Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Kita Berteman


__ADS_3

Tubuhnya semakin kaku, kala Arabella berhenti tepat dihadapannya dengan jarak dua meter.


"Haafizh, kamu kok bisa ada disini" Tanya Arabella dengan ramah, bahkan senyum manis dibibir kecilnya yang merah merona tampak menghiasi wajah bulat Arabella.


Syukurlah. Arabella tidak mencurigai dirinya. Setidaknya ia biasa berpura-pura mencari alasan. Rasanya sangat bodoh, kenapa dengan Haafizh? Demi mendekati Arabella ia rela bagun pagi-pagi sekali, menemui Arabella dengan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Hati kecil Haafizh selalu menyebut nama Arabella, wajah manis Arabella selalu membuat Haafizh ingin selalu melihatnya. Mungkin memang terdengar aneh, namun Haafizh sendiri bingung apa ini rasa suka atau hanya penasaran saja.


Jika disuruh untuk dijabarkan lewat kata-kata atau bentuk tulisan, Haafizh memilih lebih baik diam ia sendiri masih bingung dengan hatinya. Kakinya seperti ingin terus melangkah mengikuti langkah kaki Arabella, wanita yang baru dikenalnya ini mampu membuat hati Haafizh tidak karuan.


"Iya, kebetulan saya sedang lewat" Jawabnya bohong. Raut wajah datar Haafizh dapat menyembunyikan rasa gugupnya.


Arabella mengangguk.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam"


Haafizh menatap kepergian Arabella dengan kecewa. Padahal ia masih ingin berlama-lama dengan Arabella, tapi sayangnya wanita itu harus pegi bekerja.


Berbeda dengan Arabella wanita itu lebih santai, kembali bekerja dengan penuh semangat. Hari ini ia terlihat sangat ceria bahkan senyum Arabella terus tersungging. Membuat Mia sabahat Arabela terheran-heran.


"Lagi bahagia" Tanya Mia seraya menyikut tangan kanan Arabella.


"Alhamdulillah setiap hari aku selalu bahagia!" Jawab Arabella dengan tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit. Kedua tangannya sibuk menata makanan yang siap disantap pelanggan. Sementara Mia, tengah memengangi nampan berwarna hitam.


"Kali ini beda, kamu itu lebih kaya orang jatuh cinta." Cetus Mia seraya memperhatikan Arabella.


"Enggak juga. Aku tidak mau jatuh cinta, katanya bisa bikin sakit hati. Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya pengharapan supaya mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui orang yang berharap pada selain-Nya, Allah menghalangi dari perkara tersebut semata agar ia kembali berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala."


Ucap Arabella menjelaskan salah satu Hadits Imam Syafi'i.


"Dan satu lagi dari Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 8. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."


Mia hanya manggut-manggut, seraya mencerna setiap perkataan Arabella.


"Terus gimana dong Ara, kan aku selalu berharap sama Gio."


"Berharap cepet-cepet dinikahi!" Goda Arabella seraya mengedipkan sebelas matanya.


Mia cemburut, tapi sedetik kemudian ia tertawa bersama Arabella. "Tau aja"


"Heh kalian, malah ketawa-ketawa. Cepet kerja!" Ketus Rania salah satu juru masak. Tidak aneh lagi bagi pekerja disana, sikap Rania yang sombong selalu membuat pekerja lain jengah. Apalagi Rania selalu saja mengatur seenaknya.


Mia dan Arabella hanya mengangguk.


Rania mendekati Arabella, wanita itu memang sudah lama tidak menyukai Arabella. Alasan Rania tidak menyukai Arabella karena ia cemburu melihat Arabella selalu didekati Riko sang Manager.


"Jangan mentang-mentang Pak Riko ngedeketin kamu, kamu jadi seenaknya Arabella. Pelayan kaya kamu emang tampang murahan!" Ketus Rania dengan sinis, bahkan ia menyenggol tubuh Arabella sebelum melengos pergi. Sebelum benar-benar pergi Rania kembali berucap tanpa melihat Arabella keduanya saling membelakangi.


"So jual mahal, padahal murahan. Cihh,"


Arabella hanya diam dengan kedua mata terpejam, menahan gejolak hatinya agar tetap sabar. Ucapan Rania sungguh menusuk, tapi itu tidak benar.

__ADS_1


Mia yang geregetan hendak ingin membalas ucapan Rania tapi Arabella malah melarang.


"Sudah biarkan saja, Mia. Lagian aku gak papa" Ucap Arabella, ia tersenyum manis meyakinkan Mia kalau dia baik-baik saja.


Mia mendengus kesal, "Tapi dia ngehina kamu, Ara. Gak bisa dibiarin kita harus balas perbuatan cewek stres kaya tadi" Ucap Mia berapi-api. Sedangkan pekerja lain sibuk berbisik-bisik melihat kejadian barusan.


"Mia, sudah! Ayo kita kembali bekerja"


Hari semakin sore, hingga hari sudah malam tanpa terasa. Perputaran waktu terasa begitu semakin cepat. Suasana malam ini terasa damai, dengan semilir angin yang menerpa permukaan wajah Arabella terasa sangat sejuk. Dirinya baru saja keluar dari restoran bersama Mia yang sedari tadi sibuk mengetik digawai miliknya.


"Yes, yes. Akhirnya Gio mau jemput aku" Oceh Mia dengan senang.


Padahal setiap hari Gio selalu menjemput Mia. Entah kenapa Mia bereaksi seperti tadi.


"Seneng banget, kan biasanya juga emang suka dijemput sama Gio"


Mia menyimpan gawainya kedalam tas lalu berjalan beriringan bersama Arabella.


"Iya. Tapi tadi Gio mau main futsal, yah aku larang! Pokoknya kalau mau futsal harus jemput aku dulu."


Arabella mengangguk saja. Pasalnya ia tidak tahu dunia pacaran seperti apa dan bagaimana rasanya.


Langkah kaki keduanya berhenti, selang beberapa menit Gio datang dengan motor besarnya. Sontak membuat Mia bersorak senang.


"Tuh Gio akhirnya datang juga"


Motor besar Gio berhenti tepat dihadapan Mia, Gio tidak turun ia hanya membuka kaca helmnya.


"Udah dari tadi gue nungguin lo, lama banget!" Mia pura-pura merajuk padahal tidak sampai lima menit Mia menunggu Gio.


"Masa sih, padahal gue udah ngebut."


"Kalian cepettan pulang sana" Titah Arabella yang bosan melihat drama percintaan Mia dan Gio.


"Yaudah kita pulang dulu. Ara, kamu hati-hati!" Ucap Mia seraya berpelukan dengan Arabella.


"Iya," Jawab Arabella seraya melepas pelukannya.


Miapun naik keatas motor Gio, dengan santai ia memeluk badan Gio.


"Dah, Ara," Teriak Mia seraya melepaskan pelukannya lalu melambaikan tangannya pada Arabella. Motorpun berjalan, meninggalkan Arabella.


"Hati-hati" Teriak Arabella dengan membalas lambaian tangan Mia.


Suasana jadi hening saat kepergian Mia, hanya terdengar suara kendaraan beroda empat.


"Kenapa, gak ada yang jemput"


Eh, siapa itu. Arabella menoleh kearah sumber suara.


Haafizh

__ADS_1


Sejak kapan Haafizh ada disana, berdiri dengan punggungnya menyender kemobil. Penampilan Haafizh kali ini seperti yang biasa Arabella temui sebelumnya, memakai seragam dinasnya. Tapi kali ini atasannya kaus polos hitam lengan pendek dengan bawahan celana loreng khas tentara.


Haafizh berdiri tegak, lalu berjalan mendekati Arabella.


"Assalamualaikum, Ara"


"Wa'alaikumsalam" Jawab Arabella singkat ia masih terkejut dengan keberadaan Haafizh.


"Maaf mengejutkanmu"


"Tidak apa. Kenapa kamu ada disini lagi,"


"Kenapa tidak boleh"


Arabella terdiam dari kejauhan ia melihat Bus, mengetahui Arabella tengah memperhatikan sesuatu Haafizh pun turut mengikuti arah pandang Arabella.


"Maaf saya harus segera pulang" Ucap Arabella dengan cepat, ia segera bergegas pergi. Namun dengan cepat Haafizh menarik tas milik Arabella hingga langkah kaki Arabella tertahan.


"Kenapa" Arabella menatap mata Haafizh, keduanya saling bersitatap.


"Tolong jangan pergi dulu," Ucap Haafizh dengan lembut, kedua matanya meredup, entah apa yang ada dipikiran Haafizh ia hanya ingin berlama-lama dengan Arabella.


"Tapi kenapa" Ucap Arabella bingung.


"Arabella, saya ingin berteman denganmu, maksud saya ingin mengenal dirimu lebih baik lagi."


Arabella hanya diam, apa ia seorang tentara seperti Haafizh ingin berteman dengan dirinya yang hanya seorang pelayan. Apa ia tidak malu.


"Kenapa diam, Ara?"


"Saya seorang pelayan, apa kamu tidak malu berteman dengan saya"


Haafizh tersenyum kecil, lalu melepaskan tas Arabella.


"Memangnya kenapa dengan pekerjaan sebagai seorang pelayan, bagiku pekerjaan apapun itu asalkan halal maka itu sah-sah saja. Aku tidak malu! Yang seharusnya malu itu, yang bekerja tapi tidak jujur. Seperti mencuri, atau melakukan korupsi. Bahkan ada yang sampai bertindak kejahatan. Jadi apapun profesimu saya tidak malu, Ara. Justru saya bangga! Kamu mengakuinya, karena banyak orang diluar sana yang mengaku-ngaku berada padahal mereka tak punya. Pada dasarnya kita hanya manusia biasa."


Arabella tertegun.


"Tapi kamu seorang tentara" Ucap Arabella dengan lirih.


"Lalu kenapa kalau saya seorang tentara,"


Arabella menggeleng.


"Tidak ada penjelasan apapun. Kalau begitu, mulai dari detik ini juga kita berteman."


"Baiklah"


Keduanya langsung melempar senyuman, menikmati hari pertemanan pertama mereka berdua. Sebelum mengantarkan Arabella pulang Haafizh mengajak Arabella ke cafe milik tantenya. Katanya ingin mengambil sesuatu yang tertinggal padahal Haafizh hanya ingin berbicara lebih lama dengan Arabella. Selepas mampir sekejap dicafe, Haafizh mengantarkan Arabella pulang, kali ini keduanya lebih akrab tidak ada rasa canggung. Arabella menceritakan semua tentang pekerjaannya begitu juga dengan Haafizh, pria itu menceritakan seluruh pengalaman saat bertugas dengan seksama Arabella mendengarkan cerita Haafizh.


"Arabella terimakasih sudah mau menjadi teman saya" Ucap Haafizh lembut, sesekali ia melirik Arabella yang duduk disampingnya, sementara Haafizh sedang menyetir mobil.

__ADS_1


Arabella hanya mengangguk seraya tersenyum manis.


__ADS_2