
Tok! Tok! Tok!
"An An, kau baik baik saja?" Tanya seseorang dari luar pintu.
"Ckk! Aku baik-baik saja jika bukan karena kau yang tiba-tiba mengetuk pintu!" Gerutu An An dengan wajah cemberut.
An An bangkit dan berdiri, dia berjalan ke pintu kamar lalu membuka pintu dengan wajah kesal.
"Sebaiknya kau memiliki sesuatu yang penting atau aku akan membunuhmu dan menggunakan kulitmu sebagai bahan percobaan!" Ucap An An dengan wajah serius.
"Hei bocah! Kau ini kenapa?" Tanya Dokter Hanz penasaran.
"Jangan banyak omong kosong! Katakan kenapa kau mencariku!"
An An berjalan kembali ke ruang pribadinya, Dokter Hanz mengikuti dari belakang setelah menutup pintu kamar.
"Aku mendapatkan ide untuk menambah fungsi dari penemuan barumu!" Kata Dokter muda itu dengan senyum ceria.
"Apa?" Tanya An An yang masih merasa kesal.
"Sinar X! Tambahkan sinar X ke dalam alat pelacak yang kamu ciptakan itu!" Jawab Dokter Hanz bersemangat.
"Dengan sinar X kita bisa melihat semuanya tanpa harus menggunakan robot capung. Ide yang bagus! Tapi, aku membutuhkan sumber sinar X. Dari mana aku bisa memunculkan sinar X di alat pelacak yang hanya setebal kertas?" Ucap An An sambil berpikir keras.
__ADS_1
Brakkk!
Pintu kamar An An terbuka, Leona berlari ke dalam sambil melirik ke seluruh ruangan.
"Leona!" panggil An An saat melihat wajah wanita itu melalui mata robot capung.
Leona berjalan menuju ke sumber suara, dia masuk ke dalam ruangan tempat An An dan Dokter Hanz berada.
"Tuan Muda!" sapa Leona ketika menatap bocah di depannya.
Leona berjalan ke samping Dokter Hanz lalu menjewer daun telinga pria itu.
"Aaawwww! Aaawwww!"
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Leona dengan wajah dingin yang seperti biasanya.
"Aku hanya memberi saran kepada bocah ini. Kenapa kau galak sekali? Salah makan obat? Atau kau kebanyakan menelan cabe rawit?" Ucap Dokter Hanz dengan wajah cemberut.
"Diam, ayo keluar!"
Leona menyeret pria itu keluar dari kamar An An.
"Ckk... Ckk... Ckk...!"
__ADS_1
An An berdecak sambil menggelengkan kepala.
An An kembali memikirkan saran dari Dokter Hanz. Dia berpikir keras bagaimana cara untuk membuat sinar X di dalam alat pelacaknya.
Sementara itu, di apartemen milik Lu Cin He. Pria itu dan Qing Qing sedang berada di dalam ruangan yang meledak. Lu Cin He melihat dengan mata membesar dan mulut yang menganga.
"Barang antikku! Uang tunaiku! Batu-batu kesayanganku!" Ucap pria itu dengan kaki yang tiba-tiba lemas.
"Sialaaaannnnn!" Jeritnya histeris dengan suara menggema.
"Siapa orang melakukan ini? Aku akan membunuhnya!" Ucap pria itu dengan wajah merah padam.
Qing Qing melirik ke kanan dan kiri, menatap apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Kak Cin, kenapa kau mengumpulkan semua barang berharga di sini?" Tanya wanita itu penasaran.
"Karena aku mengira semuanya akan aman dan baik-baik saja di apartemen yang dijaga dengan ketat di sini. Siapa yang mengira akan terjadi ledakan secara tiba-tiba!"
Lu Cin He melihat sekeliling ruangan, mencari penyebab dari ledakan yang terjadi di dalam ruang harta karunnya.
"Bos, lihat ini!" Ucap seorang anak buah Lu Cin He yang menemukan sisa dari butiran kelereng yang meledak.
"Apa ini?" Tanya Lu Cin He sambil memperhatikan benda hitam yang sudah menjadi arang di tangannya.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^