Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Penyesalan itu datangnya selalu diakhir biar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar. Begitu juga dengan Ana ia harus belajar lebih hati-hati lagi untuk ke depannya.


Pengalaman ini mengajarkan Ana dua hal yaitu jangan mudah percaya dengan omongan orang lain, dan jangan asal menuduh sesuatu yang belum tentu benar.


Setiap penyesalan adalah pengalaman dan pengalaman akan membawa Ana pada kebijaksanaan. Semoga begitu, Ana berharap setelah ini ia tidak akan mengulangi ke salahan yang sama.


Setelah menangis cukup lama, Ana buru-buru bertekuk lutut di hadapan pak Haidar. Ia menangis seraya menunduk.


"Maafkan aku. Aku salah, aku terlalu jahat dan bodoh" Ucap Ana dengan penuh rasa bersalah.


Pak Haidar ikut menangis lalu mengelus kepala Ana dengan penuh kasih sayang.


"Tidak nak, kamu tidak salah. Ini semua salah ayah yang tidak memberitahukannya lebih dulu."


Ana tetap menangis lalu mengangkat wajahnya untuk menatap wajah pak Haidar yang selama ini berperan menjadi sosok ayah yang sangat sempurna di hidupnya.


"Apakah aku masih boleh memanggil mu ayah?" Tanyanya seraya terisak.


Pak Haidar mengangguk.


"Tentu saja boleh. Ana putri kecil ayah, dan selamanya akan tetap begitu"


Setelah mengatakan itu pak Haidar langsung memeluk Ana, keduanya lantas menangis seraya berpelukan erat.


"Ayah, aku sayang ayah"


Setelah mencurahkan kasih sayangnya pada sang ayah sekaligus meminta maaf, Ana berdiri dari berlutut. Kepala nya masih tertunduk karena malu yang teramat sangat.


Ana berhadapan tepat didepan Arabella bahkan posisi keduanya sangat dekat.


"Sebenarnya aku tidak pantas mendapat maaf darimu, tapi aku akan tetap meminta maaf. Kak Ara maafkan aku, aku salah. Aku telah melukai hatimu dan membuat mu menderita. Apalagi aku telah menuduh yang tidak-tidak pada ibumu"


"Jujur saja aku sangatlah malu berdiri disini, kalian semua terlalu baik padaku sedangkan aku malah tidak tahu diri. Maaf, maafkan aku"


Masih dengan kepala tertunduk Ana masih setia menangis. Ia tidak berani menatap Arabella, wanita itu terlalu baik padanya. Tapi ia malah membuat hidupnya menderita.


Tanpa di duga Arabella memeluk Ana dengan erat. "Jangan seperti itu, An. Kamu adikku. Wajar saja kamu bersikap seperti itu karena kamu tidak tahu apa-apa. Sebesar apa pun penyesalan mu, masa lalu tetap tak bisa diubah. Akan tetapi, lebih baik kalau kamu tidak mengingatnya. Lupakan kenangan buruk ini, ibumu orang baik dan ayahmu nanti kita cari tahu sama-sama."


Ana diam seraya mengangguk-ngangguk, tangisnya kembali pecah saat Arabella menegaskan kalau dirinya adalah adik Arabella.


"Ana, Kita menyukai seorang pria yang sama, tapi maafkan aku Ana. Aku ingin egois, aku ingin memiliki Haafizh. Lupakan dia demiku, ku mohon" Pinta Arabella seraya menangis.

__ADS_1


"Aku akan melupakannya. Semoga pernikahan kalian nanti langgeng dan bahagia"


Ana menggigit bibir bawahnya, hatinya yang terluka kini tambah terluka kala pria yang ia idamkan bukan miliknya. Haafizh mencintai Arabella begitu juga dengan sebaliknya. Ana harus lebih sadar diri, dia sekarang harus tau posisi dan batasan.


"Terimakasih" Ucap Arabella seraya melepaskan pelukan.


Ana mengangguk, lalu menatap Haafizh dan Arabella secara bergantian. Keduanya terlihat sangat serasi, cantik dan tampan. Haafizh yang tegas, Arabella yang lemah lembut kedunya seperti saling melengkapi.


"Cincin ini harus kembali pada pemiliknya" Ucap Ana seraya melepaskan cincin permata putih pemberian Haafizh yang seharusnya untuk Arabella.


Haafizh dan Arabella saling pandang, kemudian tersenyum.


"Kak Ara ini milikmu, maaf telah merebutnya" Ana mengambil tangan kanan Arabella lalu memasangkan cincin itu kembali dijari manis.


"Aku ingin kalian hidup bahagia"


Berusaha ikhlas walau sejujurnya sulit, namun Ana akan tetap mencoba sampai ia benar-benar bisa melupakan Haafizh.


"Aku harus ikhlas. Aku hanya orang lain yang beruntung dianggap keluarga"


***


Pak Haidar duduk di kursi tunggal, disebelah sisi kanan Haafizh duduk di kursi panjang sendirian sementara Arabella dan Ana duduk di kursi sisi kiri berhadapan langsung dengan Haafizh di tengah ada meja kaca berbentuk persegi panjang.


"Saya ingin menikahi Arabella besok, kalau resepsi bisa nanti saja yang penting akad dulu"


Pak Haidar tersenyum.


"Memang lebih cepat lebih baik. Tapi nak Haafizh, ini terlalu mendadak, apa sebaiknya pernikahan kalian minggu depan saja sesuai rencana awal."


Benar juga, Haafizh terdiam lalu berpikir sejenak.


"Baiklah. Sesuai rencana awal, pernikahan saya dan Ara akan digelar hari senin depan itu untuk akad, dan untuk resepsi akan di gelar hari selasa."


Pak Haidar mengangguk setuju.


"Baiklah nak, itu lebih baik"


Sesuai rencana awal, pernikahan Arabella dan Haafizh akan digelar hari senin depan jika dihitung dari sekarang menuju hari pernikahan tinggal enam hari lagi.


Haafizh sudah menyuruh teman sejawatnya untuk bersiap latihan pedang pora untuk acara nanti, Haafizh sudah berencana resepsi pernikahan akan di gelar di sebuah gedung.

__ADS_1


Usai berbincang Haafizh pamit pulang, Arabella mengantarkan Haafizh sampai depan halaman rumah.


"Saya pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya" Ucap Haafizh saat keduanya sudah berada diluar.


Arabella mengangguk.


"Belakangan ini aku akan sibuk, kamu jaga diri baik-baik"


"Iya, Haafizh terimakasih banyak. Karena kamu, ke salah pahaman ini sudah berakhir"


Haafizh tersenyum.


"Masalah kamu adalah masalahku juga, jadi jangan berterimakasih"


Selesai berbicara Haafizh langsung pamit pulang, ia berjanji akan mengabari Arabella nanti malam.


Hari terus berlanjut hingga hari menuju pernikahan semakin dekat. menjelang pernikahan membuat Arabella sibuk ia harus menyiapkan kebutuhan untuk nanti, dibantu oleh Ana. Kedua adik kakak itu kembali menghangat seolah tidak pernah ada masalah.


"Undangan udah, ketring untuk jamuan nanti udah, dekorasi juga udah diatur... jadi apa yang belum?" Tanya Ana, tangannya sibuk menceklis beberapa daftar kebutuhan yang sudah selesai.


Sementara Arabella tengah memilih gaun pengantin untuk ia kenakan di hari akad nikah nanti.


"Nanti kita tanya ke ayah, apa yang kurang. Aku ga tau kebutuhan soal begituan" Arabella melirik Ana sebentar sebelum perhatiannya kembali memilih beberapa gambar gaun pernikahan.


Ana mengangguk.


"Prosesi akadnya mau secara autdoor" Tanya pak Haidar, ia muncul dari pintu dapur tangan kanannya memegang sebuah parang besar.


"Iya. Itu kemauan aku sama Haafizh katanya biar lebih leluasa" Sahut Arabella.


"Ayah mau kemana bawa-bawa parang?" Tanya Arabella kembali.


"Iya padahal ini bukan jadwal kerja bakti" Ujar Ana.


"Mau ngebabad kebun sebelah" Sahutnya seraya mengangkat parang itu kehadapan Ana dan Arabella.


"Kenapa harus di babad segala sih yah, cape. Mending babad mantan aku aja" Cetus Ana.


"Lahh bukannya mau secara autdoor jadi kebun sebelah harus dibabad dulu"


"Yaampun" Pekik Ana dan Arabella bersama.

__ADS_1


__ADS_2