Hidup Kembali Di Tubuh Yang Berbeda S2

Hidup Kembali Di Tubuh Yang Berbeda S2
S2 Episode 44


__ADS_3

"Bammmm!"


Pria yang berada di belakang Lu Xuan Cheng terjatuh begitu An An menekan tombol merahnya. Sebuah lubang muncul, membuat pria itu terjatuh ke lantai bawah tanah. Lubang pun dengan cepat tertutup kembali seperti semula.


Mendengar suara bantingan yang terdengar cukup keras, Lu Xuan Cheng berbalik ke belakang. Namun ia tidak menemukan pria yang tadi hendak melawannya. Begitu pula dengan kedua musuhnya yang masih tertegun saat mengetahui rekannya menghilang secara tiba-tiba. Mereka menatap ke arah belakang Lu Xuan Cheng, tempat di mana rekannya berdiri tadinya.


"Ke mana dia?" Tanya salah satu pria.


"Entahlah, jelas-jelas berdiri di sana. Kenapa bisa menghilang dalam sekejap mata?" Ucap pria yang lain.


Keduanya saling bertatap mata, dan sedetik kemudian, sebuah lubang lain muncul di bawah kaki pria yang berada di depan Lu Xuan Cheng.


"Bammmm!"


Pria itu terjatuh dan lubang pun kembali menutup dengan sempurna.


Kali ini, Lu Xuan Cheng melihat dengan kedua matanya sendiri. Dia melihat lubang yang tiba-tiba muncul begitu keramik berwarna kuning berubah menjadi merah.


Tersisa satu pria di depan Lu Xuan Cheng, pria itu melangkah mundur dengan wajah ketakutan.


Dari dalam kamar, An An tertawa sinis dan berkata dengan suaranya yang menggemaskan.


"Tenang saja, kau khusus ku sisakan untuk melawan Daddy. Hihi...!"


"Hei bocah, kau yang membuat semua perangkap itu?" Tanya Dokter Hanz dengan wajah penasaran.


An An mengangguk dengan wajah bangga. "Tentu saja, mana ada orang lain di sini yang senakal An An!"


Dokter Hanz menatap dengan takjub, dia tidak menyangka An An si bocah nakal itu bisa menciptakan jebakan seperti itu di dalam rumahnya yang juga sudah cukup untuk membuat Dokter Hanz terkagum-kagum.


Beberapa menit berlalu, semua anak buah Lu Cin He terbaring dengan wajah babak belur. Lu Xuan Cheng menginjak tangan salah satu pria yang tersungkur di atas lantai.


"Katakan pada orang gila itu, jika dia masih berani mencari gara-gara, aku akan menghancurkan semua perusahaan miliknya!" Perintah Lu Xuan Cheng dengan wajah dingin yang menakutkan.

__ADS_1


"George! Urus mereka semua!" perintahnya lagi kepada asistennya yang masih berdiri di dekat pintu.


George segera memberi aba-aba kepada para anak buahnya untuk melempar semua anggota Lu Cin He keluar dari pintu gudang.


"Pertunjukkan selesai!" Seru An An sambil melompat turun dari kursinya.


An An berjalan ke tempat Leona berdiri, dia mengangkat kedua tangan. Leona pun segera mengerti apa kemauan bocah itu. Dia mengangkat dan menggendong An An lalu berjalan keluar dari kamar.


Dokter Hanz ikut berjalan keluar, mengekori Leona dari belakang. Meskipun dia tidak tahu ke mana tujuan An An dan Leona.


Leona menelusuri lorong remang-remang yang hanya diterangi beberapa lampu pijar berwarna oranye. Dia terus berjalan hingga terlihat ujung lorong yang merupakan sebuah pintu besi. An An meletakkan jari di atas sebuah kotak kaca yang berada di samping pintu.


"Srekkkk!"


Pintu besi terbuka, An An memperlihatkan senyuman liciknya lalu berseru dengan suara tinggi.


"Saatnya bersenang-senang!"


Leona membawa An An masuk ke dalam, melewati pintu besi yang sudah terbuka lebar. Dokter Hanz berjalan cepat mengikuti langkah Leona agar tidak ketinggalan. Sebab ia merinding melihat ruangan gelap itu.


Sesekali terdengar suara raungan binatang buas yang membuat Dokter Hanz semakin ketakutan dan menciut dengan nyalinya yang hanya sebesar jari kelingking.


Leona berhenti di depan sebuah penjara, penjara yang dikelilingi oleh jeruji besi dan terhubung ke kandang serigala peliharaan Tuan Mudanya.


Dua pria yang terjatuh dari ruang gudang mendarat di dalam penjara besi, keduanya meringkuk ketakutan ketika melihat seekor serigala di depan mereka.


Serigala berbulu putih sedang mengeluarkan lidahnya yang penuh air liur, dengan taring-taring tajam yang tampak kelaparan dan siap mengoyak tubuh kedua pria di depannya.


"Xiao Pai, apa kabar? Lama tidak bertemu. Tubuhmu semakin bertambah besar saja!" Ucap An An sambil melambaikan tangan ke arah serigala putih.


Nama Xiao Pai diambil dari bulunya yang berwarna putih, Serigala itu ditemukan oleh An An ketika ia baru saja dilahirkan. Itu sebabnya An An memberinya nama Xiao Pai. Dan sekarang, serigala putih yang kecil dan mungil sudah tumbuh hingga sebesar manusia dewasa.


"Xiao Pai, dua manusia jahat ini akan ku hadiahkan untukmu. Kau boleh bermain sepuasnya dengan mereka berdua." Ucap An An dengan senyuman licik.

__ADS_1


"Leona, buka pintunya!" Perintah An An sambil menunjuk sebuah tombol biru yang menempel di dinding.


Leona mengulurkan tangannya, hendak menekan tombol di dinding. Namun Dokter Hanz segera menahan tangan Leona.


"Hei kalian, ini namanya pembunuhan! Kalian tidak boleh berbuat seperti ini!" Ucap pria itu dengan nada marah.


An An menatap Dokter Hanz dengan wajah dingin. Dia berkedip 2 kali sebelum berkata kepada laki-laki itu.


"Dokter bodoh, apa kau mau bergabung di dalam sel bersama kedua orang itu?"


Mendengar ancaman dari An An, Dokter Hanz terkejut hingga memundurkan langkahnya. Setelah berpikir beberapa saat dan menenangkan pikirannya, pria itu menatap An An dengan mengumpulkan semua keberaniannya.


"Bocah, kau mungkin masih kecil dan belum mengerti. Jadi dengarkan kata-kata dari Dokter ini. Membunuh bukanlah perbuatan baik, kau tidak boleh melakukannya. Kau bisa dihukum jika membunuh orang. Kau pasti tidak mau dihukum kan?" Bujuk pria itu dengan suara bergetar.


An An tersenyum, menyeringai tipis dengan wajah sinis. "Sepertinya dokter bodoh ini sudah bosan hidup!" Ucapnya kepada Leona.


"Leona, jika dalam hitungan ke 3 dia masih menahan tanganmu, masukkan dia ke dalam!" Perintah An An dengan senyuman licik.


Dokter Hanz segera melepaskan tangan Leona, dia memundurkan langkahnya semakin menjauh dari kedua manusia di depannya.


"Cihhh...! Dasar penakut!" Cibir An An dalam hati.


Leona menekan tombol biru di dinding, pimtu pembatas antara sel penjara dan kandang Xiao Pai terbuka. Serigala putih itu langsung berlari kencang ke dalam sel penjara.


Kedua pria itu saling berpelukan sambil meringkuk di sudut penjara. Xiao Pai melompat dan menerkam tubuh kedua pria tersebut. Mereka menjerit histeris dengan tubuh yang gemetaran.


Dokter Hanz ikut merinding dan ketakutan, dia menutip kedua matanya dengan kedua telapak tangan. Setelah teriakan kedua pria itu tidak terdengar lagi, Dokter Hanz menurunkan tangannya, pelan-pelan dia mengintip ke arah serigala yang di dalam bayangannya sedang sibuk mengoyak daging segar dari kedua pria itu.


"Brukkk!"


Tubuh Dokter Hanz terjatuh ke lantai.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2