Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Suara Itu


__ADS_3

Setelah pertemuan singkat dengan Bagas tadi siang malam ini Arabella sedikit merasa lega. Setidaknya ia punya teman berbagi cerita. Bagas memang baik, Arabella merasa berteman dengan Bagas bukanlah hal yang buruk.


Diatas nakas ada dua botol berukuran kecil berwarna coklat keemasan, terlihat dari luar jika botol itu berisi obat-obatan berbentuk kecil bulat berwarna putih.


Satu gelas air putih Arabella ambil dari dapur, lalu duduk di tepi ranjang.


"Masih stres, belum masuk tahap gila"


Mengambil satu persatu dari setiap botol obat, lalu memasukkan kedalam mulut disusul beberapa tegukan air putih.


Selesai meminum obat Arabella segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Perlahan kedua matanya mulai tertutup, rasa kantuk yang ditimbulkan dari obat memang menimbulkan efek samping kuat.


***


Matahari telah terbit diufuk timur, cahaya mentari tertutup awan hitam. Rupanya cuaca hari ini tidak secerah kemarin, langit terlihat mendung dengan angin bertiup kencang menggoyangkan pepohonan hingga daun serta ranting kering berhamburan kejalanan.


Sebagian orang lebih memilih berdiam diri dirumah, untuk bergulung dalam selimut atau meminum secangkir teh hangat. Jalanan tampak lenggang biasanya banyak orang berlalu lalang. Beberapa anak sekolah lebih memilih berdesakan dihalte bus.


Arabella keluar dari dalam rumah, mendonggakkan kepala menatap langit mendung.


"Langit kau terlalu mewakilkan perasaanku"


Arabella tersenyum miris lalu mengunci rumah dengan cepat. Sebelum berjalan kaki menuju depan gang Arabella menatap kebawah sepasang sepatu flat berwarna abu telah rusak bahkan bagian alas kaki hampir lepas.


"Sepatu tolong kerja samanya, jangan dulu lepas! Tunggu satu minggu lagi karena minggu depan aku gajian" Ucap Arabella memohon seraya menatap kedua pasang sepatu miliknya yang bertengger di kedua kaki Arabella.


Setelah mengucapkan itu Arabella bergegas pergi, langkahnya pelan seraya teratur takut sewaktu-waktu alas kaki sepatunya lepas.


Dibahu sebelah kanan tersampir tas selempang hitam berukuran sedang, hari ini Arabella berangkat kerja. Pekerjaan kali ini memang tidak selumayan gaji direstoran tapi tidak apa yang penting Arabella bisa makan.


Arebella bekerja disebuah panti asuhan, tugas yang cukup mudah. Arabella, hanya perlu melakukan mengajar membaca dan menulis layaknya seorang guru pada umumnya.


Digaji perhari dengan gaji minim tentu sudah membuat Arabella bersyukur, lagi pula mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang sangatlah susah.


Transportasi menuju panti asuhan hanya perlu menaiki angkot dari depan gang jalan.


Sampai dipanti asuhan Arabella langsung menuju ruang kelas dimana para anak-anak dari usia sepuluh tahun sampai lima belas tahun berkumpul untuk belajar menulis dan membaca.


Menurut Arabella pekerjaan ini sangat mulia, selain bisa berbagi ilmu Arabella sangat senang bisa membantu anak-anak yang tadinya tidak tahu apa-apa kini menjadi tahu.


Terlihat dari depan kelas ada seorang anak laki-laki berumur sebelas tahun menunggu kedatangan Arabella. Bahkan Arabella mendengar teriakan anak laki-laki itu.

__ADS_1


"Ibu guru cantik, datang... "


Mendengar teriakan anak itu Arabella tersenyum kecil.


Aktivitas mengajar berjalan lancar, namun sepertinya hari ini Arabella harus pulang sore karena pemilik panti menyuruh Arabella membereskan buku-buku baru sumbangan dari tentara.


Entah kenapa saat melihat salah satu sekelompok tentara itu samar-samar Arabella seperti melihat Haafizh. Saat itu Arabella mengintip dibalik kaca ruang tamu, kebetulan para tentara itu tengah berada diluar hendak berpamitan pulang pada pemilik panti.


"Pasti aku salah lihat" Gumam Arabella seraya menata buku ke rak.


"Salah lihat apa?" Tanya bi Tati tukang bersih-bersih yang kini tengah berdiri disamping Arabella. Wanita paruh baya itu berbadan gemuk, mungkin umur bi Tati lima puluh tahunan.


Tangan Arabella berhenti menata buku, lalu menoleh kesamping menatap ke bi Tati.


"Tidak ada" Elak Arabella seraya tersenyum.


Terdengar helaan napas panjang bi Tati, rupanya wanita paruh baya itu sangatlah peka. "Jangan bohong, neng Ara. Pasti neng Ara lihat seseorang yang dikenal, iya kan?"


Arabella diam, lalu mengangguk.


"Tuh kan bener... jangan suka menyembunyikan sesuatu dari bibi. Emangnya siapa yang kamu lihat?" Tanya bi Tati seraya mencodongkan tubuhnya menunggu jawaban dari Arabella.


"Siapa neng?" Desak bi Tati semakin penasaran.


"Saya seperti melihat mantan calon suami saya, bi. Tapi sepertinya itu salah lihat. Karena setau saya dia sedang bertugas. Jadi tidak mungkin itu dia"


Bi Tati hanya manggut-manggut.


"Bisa jadi itu dia neng, gimana kalau itu dia"


Pertanyaan bi Tati membuat Arabella gelisah. Benar juga, bagaimana kalau itu memang benar-benar Haafizh? Jantung Arabella berdetak kencang, bukannya senang Arabella justru merasa takut bertemu Haafizh.


"Saya takut bi, semoga saja saya hanya salah lihat" Keluh Arabella seraya memelas.


"Semoga saja. Kamu menginap saja dirumah bibi, takut dijalan ketemu mantan mu itu" Saran bi Tati seraya kembali menata buku ke rak.


Arabella berpikir lalu melihat ke jendela. Diluar sana hujan deras, bahkan hari semakin gelap. Tapi jika ia menginap dirumah bi Tati, Arabella merasa sungkan. Wanita itu janda tiga anak laki-laki.


"Terimakasih atas tawarannya, bi. Sebaiknya saya pulang" Tolak Arabella dengan hati-hati.


"Yasudah kamu hati-hati dijalan"

__ADS_1


Arabella mengangguk.


Tepat saat adzan magrib berkumandang pekerjaan Arabella menata buku selesai. Arabella pamit pulang pada bi Tati, keduanya berpisah saat Arabella harus menyebrang jalan.


Pikirannya kembali tak tenang kala sekelompok tentara berseragam loreng memenuhi teras masjid, sepertinya mereka hendak ingin melaksanakan shalat berjamaah.


Arabella sangat bingung antara shalat dimesjid atau pulang saja, tapi Arabella takut jika saat sampai dirumah waktu shalat keburu habis.


Pada akhirnya Arabella pergi ke mesjid, langkah kakinya cepat untuk segera pergi ketempat wudhu, perasaan gelisah takut ada Haafizh. Tapi Arabella yakin Haafizh masih bertugas, jadi mana mungkin Haafizh berada dikota ini.


Selesai wudhu Arabella segera masuk ke dalam mesjid, hatinya kembali tenang kala sekelompok tentara itu rupanya telah masuk kedalam mesjid, orang-orang yang tadinya masih diluar kini berbondong-bondong memasuki mesjid, sebentar lagi iqomah akan berkumandang bertanda shalat akan dimulai.


Saat selesai memakai mukenna, tiba-tiba suara iqomah berkumandang tapi anehnya suara orang yang berkumandang iqomah itu tidak asing ditelinga Arabella.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah


Suara tegas namun mengalun lembut itu membuat Arabella terpaku, tanpa sadar Arabella hendak ingin menangis.


Haafizh


ini suara Haafizh. Arabella yakin itu, entah kenapa yang tadinya rasa takut bertemu Haafizh. Arabella malah rindu ingin melihat Haafizh.


Andai didepan tidak ada penghalang antara shaf perempuan dan laki-laki mungkin Arabella sudah bisa melihat sosok orang yang telah mengumandangkan iqamah.


Tidak. Pasti Arabella salah dengar, pasti itu bukan suara Haafizh. Tidak mungkin Haafizh berada disini, padahal sudah jelas-jelas Haafizh tengah bertugas dengan jarak yang sangat jauh.


"Apa iya rasa rinduku semakin parah"

__ADS_1


__ADS_2