencium punggung telapak tangannya lalu menundukkan kepalanya hingga ke menyentuh lantai.
Su Li Xia dan Ling terkejut melihat sikap Lu Xuan Cheng yang tampak seperti bukan dirinya.
"Bagaimana mungkin seseorang yang sombong dan arogan seperti itu bisa dengan mudah bersimpuh di hadapan seorang wanita?" batin Ling ketika melihat pria tersebut merendahkan diri di depan Nona Mudanya.
Sementara Su Li Xia masih mematung dan menatap pria di depannya dengan ekspresi tidak percaya. ia terkejut melihat pria di depannya tiba-tiba begitu merendahkan dirinya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang terkenal sombong dan arogan seperti pria itu akan begitu mudah bertekuk lutut di hadapannya.
Dalam keheningan, Su Li Xia mengamati pria itu dengan seksama. Dia memikirkan alasan di balik perubahan sikap mendadak pria itu. Apakah ia sedang berpura-pura? Atau apakah pria itu benar-benar memiliki sisi yang lembut di balik lapisan kesombongan dan keangkuhannya?
Namun, Su Li Xia tidak bisa menemukan jawaban yang pasti. Sejenak ia terdiam, menunggu tindakan apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh pria yang sedang menunduk di hadapannya itu.
"Lu Xia, tolong berikan kesempatan untukku! Aku tidak bisa hidup tanpa kalian berdua." Ucapnya dengan nada rendah dan wajah yang masih menunduk ke bawah.
"Jika memang aku pernah berbuat kesalahan, aku minta maaf. Tolong maafkan aku sekali saja!" lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Su Li Xia ingin tahu apa yang ada di balik sikap merendahkan diri pria itu. Apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran dan meminta maaf?
"Kau... Apa kau benar-benar Lu Xuan Cheng yang aku kenal? Atau kau hanya kembaran yang memiliki wajah sama dengannya?" Tanya Su Li Xia sambil menatap kedua bola mata pria di depannya.
"Aku Lu Xuan Cheng, satu-satunya Lu Xuan Cheng yang kamu kenal. Dan aku tidak memiliki kembaran." Ucap pria itu dengan tatapan sedih.
"Lu Xuan Cheng, jangan membuat ekspresi wajah yang menderita seperti itu!" perintah Su Li Xia kepadanya, sebab ia merasa sakit hati ketika menatap wajah pria di depannya yang terlihat sedih dan menderita.
"Apa kau sudah memaafkan aku?" Tanya pria itu dengan wajah memelas.
Su Li Xia sedikit luluh dengan sikap Lu Xuan Cheng yang seperti ini. Tetapi ia tidak ingin memaafkan pria itu dengan mudah. Dia tidak boleh bersikap lunak karena tidak ingin disakiti lagi olehnya.
"Aku belum memaafkanmu! Tetapi, karena An An sudah mengetahui keberadaanmu, kau boleh datang mengunjunginya." Ucap wanita itu dengan wajah datar.
"Aku harus puas dengan hasil yang seperti ini, aku akan memohon dan memohon setiap hari sampai dia memaafkan dan menerimaku kembali." Batin Lu Xuan Cheng.
__ADS_1
Lu Xuan Cheng kembali meraih tangan Su Li Xia, ia mencium punggung telapak tangannya lalu berkata, "Terima kasih! Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakanmu lagi!"
Su Li Xia merasa terharu dengan sikap laki-laki di hadapannya, membuat kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Namun, ia tidak ingin terlihat lemah di depan Lu Xuan Cheng. Dia berusaha menahan air mata yang memberontak meminta keluar.
"Dorrr! Dorrr! Dorrr!"
Suara tembakan membuat suasana haru di tempat itu lenyap seketika. Ketiga orang yang berada di dalam ruangan secara serentak mengarahkan tatapan mereka ke arah pintu.
"Jangan khawatir, itu mungkin George yang sedang menangani pria di luar!" ucap Lu Xuan Cheng mencoba menenangkan kedua wanita di dekatnya.
"Tok Tok Tok!"
George mengetuk pintu gudang. Su Li Xia dan Ling saling bertatapan, seolah bertanya dengan mata mereka, "Apakah kita harus membuka pintunya?"
Lu Xuan Cheng bangkit dan berdiri, dia menelepon George untuk menanyakan keadaan.
"Tuan Muda, semuanya sudah beres!" lapor pria itu dengan suara yang terdengar jelas berasal dari depan pintu.
"Jangan khawatir, George sudah membereskan senuanya." ucap pria itu kepada Su Li Xia yang masih memasang wajah waspada.
Lu Xuan Cheng berjalan ke arah pintu, dia bermaksud untuk membuka pintu itu.
"Drttt... Drttt...!"
Baru saja jarinya menekan tombol untuk membuka pintu, ponsel pria itu berbunyi dan bergetar. Lu Xuan Cheng melihat nama An An yang muncul di depan layar, dia tersenyum lalu menjawab panggilan telepon dari bocah tersebut.
"Tutup pintunya!" jerit An An lewat ponsel.
Ternyata seorang pria bersembunyi di balik semak belukar, George melewatkan pria tersebut. An An mencoba memperingatkan Lu Xuan Cheng tetapi dia telat karena pintu mulai terbuka begitu Lu Xuan Cheng menekan tombol di samping pintu.
"Dorrr!"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^