
Akhirnya acara pernikahan Haafizh dan Arabella telah selesai, pak Abian pamit pulang karena hari sudah sore. Haafizh sudah berada di dalam kamar Arabella menaruh koper miliknya dekat lemari.
Untuk pertama kalinya Haafizh masuk kedalam kamar Arabella, ia menyungingkan senyuman kala melihat setiap sudut kamar milik istrinya.
"Rapih, bersih dan wangi" Gumamnya.
Arabella masih diluar, sibuk berfoto bersama Mia dan Ana. Pak Haidar masuk kamar katanya sakit kepala.
"Sekali lagi selamat ya Ra, aku pulang dulu" Pamit Mia seraya memeluk Arabella.
"Iya. Jangan lupa besok dateng ke resepsinya juga"
Mia mengangguk. "Pasti, aku mau lihat pedang pora" Ujarnya seraya terkekeh.
Kedua sahabat itu berpisah di teras rumah, sebelum pergi Mia memberikan sebuah kado untuk Arabella. Entah apa isinya, Mia sempat berpesan agar memakainya malam ini, katanya biar Haafizh makin ngiler.
Tidak mau ambil pusing tentang perkataan Mia, Arabella segera masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ada Ana tengah bermain gawai seraya memakan kue.
"Kamu belum ganti baju?" Tanya Arabella
Ana menghela napas lalu menatap Arabella seraya berdecak.
"Ck, seharusnya aku yang nanya gitu. Tuh, bang Haafizh udah nungguin dikamar"
"Iya, iya. Ini juga mau ke kamar"
Arabella berjalan perlahan menuju kamar, gugup sekali rasanya saat ingin membuka pintu. Hatinya berdebar kuat, didalam ada Haafizh. Bagaimana jika malam keramat yang dibahasnya akan terjadi sekarang Arabella benar-benar takut dan gugup.
Akhirnya dengan segala keraguan Arabella membuka pintu kamar lebar-lebar, terlihat Haafizh tengah duduk di sisi ranjang.
Arabella melangkah masuk kedalam lalu menutup pintu.
"Temen kamu udah pulang" Tanya Haafizh.
Arabella yang gugup jadi gelapan, ia hanya mengiyakan seraya berjalan mendekati lemari tanpa menoleh pada Haafizh.
Arabella membuka lemari lalu mengeluarkan satu setel baju tidur baru untuk ia kenakan malam ini.
"Mas aku mau ganti baju dulu, kamu mau mandi sekarang?"
Haafizh mengangguk, "Iya mau mandi" Ucapnya seraya berjalan mendekati koper, Haafizh mengambil koper lalu membongkar isi koper untuk mengambil handuk miliknya.
Arabella diam seraya memperhatikan apa yang Haafizh lakukan.
"Yaudah aku mandi dulu" Ujarnya, meninggalkan koper tergeletak dilantai dengan beberapa baju yang berantakan.
Setelah Haafizh masuk kamar mandi Arabella langsung duduk didepan meja rias untuk membersihkan riasan wajah, selesai membersihkan riasan wajah Arabella langsung melepas hijabnya yang sedari tadi melekat dikepala.
Arabella terkekeh, kala melihat rambut hitam panjangnya yang sangat berantakan seperti singa betina.
Suara gemericik air masih terdengar dari kamar mandi, Arabella masih merasa aman ia buru-buru beranjak dari meja rias. Sebelum benar-benar melepas gaunnya, Arabella melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
Masih aman
Dengan cepat Arabella melepas gaun pengantin yang sedari tadi membalut tubuhnya, menyisakan pakaian dalam berwarna hitam yang begitu tampak kontras ditubuh putih Arabella.
Baru saja Arabella ingin menyimpan gaun itu diatas meja, suara pintu kamar mandi terbuka membuat Arabella terkejut bukan main. Dengan cepat ia berbalik badan melompat ke atas ranjang, lalu menarik selimut sampai menutup ke ujung kepala.
Haafizh keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit sampai pinggang, dada bidangnya terekspos begitu saja dengan rambut basah yang sesekali meneteskan air. Haafizh yang baru keluar lantas heran melihat Arabella tengah bergumul di dalam selimut tebal di sore hari, padahal Arabella belum mandi.
"Ra kamu tidur?" Tanya Haafizh, ia berjalan mendekati koper untuk mengambil baju, saat hendak ingin berjongkok mata Haafizh langsung tertuju pada gaun pengantin serta hijab yang tadi Arabella kenakan berserakan dilantai.
Haafizh berbalik badan lalu melirik Arabella yang kini masih diam dibalik selimut, lalu tatapannya tertuju pada satu setel baju tidur yang Arabella ambil di lemari. Baju tidur itu masih rapi, berarti Arabella belum ganti baju.
"Ra, kamu lagi gak pake baju"
Eh. Bagaimana bisa Haafizh tau, apa tadi dia sempat melihatnya? Arabella benar-benar panik sekaligus takut. Rasa-rasanya ia ingin berlari ke kamar Ana dan bersembunyi disana.
Bagaimana ini, Arabella sangat malu. Bagaimana kalau Haafizh melihat dirinya yang hanya memakai pakaian dalam. Membayangkan nya saja membuat Arabella benar-benar malu.
"Emm... anu itu, a-aku... aku"
Didalam selimut rupanya sangat gerah, sekaligus sesak. Arabella tidak akan kuat jika terlalu lama bersembunyi di dalam selimut.
"Kamu ingin menggoda suamimu"
"Bukan" Jawab Arabella dengan cepat, bahkan ia tanpa sadar menyibakkan selimut sampai sebatas leher hingga rambut berantakan Arabella yang tergerai terlihat oleh Haafizh. Lantas saja, Haafizh yang sekarang menjadi suaminya tersenyum senang.
Wajah Arabella berkeringat, hanya bagian kepala yang tak tertutup selimut. "Aku ingin ganti baju tapi kamu keburu keluar, ehh rambutku" Pekiknya seraya buru-buru menutupinya lagi dengan selimut, tapi dengan sigap Haafizh menahan selimut itu.
"Tapi aku malu Mas"
Arabella benar- benar malu, ia ingin kabur atau setidaknya ia sangat ingin berganti baju. Dimana Ana kenapa ia tidak mengetuk pintu, harapan satu-satunya ada suara yang mengetuk pintu kamarnya agar Haafizh pergi.
"Ra" Suara Haafizh terdengar serak dan berat. Nalurinya sebagai pria dewasa bangkit menjadi gairah, ia sekarang berhak atas Arabella. Wanita yang beberapa jam lalu sah menjadi istrinya.
Arabella diam, tubuhnya kaku saat Haafizh naik keatas ranjang. Tangan kekar itu hendak ingin menyingkirkan selimut dari tubuh Arabella, namun Arabella tahan.
"Aku malu" Ucap Arabella pelan.
Arabella menatap Haafizh dalam-dalam. Suaminya baru saja selesai mandi, rambut hitam pekat yang basah sesekali meneteskan air, wajah tampannya terlihat segar, perut kotak-kotak layaknya roti sobek itu terpangpang jelas, apalagi Haafizh hanya memakai handuk yang melilit sepinggang.
Haafizh memajukan kepalanya lalu mencium bibir Arabella, aroma harum sabun tercium sempurna. Lama-lama Arabella mulai nyaman. Terasa detak jantung yang berdebar cepat.
"Sayang, Mas menginginkanmu"
Ciuman dibibir semakin dalam dan menuntut, Haafizh mengalungkan tangan Arabella kelehernya. Haafizh ingin lebih dalam lagi menyelusuri setiap inci tubuh Arabella.
Tangan Haafizh mulai tak bisa diam ditempat, perlahan ia menyibakkan selimut hingga jatuh kelantai sontak Arabella terkejut lalu diam mematung, Haafizh yang menyadari itu lantas melepaskan ciumanya.
"Biarkan aku melihatnya" Bisiknya ditelinga Arabella.
Tubuh putih mulus milik Arabella terpampang jelas, istrinya hanya mengenakan pakaian dalam. Melihat itu ia merasa tubuhnya memanas, gairahnya bergejolak dengan cepat begitu saja.
__ADS_1
Tangan Arabella menyilang, menutupi bagian dada. "Mas aku malu" Namun sepertinya Haafizh tak peduli, ia meraih kedua tangan Arabella lalu menggenggam nya dengan lembut.
"Tidak perlu malu, Ra. Aku menyukai ini semua" Ucap Haafizh dengan lembut, ia mencium kening Arabella lalu turun mencium kedua mata Arabella bergantian berlanjut mencium hidung, pipi kanan kiri terakhir bibir mungil Arabella.
Sore hari yang begitu terasa panas bertambah panas oleh sepasang pengantin baru, entah berapa lama Haafizh memanggut bibir Arabella rasanya ia merasa candu.
Tubuh gagah Haafizh beralih menindih tubuh Arabella, keduanya hanyut dalam rasa baru yang begitu memabukkan. Ciuman Haafizh turun ke leher, hingga berhenti di bukit kembar Arabella yang masih tertutup.
Rasa penasaran sekaligus ingin tahu ingin segera mencoba bukit milik Arabella, Haafizh segera menyingkirkan penghalang itu.
"Mas" Arabella tampak malu kedua tangannya kembali menutupi dadanya yang polos.
Haafizh diam, ia meraih tangan Arabella lalu meremasnya pelan. Kedua tangan keduanya saling bertautan dengan Haafizh yang mulai mendaki bukit.
Arabella kembali memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan Haafizh pada tubuhnya. Ia merasa sensasi aneh tengah menjalar, merambat hingga terasa nikmat.
Sentuhan yang diberikan Haafizh pada tubuhnya membuat Arabella merintih nikmat, ******* lembut itu terdengar sangat bergairah ditelinga Haafizh hingga ia semakin berani turun ke perut hingga menjelajahi area sensitif Arabella.
Arabella hanya diam, menerima setiap sentuhan Haafizh pada tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun. Sementara Haafizh masih memakai handuk putih sepingganng.
"Mas" Suara Arabella tertahan, tangannya meremas rambut Haafizh. Suaminya tengah asik dibawah sana.
Sensasi aneh yang mendesak segera ingin keluar dari dalam tubuhnya, Arabella merasa kenikmatan yang baru ia rasakan saat sentuhan Haafizh semakin liar dan tak terkendali "Mas berhenti aku mau pipis" Pekik Arabella. Namun Haafizh tidak mengubris, sampai akhirnya tubuh Arabella terkulai lemas dengan napas tersengal.
Haafizh berhenti ia kembali menyapu wajah Arabella dengan ciuman. Memanggut bibir kecil Arabella dengan menuntutnya agar lebih dalam.
Haafizh melepaskan ciumannya, lalu menatap Arabella dengan sayu. Napasnya berat dengan peluh keringat membanjiri tubuh keduanya. Arabella menatap Haafizh dengan malu, ia merasa rambutnya yang berantakan semakin berantakan.
"Kamu cantik banget, Ra."
Suara Haafizh serak dan berat, ia kembali mencium bibir Arabella. Keduanya kembali hanyut dalam ciuman yang begitu bergairah, entah berapa lama ciuman itu berlangsung sampai tangan Haafizh melepas handuk miliknya yang sedari melilit dipinggang hingga ia lempar ke lantai. Keduanya telanjang bulat tanpa ada sehelai benang yang menutupi tubuh polos keduanya.
"Mas"
"Boleh ya, Ra"
Haafizh menatap Arabella dengan sayu, ia ingin memiliki Arabella seutuhnya. Menyatukan tubuh keduanya dengan penuh rasa cinta, menikmati setiap sentuhan yang baru pertama kali keduanya rasakan. Ternyata sangat nikmat sekaligus candu.
Arabella mengangguk pelan sebagai izinnya. Sebagai seorang istri melayani suaminya adalah suatu kewajiban.
Tangan kanan Haafizh menyentuh ujung kepala Arabella tepat di ubun-ubunnya.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Bukan malam pertama, melainkan sore pertama bagi sepasang pengganti baru. Saling menyalurkan rasa cinta yang mengebu, kasih sayang dan rasa cinta yang tumbuh besar dihati membuat keduanya saling menyatu.
Arabella mengeluh sakit, saat Haafizh berhasil menyatukan tubuh keduanya. Ada rasa bahagia yang bergejolak dirongga dada tatkala keduanya saling meraih kenikmatan.
"Kamu cantik dan nikmat" Ucap Haafizh ditengah kegiatan aktivitas panasnya.
Kegiatan bercocok tanam pun terjadi hingga matahari terbenam. Haafizh maupun Arabella keduanya larut dalam penyatuan tubuh yang begitu bergairah.
__ADS_1