
Lu Xuan Cheng menurut saja begitu di tarik oleh Su Li Xia, dia berjalan di belakang Su Li Xia yang terus mempercepat langkah kakinya hingga mereka tiba di depan pintu kamar berwarna coklat tua.
Su Li Xia memutar gagang pintu dan mendorong pintu hingga terbuka. Dia masih menarik lengan Lu Xuan Cheng sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Ruangan luas yang terasa nyaman dan beraroma bunga mawar.
"Tunggu di sini, aku mau mandi!" ucap wanita itu lalu berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Lu Xuan Cheng menahan tangan Su Li Xia, menariknya dengan kuat hingga tubuh mereka bertabrakan.
"Kau mau kabur setelah menyeretku kemari?" tanya pria itu dengan wajah nakal yang dipenuhi senyuman menggoda.
Su Li Xia menjauhkan wajahnya dari wajah Lu Xuan Cheng yang semakin mendekat. Dia merasa gugup dan canggung dengan jantung yang berdegup kencang.
"Aku hanya mau mandi, bukan kabur!" jawab Su Li Xia sembari menatap mata Lu Xuan Cheng yang tampak berbinar.
Lu Xuan Cheng menaikkan kedua sudut bibirnya, dia tersenyum lebar hingga kedua matanya mengecil.
"Aku akan melayani Ratuku di kamar mandi!" bisiknya dengan sengaja menghembuskan napas di telinga Su Li Xia.
Hembusan napas dari Lu Xuan Cheng membuat Su Li Xia merinding dan geli. Dia segera mengangkat tangan untuk menutupi telinganya.
Tanpa menunggu persetujuan dari wanita di hadapannya, Lu Xuan Cheng mengangkat tubuh Su Li Xia lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi.
Meskipun sedikit terkejut dengan tindakan pria itu, Su Li Xia tidak berniat menolak. Diam-diam, dia menantikan apa yang akan dilakukan oleh Lu Xuan Cheng di kamar mandi.
Lu Xuan Cheng menurunkan tubuh Su Li Xia di atas meja wastafel yang berada di dalam kamar mandi, meja sepanjang 2 meter yang hanya memiliki sebuah wastafel di ujung sebelah kiri.
Pria itu tersenyum, senang dan bahagia melihat wajah Su Li Xia yang saat ini berada di dekatnya. Ia menyentuh wajah Su Li Xia dengan tangan kanan. Perlahan, jari-jarinya bergerak turun dengan sentuhan lembut hingga ke bibir mungil yang terlihat menggoda.
"Aku ingin mencicipinya!" ucap Lu Xuan Cheng sembari menatap bibir Su Li Xia.
"Bukankah kau sudah mencicipinya tadi?" sahut wanita itu dengan senyuman manis di wajahnya.
"Aku belum sempat merasakan apa-apa dan seorang pengganggu tiba-tiba muncul entah dari mana!" keluhnya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Su Li Xia tertawa kecil, dia memegang wajah Lu Xuan Cheng dengan kedua tangannya.
"Kalau begitu, ayo lakukan sekali lagi!" jawab Su Li Xia tanpa melepaskan sentuhannya dari wajah pria di depannya.
"Aku tidak akan menolak tawaranmu." bisik Lu Xuan Cheng yang lalu menempelkan bibirnya ke bibir Su Li Xia.
Su Li Xia melingkarkan lengannya di belakang leher Lu Xuan Cheng, dan pria itu memeluk pinggang Su Li Xia dengan kedua tangannya.
Ciuman panas dan buas berlangsung selama beberapa menit, detak jantung mereka semakin cepat dengan napas yang memburu.
Perlahan, pria itu menurunkan ciumannya ke leher Su Li Xia. Meninggalkan jejak dan tanda cinta di sana sambil menghembuskan napasnya yang terasa hangat.
Tangannya menyusup ke dalam pakaian, meraba dan melepaskan kait di belakang punggung Su Li Xia. Ia kemudian melepas pakaian dari wanita itu, membuat dua gunung kembar berdiri kokoh di depan wajahnya dengan bentuk yang menggoda.
"Jangan melihatku seperti itu!" ucap Su Li Xia dengan wajah yang memerah.
"Kenapa? Bukankah ini terlihat indah?" goda pria itu tanpa melepaskan tatapannya dari kedua bakpao di hadapannya.
Su Li Xia segera menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, dia merasa tidak nyaman karena terus mendapatkan tatapan tajam dari Lu Xuan Cheng.
"Aku belum mandi!" ucapnya dengan wajah yang semakin merah.
"Jangan khawatir, aku akan membersihkannya." bisiknya lagi.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lu Xuan Cheng segera membenamkan wajahnya, menikmati benda kenyal dan lembut yang menantang di depannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dokter Hanz berada di pengadilan, dia membawa semua berkas yang telah ia siapkan selama beberapa hari ini. Berkas yang diperlukan dalam proses pengadilan untuk membuktikan kejahatan yang dilakukan oleh Ye Du Fan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, pengadilan dibuka dan dimulai. Dakter Hanz menunggu pengadilan berjalan, hingga akhirnya hakim meminta untuk menunjukkan berkas-berkas yang dimiliki oleh Dokter Hanz sebagai bukti dalam kasus Ye Du Fan.
Dokter Hanz segera membuka tas hitam yang ia bawa dan menunjukkan berkas-berkas tersebut kepada hakim. Ia menjelaskan secara terperinci setiap bukti yang ada dalam berkas tersebut, mulai dari hasil tes DNA, rekam medis, dan hasil pemeriksaan forensik yang menunjukkan bahwa Ye Du Fan adalah pelaku dari kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang gadis remaja.
__ADS_1
Hakim dan juri dalam pengadilan tersebut memeriksa berkas-berkas bukti dengan seksama, dan setelah melihat bukti yang ada, mereka menjatuhkan vonis bersalah terhadap Ye Du Fan atas tindakan kejahatannya.
Dokter Hanz merasa lega karena akhirnya ia bisa menghukum pria munafik itu dengan bukti yang sudah ia kumpulkan. Leona masih menunggu Dokter Hanz di depan pengadilan, wanita itu berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding tembok yang berwarna putih.
Setelah proses pengadilan selesai, Dokter Hanz keluar dari gedung pengadilan dan melihat Leona masih menunggunya di luar.
Melihat Pria itu tersenyum lebar, Leona sudah bisa menebak hasil dari pengadilan kasus tersebut. Pria itu kemudian menghampiri Leona, dia tersenyum dan terlihat girang.
"Akhirnya kita menang, Leona," kata Dokter Hanz dengan senyum lega. "Ye Du Fan dinyatakan bersalah dan akan menerima hukuman yang setimpal dengan kejahatannya."
"Jangan terlalu senang dulu, kau tidak tahu apa yang sedang menunggumu di depan sana!" ucap Leona sambil melirik ke pintu keluar dari gedung pengadilan.
Dokter Hanz menjadi gugup setelah mendengar peringatan dari Leona. Dia tentu mengetahui dengan jelas apa yang akan terjadi kepadanya saat menerima dan menyelidiki kasus ini. Apalagi ia selalu menolak uang suap yang ditawarkan kepadanya, tentu saja Dokter Hanz akan diburu dan dibunuh secara diam-diam.
"Ayo jalan!" ajak Leona setelah berdiri dari posisi menyandar.
Leona berjalan lebih dulu, sedangkan Dokter Hanz masih berdiri mematung sambil menatap kepergian wanita itu.
Karena tidak merasakan keberadaan Dokter Hanz di belakangnya, Leona berbalik, menatap pria yang masih berdiri diam di tempat.
"Hei!" teriak Leona dengan suara keras.
Dokter Hanz segera tersadar dari lamunannya, buru-buru ia berjalan menghampiri Leona. Dan wanita itu kembali berbalik badan lalu melanjutkan langkahnya dengan memasang mata dan telinga.
"Berhenti!" perintah Leona ketika mereka baru saja tiba di depan pintu.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Dokter Hanz yang mulai gugup.
"Lima orang!" ucap wanita itu seraya melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru.
"Tidak, enam orang!" ralatnya begitu Leona menyadari kehadiran seseorang yang berbahaya dari arah belakang.
"Menunduk!" teriak Leona sambil berbalik ke belakang.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^