
"Kau? Agen yang menjawab teleponku?" tanya Gu Ching He dengan wajah kebingungan.
An An mendekat lalu mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan laki-laki yang berada di hadapannya.
"Benar! Senang bertemu dengan anda, Tuan Pelanggan nomor 1." jawab An An sambil menunggu uluran tangan dari Gu Ching He.
Pria itu berdiri dari duduknya, dia memasang wajah kesal dan marah. Tampak jelas jika pria itu meremehkan anak kecil yang berada di depannya saat ini.
"Siapa yang mengutusmu datang kemari? Apakah orang tuamu seorang penipu?"
An An menghela nafas panjang, dia menurunkan uluran tangannya lalu menjawab pertanyaan dari Gu Ching He dengan wajah yang serius.
"Aku bekerja sendiri tanpa diketahui oleh Mommy. Aku senang bisa mendapatkan pelanggan pertana tetapi sepertinya Tuan pelanggan tidak menyukai anak kecil sepertiku meskipun aku bisa menemukan berlian yang sedang anda cari."
An An menyeringai, melemparkan senyum sinisnya lalu berkata dengan suara lantang.
"Kalau begitu, silakan cari orang lain yang bisa membantu Tuan pelanggan untuk menemukan berlian yang memiliki air mata itu!"
"Air mata?" ucap Gu Ching He mengulangi kata An An.
"Benar, aku pernah melihat berlian yang bersinar indah dengan bentuk air mata di tengahnya. Tetapi, karena kau tidak membutuhkan anak kecil sepertiku, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa!" sahut An An lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan.
"Tung... Tunggu!"
Gu Ching He berlari ke depan An An, mencegahnya untuk keluar dari ruangan.
"Ada apa? Bukankah Tuan Pelanggan tidak membutuhkan ku?" sindir An An dengan wajah penuh kemenenangan.
"Ma... Maafkan ketidaksopanan ku tadi. Bisakah kau memberitahu ku di mana kau melihat berlian itu?" tanya Gu Ching He dengan wajah yang memelas.
"Uhmmm...!" An An memejamkan matanya.
"Akan ku pikirkan jika kau memohon kepada ku!" ucap An An sambil mengintip dengan mata kanan.
"Anak ini benar-benar telah melihat berlian itu, tidak ada orang yang mengetahui jika di dalam berlian itu memiliki bentuk air mata. Bocah kecil ini benar-benar jeli, mungkin dia memang bisa menemukan berlian itu. Aku harus menahannya agar tidak pergi!" pikir Gu Ching He.
"Ku mohon, aku akan melakukan apa saja jika kau menemukan berlian itu!" jawab Gu Ching He buru-buru sambil menahan lengan An An.
An An membuka kedua mata, dia mengangguk menyetujui permintaan dari pria yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Aku pasti akan menemukan berlian itu!" ucap An An dengan penuh percaya diri.
Gu Ching He tersenyum lega, dia mengangkat tubuh An An lalu mendudukkan bocah itu ke atas kursi.
"Ayo makan bersama sebelum mencari berlian yang hilang itu!" ajak Gu Ching He yang langsung memanggil pelayan untuk menyajikan makanan.
"Bocah, namamu An An kan?" tanya pria itu sambil menatap wajah bocah di depannya.
An An mengangguk, "Benar, panggil saja aku An An."
"An An, berapa usiamu saat ini?" tanya Gu Ching He karena dia merasa penasaran dengan bocah cerdas yang berada di depannya.
"5 tahun." sahut An An sambil menatap sekeliling ruangan.
"Tuan Pelanggan, aku ingin pergi ke toilet. Bisakah anda menemaniku?" tanya An An sambil memberi isyarat dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah, kebetulan aku juga mau ke sana. Ayo pergi bersama!" jawab Gu Ching He yang menyadari isyarat dari bocah kecil itu.
An An mengangkat kedua lengan, meminta untuk di gendong. Gu Ching He mengerutkan kedua alis mata lalu menghela nafas panjang.
"Hufff...!"
An An memeluk erat tubuh laki-laki itu, ia kemudian berbisik di telinganya.
"Tuan pelanggan, ayo cepat lari ke arah jam 3."
"Kenapa harus melewati lorong sempit itu?" tanya pria tersebut sambil berjalan dengan terburu-buru.
"Karena jalan yang lain sudah dikuasai oleh para pembunuh yang mengincar anda!"
An An mengeluarkan 2 butir bom asap, bersiap untuk melemparkan obat bius itu bila terjadi penyergapan.
"Jangan takut, aku akan melindungi nyawamu karena berlian ku belum ditemukan." ucap Gu Ching He yang mengira jika An An ketakutan.
An An menjauhkan tubuhnya, dia menatap wajah pria yang sedang berlari sambil menggendongnya.
"Tuan pelanggan, seperti nya mereka mengincarmu! Perlukah kita berlari secara terpisah saja?" ucap An An dengan wajah serius karena tersinggung dengan ucapan pelanggan pertamanya itu.
"Huhhh... Beraninya dia menganggap ku seorang penakut!" benak An An.
__ADS_1
"Hei bocah, apa benar usiamu 5 tahun?" tanya Gu Ching He dengan nafas yang memburu.
"Tentu saja usiaku 5 tahun!" jawab An An seraya memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Gu Ching He berlari keluar dari restoran, kini mereka berada di jalan menuju ke parkiran yang berjarak lumayan jauh dari restoran.
"Kenapa bocah 5 tahun sepertimu bisa mengerti banyak hal? Apa kau ini jelmaan siluman?"
"Hihi... Karena aku terlahir sebagai seorang jenius." jawab An An sambil terkekeh.
"Bocah aneh ini, dia tidak memiliki rasa takut sedikitpun di wajahnya. Benar-benar bocah yang langka!" ucap Gu Ching He yang kagum melihat keberanian An An.
Sesampainya di parkiran, puluhan pria berbaju hitam dengan tubuh tinggi dan besar segera menghampiri Gu Ching He.
An An bersiap melemparkan bom asap, tetapi tangannya berhenti ketika melihat puluhan pria itu menundukkan kepala di depannya lalu memberi salam secara serentak kepada Gu Ching He.
"Tuan Gu!"
"Mereka kenalan Tuan pelanggan?" tanya An An memastikan.
"Benar, jadi kau tidak perlu melempar benda aneh yang ada di tanganmu itu!" jawab laki-laki itu sambil menatap genggaman tangan An An.
"Dia tahu aku menggenggam sesuatu? Lumayan jeli juga mata Tuan pelanggan ini." pikir An An.
"Tapi, siapa orang yang mengawasinya tadi?" tanya An An dalam hati.
Gu Ching He membawa An An masuk ke dalam mobil, dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa mereka pulang ke rumah.
Dalam perjalanan, Gu Ching He bertanya kepada An An. "Bagaimana kau bisa tahu ada yang sedang mengawasi kita di dalam ruangan itu?"
An An tersenyum licik, dia lalu menjawab pertanyaan dari Gu Ching He. "Aku melihat sebuah kamera tersembunyi yang terpasang di vas bunga."
"Kau tampak bahagia!" ujar pria itu keheranan.
"Hahaha... Itu karena wajah orang yang sedang menatap kita sangatlah jelek." sahut An An sambil tertawa keras.
Gu Ching He awalnya tidak mempedulikan jawaban dari An An. Setelah beberapa saat, dia menyadari arti kata-kata yang diucapkan oleh bocah itu.
"Kau... Melihat wajah orang yang mengawasi kita?"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^