
Setelah berbicara dengan Ana, Arabella segera mandi dan melaksanakan shalat isya. Rasa lelah di sekujur tubuh membuat rasa lapar tak terasa kembali. Lagi pula besok libur, Arabella berencana besok akan pergi belanja dan masak banyak untuk keluarga kecilnya.
Andai ibunya masih ada, mungkin rumah ini tidak akan merasa kekurangan. Ayahnya sangat mencintai Alm ibu sampai-sampai tidak mau menikah lagi. Bagi ayah, ibu adalah cinta pertama dan terakhir.
Malam semakin larut dengan cuaca mendung diluar sana, suara guntur terdengar menggelegar dengan seiringnya hujan lebat yang turun begitu derasnya mengguyur permukaan bumi. Tidur malam ini terasa nyaman diiringi suara rintik hujan, suara hewan malam yang biasanya terdengar, kali ini tidak ada mungkin karena hujan.
Sudah berapa lama Arabella terlelap dalam tidurnya, hingga kini ia terbangun pukul 02:04 pagi. Dari pada tidur lagi, Arabella memilih untuk shalat tahajud. Melihat kesamping tempat tidur ada Ana tengah tertidur dengan mulut terbuka. Air liurnya mengalir kesamping membasahi bantal hingga terlihat basah.
Kebiasaan Ana memang seperti ini, jadi sudah tidak heran bagi Arabella. Beralih beranjak dari tempat tidur, lalu pegi berwudhu.
"Dingin sekali!" Ucapnya setelah usai berwudhu.
Menggelar sajadah lalu memakai mukena putih dengan dibagian sisi yang berenda. Mukena tahun lalu, Pak Haidar yang membelikan dari pasar, katanya sisa uang hasil pensiun.
Shalat tahajud empat rakaat telah selesai dengan do'a yang begitu banyak Arabella panjatkan. Tidak luput meminta ingin segera dipertemukan dengan jodoh. Saat sedang khusunya berdo'a sekilas wajah pria yang pernah bertemu dua kali tanpa sengaja melintas begitu saja dipikiran Arabella. Sontak kedua mata Arabella yang terpejam kini terbuka.
"Astaghfirullahalazim"
"Kenapa aku bisa memikirkannya, padahal aku tidak kenal siapa dia. Yaallah ampuni segala dosa hamba, hamba tidak ingin berharap terlalu jauh pada siapapun kecuali pada-Mu."
Mentari telah terbit, memancarkan sinarnya yang begitu indah ke seluruh penjuru bumi. Selepas hujan deras tadi malam, pagi ini terasa sangat sejuk dan cerah. Kicauan burung terdengar jelas dihalam rumah, ada banyak orang berlalu lalang diluar rumah beberapa anak sekolah tampak berjalan berkelompok hendak ingin berangkat sekolah.
"Ahhh, segarnya. Untung jadwal kuliah siang." Ana keluar rumah berdiri di teras dengan kedua tangan direntangkan menikmati angin pagi yang terasa segar, hidungnya menghirup udara segar dengan begitu kuat sampai lalat yang terbang di hadapan nya tersedot ke hidung.
"Aduh... aduh, apa ini!" Ah sesuatu telah masuk ke hidung akibat menghirup udara terlalu kuat.
Berusaha membuang napas agar hewan kecil itu keluar, kedua tangan Ana sibuk memijat hidung persis seperti ingin membuang ingus.
"Huaaaa... kakak. Ada yang masuk," Ana berteriak histeris dengan kaki melompat-lompat.
__ADS_1
Arabella yang tengah bersiap pergi ke pasar jadi terdiam karena mendengar teriakan Ana didepan rumah. Kenapa lagi dengan adiknya. Dengan segera Arabella menghampiri Ana didepan, terlihat adiknya itu tengah bertingkah aneh.
"Ana, kamu kenapa teriak-teriak sih? Nggak enak sama tetangga,"
"Hiks... hidungku,"
"Astaghfirullahalazim" Pekik Arabella terkejut.
Oh ya ampun lihatlah Ana. Kedua hidungnya memerah dengan ingus mengalir keluar terlihat cairan bening dan kental, kedua matanya memerah ada buliran air mata disudut mata Ana.
"Yaallah. Ana, kamu kenapa? Kamu flu,"
Ana menggelengkan kepala kedua tangan Ana sibuk mengusap ingus yang meleleh keluar. "Kak Ara... ada yang masuk ke hidungku." Rengeknya.
"Apa yang masuk? Bukannya tadi lagi mau menghirup udara segar,"
Ana yang mengetahui seekor lalat telah berhasil keluar dari hidung, segera mengambil lalat itu yang menempel diatas bibir.
"Lalat gila, akhirnya kau keluar juga." Dengan sebalnya Ana segera membanting lalat itu ketanah.
Arabella geleng-geleng kepala, dikira apa. Ternyata seekor lalat kecil masuk ke hidung Ana.
Ahh, akhirnya lega sekarang. Ana mengelap ingusnya dengan ujung hijab persis bak anak TK. Padahal diruang tamu ada banyak tisu.
"Kamu ini ada-ada saja, Ana. Lain kali hati-hati!" Tegas Arabella memperingati.
Ana mengangguk kecil. Rasanya sangat kesal sekali mengingat lalat tadi, rasanya Ana ingin menyiksa lalat itu tapi sayang sudah mati duluan didalam hidungnya. Kasian juga lalat itu, mati tenggelam di ingusnya. Rasakan kau lalat lain kali jangan dekat-dekat denganku.
"Yaudah kakak mau pergi ke pasar dulu, jaga ayah baik-baik," Titahnya seraya masuk kedalam rumah untuk mengambil tas.
__ADS_1
"Iya, iya. Kak Ara hati-hati dijalan,"
Arabella mengangguk. "Kakak berangkat dulu. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam."
Arabella bergegas pergi berjalan kaki ke depan jalan sana untuk menaiki angkot. Biasanya setiap pagi seperti ini ada banyak ibu-ibu yang hendak pergi kepasar. Sampai depan jalan raya Arabella menunggu angkot lewat dipinggir jalan, tidak butuh waktu lama angkot berwarna hijaupun berhenti tepat dihadapannya, Arabella segara naik dan angkotpun berjalan menuju pasar. Didalam angkot tidak terlalu banyak orang, hanya beberapa orang, tiga orang ibu-ibu seperti hendak ingin pergi kepasar, dua anak sekolah berpakaian seragam SMP dan satu orang bapak-bapak.
Lima belas menit menuju pasar, angkot tadi telah sampai diparkiran pasar. Arabella segara turun tidak lupa membayar ongkos dan berlalu meninggalkan angkot, ia segara masuk kedalam pasar berjalan kaki melewati beberapa pedagang. Arabella mendekati pedagang sayuran yang terlihat segar-segar.
Membeli banyak bahan masakan, tidak lupa Arabella juga membeli beberapa makanan dan camilan untuk ayah dan Ana. Hari ini ia ingin memasak banyak dengan menu spesial.
Matahari semakin terik diatas sana. Para pengunjung pasar semakin banyak berlalu lalang kesana kemari. Beberapa pedagang asonganpun nampak memenuhi jalan sekitar pasar. Arabella berjalan keluar pasar, stock bahan makanan cukup banyak ia beli. Dua keresek hitam besar cukup penuh membuat tubuh kecil Arabella sedikit kewalahan.
"Berat sekali!" Keluhnya seraya menyekat keringat yang bercucuran didahi. Berjalan kerparkian, mencari angkutan umum yang biasa mangkal didepan pasar.
Ditengah asiknya berjalan kaki sebuah pengendara sepeda motor berpacu cepat, tanpa sadar pengendara motor itu melindas genangan air hujan bekas semalam, membuat cipratan air itu mengenai bagian gamis Arabella. Basah dan kotor.
"Astaghfirullahalazim " Arabella cemburut, lalu jongkok untuk membersihkan bagian gamisnya yang kotor.
"Yah kotor banget, mana basah lagi." keluh Arabella seraya membersihkan ujung gamis padahal ia sangat kewalahan oleh belanjaan belum lagi terik matahari membuat Arabella kepanasan.
Tanpa disadari seorang pria berdiri tepat dihadapan Arabella yang berjongkok, tubuh tinggi pria itu melindungi tubuh Arabella dari panasnya sinar matahari.
Merasa teduh mendadak, membuat Arabella mendongakkan wajahnya. Seorang pria berseragam TNI berdiri dengan gagahnya didahapan Arabella.
"Kenapa berjongkok disini? Nona, bangunlah anda bisa sakit,"
Arabella tidak bergeming, kedua matanya mengerjap gugup. Pria yang sama dengan seragam TNI yang selalu dikenakan kini bertemu kembali dengan keadaan yang tak terduga.
__ADS_1