Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Pulang


__ADS_3

Ciuman pertama kita


Arebella tersipu malu, ia bahkan merasa gugup luar biasa hingga keringat dingin mulai terasa. Kenapa Haafizh begitu berani padanya, maksud Arabella kenapa Haafizh tidak malu setelah mengingat kejadian semalam.


Arebella menunduk lalu sedikit menggeser letak duduknya, agar sedikit menjauh dari Haafizh. Jarak keduanya sangat dekat jika Haafizh sedikit memajukan kepalanya maka hidung keduanya akan bersentuhan.


"Ra kamu lupa?" Tanya Haafizh seraya tersenyum nakal.


Bagaimana ini Arabella merasa gugup sekali, bahkan bernapas saja rasanya sangat enggan.


"A-aku... tidak lupa" Jawab Arabella cepat dengan suara tercekat.


"Kalau lupa ayo kita ulangi lagi" Ajak Haafizh seraya tersenyum-senyum.


"Jangan! Haafizh apa-apaan" Arabella cemberut kesal, dengan berani ia memukul tangan kanan Haafizh.


Plakk..


Cukup keras namun Haafizh tertawa seraya membenarkan letak duduknya di balik kemudi.


"Bercanda. Oh iya, kira-kira malam pertama kita akan se-hot apa ya, Ra?"


Eh, Arabella bergidik ngeri. Bisa-bisanya, Haafizh memikirkan malam pertama mereka nanti.


"Dasar mesum"


***


Setelah berbincang hal gila bersama Haafizh, kini mobil yang dikemudikan Haafizh melesat membelah jalanan ibu kota yang sangat ramai. Syukurlah jalanan tidak terlalu macet, keduanya bisa sampai sekitaran jam satu siang.


Sepanjang perjalanan Haafizh tak henti-hentinya menyuruh Arabella untuk tidur saja, namun Arabella tidak mau ia ingin menikmati perjalanan jauh ini.


"Kalau laper bilang ya Ra, kalau mau ketolet juga bilang jangan ditahan-tahan. Sekarang kamu pusing ga, Ra? Kalau pusing nanti kita berhenti dulu untuk istirahat"


Perhatian Haafizh membuat Arabella merasa sangat diperhatikan, tapi pertanyaan Haafizh terlalu banyak. Bingung menjawab Arabella hanya mengiyakan saja seraya mengucapkan terimakasih.


Sekitar pukul sebelas mobil Haafizh memasuki tol, Arabella tanpa sadar sudah tertidur sejak lima menit yang lalu. Sesekali Haafizh melirik ke Arabella yang tengah tertidur pulas.


"Kamu cantik dan manis. Pria dewasa sepertiku pasti menginginkan seorang wanita untuk cepat-cepat diajak menikah" Ucap Haafizh seraya menatap Arabella.


Wajah Arabella terlihat sangat damai, menyejukkan hati Haafizh di setiap ia menatap Arabella, apalagi manik hazel Arabella sangat teduh, tatapan yang menyiratkan kelembutan itu membuat Haafizh candu.


Akhirnya pukul satu siang mobil Haafizh sudah sampai didepan rumah pak Haidar, Arabella sudah bangun saat Haafizh mengajaknya untuk berhenti di res area sekaligus makan siang dan melaksanakan shalat dzuhur.


Rumah sederhana sudah terlihat jelas didepan mata, Arabella sedikit takut untuk masuk kedalam rumah. Keduanya turun lalu berjalan menuju teras rumah.

__ADS_1


Menyadari sikap takut Arabella, Haafizh menghentikan langkahnya lalu menatap Arabella dengan lembut.


"Jangan takut. Ayahmu pasti sedang merindukan mu. Kamu pergi dari rumah tanpa pamit, itu karena kamu butuh waktu untuk sendirian. Ayo kita masuk! Sekarang disini ada saya, mari kita selesaikan masalah ini bersama"


Arabella mengangguk.


Saat keduanya ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintuk rumah terbuka dari dalam.


Jantung Arabella semakin berdebar kala tatapannya saling bertemu dengan Ana.


Ana, adik perempuannya.


Terlihat Ana sangat terkejut apalagi di samping Arabella ada Haafizh dengan wajah dingin dan datar.


Bibir Arabella bergetar, kedua tangannya mencengkeram kedua sisi baju gamis yang dikenakan. Matanya terasa memanas, hendak ingin menangis.


"A-Ana... " Ucap Arabella gemetar bahkan terasa berat untuk memanggil nama itu.


Ana memalingkan wajah, ia menggigit bibir bawahnya. Kedua kakinya terasa lemas seperti tak berpijak ke lantai.


Bukannya menjawab Ana malah diam dengan tangan kanan masih setia memegangi knop pintu.


"Ana, ambilkan ayah air hangat nak"


Tanpa memperdulikan Ana, Arabella menerobos masuk ke dalam hingga Ana terpaksa minggir sampai merapat ke tembok.


Langkahnya cepat ingin segera masuk ke dalam kamar sang ayah, sampai diambang pintu terlihat pak Haidar tengah terbaring lemah diatas ranjang, tubuhnya yang tua dan keriput itu semakin kurus bahkan tulang-tulang tubuh tampak menonjol.


"Ayah" Panggil Arabella pelan.


Pak Haidar yang tengah terbaring, lantas terkejut hingga kepalanya cepat-cepat menoleh ke sumber suara.


Tatapan anak dan ayah itu beradu, tersirat rindu yang besar. Mata pak Haidar berkaca-kaca, tangan yang tergeletak lemah itu tetangkat ke udara seperti ingin meraih Arabella.


Putri kecilnya telah pulang, bahkan sekarang Arabella tepat di depan mata.


"Ara, putriku" Ucap pak Haidar lemah lalu terbatuk-batuk.


Arabella segera mendekat pada ayahnya, tak kuasa menahan tangis Arabella menangis sejadi-jadinya. Dengan penuh rasa rindu Arabella memeluk tubuh pak Haidar dengan penuh kasih sayang.


Terasa badan ayahnya terasa panas dengan tubuh yang semakin kurus.


"Ayah" Isak tangis Arabella semakin menjadi, kala pak Haidar membalas pelukannya.


"Bu, anak kita pulang" Pak Haidar menangis tersendu. Ia merasa bahagia sekaligus tenang bisa kembali bertemu dengan Arabella.

__ADS_1


Tak kuasa menahan tangis, keduanya lantas menangis seraya berpelukan. Berkali-kali Arabella meminta maaf pada pak Haidar atas kepergiannya, Arabella juga lantas merasa sangat bersalah karena dirinya ayah sakit.


"Ayah sayang putri ayah, mana bisa ayah marah nak. Ayah sakit karena sudah tua"


Namun tetap saja Arabella merasa bersalah, ia merasa egois. Andai saja waktu itu ia tidak pergi dari rumah pasti ayahnya tidak akan seperti ini.


Haafizh yang sedari tadi memperhatikan Arabella dan pak Haidar ikut merasa sedih. Dengan perlahan Haafizh mendekati pak Haidar saat Arabella sudah melepaskan pelukannya.


Pak Haidar yang menyadari adanya Haafizh langsung tersenyum lalu menyapa Haafizh.


"Nak Haafizh"


Haafizh tersenyum lalu ikut berlutut disebelah Arabella, sementara pak Haidar tetap terbaring lemah diatas ranjang.


"Iya pak. Bapak cepat sehat ya, saya dan Ara sangat menginginkan Bapak sehat kembali" Ucap Haafizh ramah seraya mencium tangan kanan pak Haidar.


"Iya nak"


Tatapan pak Haidar kembali pada Arabella, ia tersenyum lalu mengusap kepala Arabella dengan lembut.


"Kalian kapan menikah? Ayah ingin segera melihat Arabella dan nak Haafizh hidup bersama"


Arabella melirik Haafizh.


Haafizh tersenyum.


"Besok saya akan menikahi putri bapak" Ucap Haafizh dengan mantap.


Pak Haidar tersenyum. "Apa tidak terlalu cepat nak Haafizh?"


"Tidak pak, justru saya sangat ingin segera menikahi Arabella. Kalau Arabella mau, sekarang juga boleh" Ucap Haafizh seraya melirik Arabella yang kini tengah menantap ke arahnya.


Arabella mendelik lalu memalingkan wajahnya dari Haafizh. ia kembali menatap kondisi ayahnya yang terlihat lemah.


"Aku ingin menikah saat ayah sehat, aku ingin membagi rasa bahagiaku pada ayah. Jika aku bahagia, ayah juga harus bahagia"


Dibalik tembok dekat pintu kamar pak Haidar, Ana merasa tidak dianggap. Ia menangis sendirian, hatinya sakit saat mendengar perkataan antara ayah, Arabella dan Haafizh.


Kepalanya menunduk menatap cincin yang diberikan Haafizh untuk Arabella namun Arabella telah melepaskannya lalu memberikan cincin ini padanya.


Ah, kenapa sakit sekali.


Ternyata harapan selama ini tidak seindah yang ia bayangkan. Di tengah menangisnya Ana dalam diam, ia tersentak terkejut saat Haafizh mengatakan.


"Ana harus tau, jika dia bukan anak kandung bapak. Dan dia juga harus sadar kalau dia itu sudah kurang ajar"

__ADS_1


__ADS_2