
Rupanya rindu di hati tidak bisa dibohongi, mungkin selama ini rasa rindu itu selalu Arabella tepis jauh-jauh untuk sekedar melupakan semua tentang Haafizh.
Tapi saat dalam titik paling tinggi Arabella tak bisa menepis rasa rindu itu, Arabella seperti kehilangan bagian dalam hidupnya. Haafizh, dia ingin melihat Haafizh.
Tapi dimana dia? Arabella bagai berjalan di kegelapan malam yang pekat tidak ada secercah cahaya yang bersinar. Semua ini terlalu gelap, semu dan sulit.
Mungkin selama ini ia egois, namun baru kali ini ia menyadari satu hal. Yaitu, merindukan Haafizh terasa manis dan pahit. Arabella merasa bahagia ketika ia mengingat semua momen yang telah keduanya alami bersama, dan kemudian Arabella merasa sangat sedih karena tidak dapat memiliki Haafizh.
Wajar bagi Arabella merindukan Haafizh, pria berbaret itu adalah cinta kedua setelah ayahnya. Sosok pria asing pertama yang membuat Arabella jatuh cinta. Segores hingga balutan cinta serta kasih sayang Haafizh telah mewarnai hidup Arabella.
Goresan penuh warna yang mulanya kecil kini meluas hingga penuh meluap menjadi kian indah. Haafizh seperti cahaya indah dihati Arabella, menyinari serta mengisi disetiap ia bernapas.
Arabella merindukan Haafizh dengan cara yang bahkan tidak bisa dimengerti oleh kata-kata. Bahkan ia harus berpura-pura mengabaikan rasa rindunya, padahal di hatinya paling dalam Arabella benar-benar merindukan Haafizh.
Usai shalat magrib berjamaah Arabella langsung pulang, sepatu flat abu miliknya sudah rusak dimana bagian alas kaki terlepas. Padahal malam ini hujan deras, Arabella mau tidak mau harus berjalan kaki tanpa memakai sepatu.
Baru beberapa meter meninggalkan mesjid, tubuh Arabella sudah basah kuyup. Tubuh mungilnya menggigil karena dingin.
"Apa malam ini aku akan mati" Tanya Arabella pada dirinya sendiri.
Langkah kakinya terus berjalan melewati beberapa toko, hingga tanpa sadar kaki Arabella menginjak pecahan botol kaca. Kakinya terluka, hingga mengeluarkan darah segar. Arabella meringis, rasanya sangat perih dan sakit.
Arabella celingak celinguk ke sekitar jalan, mencari angkutan umum rupanya tidak ada. Bahkan jalanan sepi, kenapa bisa seperti ini padahal Arabella sudah ingin pulang.
Tidak ada pilihan lain selain terus berjalan dengan terpincang, sesekali penglihatan Arabella menatap ke sekitar jalan memastikan ada angkutan umum yang lewat.
Rasa-rasanya Arabella ingin menangis, kenapa hidupnya jadi begini. Sebenarnya dosa apa yang pernah ia perbuat hingga merasa bahagiapun merasa sulit untuk di dapat.
Sekarang hidupnya sendirian tanpa sosok keluarga maupun saudara. Arabella merasa sebatang kara, tapi tak apa bukannya ini salah Arabella sendiri karena pergi dari rumah. Seharusnya ia tidak mengeluh seperti ini, tapi kala sedang rapuh Arabella selalu mengeluh sendirian.
Dulu ada ayah yang selalu menjadi pelindung dirinya, ada Ana adik perempuan satu-satunya yang selalu menjadi berbagi cerita dalam suka dan duka bahkan Ana selalu menjadi penghibur kala ia sedih. Tapi sekarang, Arabella sendirian.
__ADS_1
Sebenarnya untuk apa ia hidup? Arabella merasa seperti sampah, jadi untuk apa ia hidup. Tujuan yang selama ini ingin hidup bahagia dan tenangpun telah sirna, hidupnya kacau bahkan hancur hingga sulit tertata kembali.
Entah sudah seberapa jauh Arabella berjalan kaki, hingga suasana semakin sepi. Udara malam semakin terasa dingin, untungnya hujan deras kian berubah menjadi gerimis.
Kaki Arabella masih sakit bahkan perihnya semakin menjadi-jadi, hingga tidak sadar Arabella jatuh terduduk.
Kepalanya tertunduk dengan seiringnya buliran air mata yang kian berjatuhan, Kedua bahu Arabella naik turun menandakan sang empunya tengah menangis dengan begitu pilu.
Arabella menangis sendirian dipinggir jalan, hanya ada cahaya dari penerangan tiang lampu jalan. Jalanan sepi, dengan hembusan semilir angin yang begitu dingin. Hujan kecil masih setia berjatuhan, membasahi seisi permukaan bumi.
"Aku ingin mati"
Rupanya Arabella sudah tidak kuat untuk berpura-pura baik-baik saja, ia terlalu rapuh untuk berjalan sendirian. Ia merasa putus asa, tapi kenapa ia belum mati juga.
Selama ini Arabella selalu mengkonsumsi obat tidur dan obat penenang. Pikiran dan hatinya terguncang hebat usai mengetahui kenyataan pahit dari Ana, ibunya wanita penggoda, ibunya perebut suami orang dan dirinya perusak kebahagiaan Ana bahkan merebut jodoh Ana.
Arabella hampir gila, ia merasa stres. Terpaksa ia membeli obat-obatan yang membantu jiwa dan pikirannya tenang hanya untuk sesaat.
Hatinya terlalu sesak dan sakit, Arabella terus terisak. Tangis pilu yang menyayat hati, hidup Arabella memang malang. Takdir baik seolah belum berpihak padanya.
Deg
Arabella terkejut bukan main, seketika tangisnya berhenti. Tubuhnya membeku dengan seiring debaran jantung yang cepat. Siapa yang memeluknya? Apa orang jahat?
Arabella menatap tangan kekar itu yang melingkar dipinggangnya, kenapa tangan ini seperti tak asing. Rasanya sangat hangat dan nyaman, sampai beberapa detik kemudian tangan itu memeluk Arabella semakin erat, dan... apa ini? Kepala orang itu bersandar pada pundaknya.
"Ini saya Ra, calon suamimu"
Deg
Deg
__ADS_1
Jantung Arabella seperti hendak ingin meloncat keluar dari tempatnya, ia bahkan sampai lupa bagaimana caranya bernapas.
Haafizh
Arabella sekali lagi menatap lengan kekar yang kini tengah memeluknya erat, dan ini, apa ini? Ini pasti mimpi, sepertinya ia tengah pingsan lalu bermimpi aneh seperti ini.
"Ra, Haafizh mu telah kembali"
Kali ini suara itu sangatlah lembut, berbisik pelan tepat di telinga Arabella.
Kali ini Arabella menyadari satu hal, ternyata ini nyata. Bahkan Arabella bisa merasakan detak jantung Haafizh. Tubuh keduanya saling menempel, hingga tidak ada celah satu cm pun bagi keduanya.
Dibawah sinar lampu yang temaram dengan hujan gerimis, Haafizh memeluk tubuh Arabella dari belakang. Pria itu seperti tengah merasakan kesedihan Arabella, wanita yang dicintainya kini tengah terluka. Haafizh ingin membalut setiap luka yang ada pada Arabella dengan sentuhan penuh kasih sayang.
Kedua mata Haafizh terpejam, merasakan setiap detiknya bersama Arabella. Keduanya diam membisu dalam kesepian gelapnya malam, seolah tengah saling menyalurkan rasa rindu yang sudah lama terpedam.
Entah berapa lama keduanya saling diam, sampai pada akhirnya Haafizh melepaskan pelukannya. Ia beranjak untuk pindah, kali ini Haafizh berjongkok dihadapan Arabella.
Hatinya terilis sakit, kala melihat keadaan Arabella seperti ini. Wajah Arabella pucat dengan kedua mata sembab, tubuhnya terlihat kurus. Padahal terakhir kali Haafizh bertemu dengan Arabella, Arabella tidak sekurus ini.
Arabella seperti tidak terawat, Haafizh merasa gagal menjaga dan melindungi Arabella. Hatinya terluka, saat diteras mesjid tadi pandangannya tak sengaja melihat Arabella tengah berjalan. Haafizh sengaja meminta pada imam mesjid ingin mengumandangkan iqamah, alasan Haafizh sendiri ia ingin Arabella tahu kalau dirinya tengah berada didekat Arabella.
Arabella diam menunduk, tubuhnya seperti membeku. Bahkan untuk saat ini ia tidak berani menatap Haafizh. Dalam hati, Arabella masih tidak percaya kalau pria yang sedang bersamanya adalah Haafizh.
"Ara" Panggil Haafizh dengan lembut.
Arabella diam, ia terus menunduk tanpa memperdulikan Haafizh.
Tidak mendapatkan respons apapun akhirnya tangan kanan Haafizh terulur kedepan, tangan Haafizh mengangkat dagu Arabella supaya menatapnya.
Saat sepasang mata keduanya saling bersitatap, retina mata keduanya saling bersirobak, memandang satu sama lain seolah tengah menyampaikan rasa rindu. Entah berapa lama keduanya saling bertatapan, hingga benda kenyal tanpa tulang itu menyentuh bibir kecil milik Arabella.
__ADS_1
Cup
Satu kecupan manis itu mendarat tepat dibibir Arabella, ciuman pertama keduanya sangat singkat namun manis.