Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Anak Penggoda


__ADS_3

Hari kian sore dengan sinar matahari yang kian meredup, ditengah keramaian hiruk pikuk kota yang dipadati penduduk, Ana berjalan ditengah keramaian orang-orang berlalu lalang.


Sore itu kala hati Ana tengah merasakan kekecewaan, ia pulang jalan kaki dengan langkah gontai. Dulu Ana hanya tau sakit hati karena putus dengan pacar, tapi ini berbeda. Hatinya terluka, terasa sesak dan perih.


Apa seperti ini rasanya dibohongi oleh seorang yang kita sayangi? Kakaknya, ayahnya mereka semua berbohong. Kenapa Ana harus mengetahui soal ini dari orang lain, kenapa ayahnya tidak cerita apa-apa soal masa lalu itu?


Rasa-rasanya Ana ingin marah, meluapkan kekecewaan ini pada ayah dan kakaknya. Arghhh... Ana berteriak histeris kala ia duduk sendirian di pinggiran danau.


Keduanya matanya sembab, dengan wajah kusut. Sedari tadi Ana terus menangis, dengan tangan memegangi dada. Didalam sana hatinya terasa sesak.


"Kak Ara aku benci kak Ara... " Teriakan Ana terdengar nyaring disekitar area danau. Tidak peduli jika akan ada orang yang mendengar hanya saja Ana ingin meluapkan kekesalannya sekarang juga.


Kali ini Ana berdiri dari duduknya ia segera berjalan ketepi danau, pantulan bayangan diri Ana tergambar jelas di dalam air. Ana menatap nanar pada dirinya sendiri.


"Dasar tidak tahu malu! Ibu dan anak sama saja. Cihhh, perempuan itu telah merebut bang Haafizh dariku" Geram Ana, wajahnya yang ceria kini berubah menjadi penuh kebencian.


"Seharusnya aku pulang ke rumah, untuk mengusir anak penggoda itu" Setelah mengucapkan itu Ana segera berbalik badan, namun saat tubuhnya berbalik Ana sangat terkejut tiba-tiba sosok Bagas telah berdiri tegap disana dengan raut wajah datar.


Ana jadi gelagapan, ia segera mengelap bekas air matanya dengan tangan. "Ka- kamu... Kamu ngapain disini?" Suara Ana tercekat, ia langsung memalingkan wajah takut ketahuan habis menangis.


"Seharusnya kamu jangan mudah tertipu" Ujar Bagas dengan tegas, bahkan tatapan tajam itu terus menatap Ana dengan lekat.


Mendengar perkataan pria itu Ana langsung menatap Bagas dengan bingung "Kamu ngomong apa? Kamu pusing, kalau iya sana beli obat!" Teriak Ana seraya mengibaskan tangan agar Bagas pergi.


Eh, Bagas mengerjitkan dahinya hingga kedua alis cukup tebal itu bertautan. Ana ternyata sangat keras kepala. "Dibilangin malah ngeyel" Ucap Bagas dengan Datar.


"Sana pergi! Lagi pula siapa yang tertipu?"

__ADS_1


"Ana kamu i-"


"Apa! Kamu kok bisa tau namaku? Padahal kita belum kenalan" Kali ini Ana melangkahkan kakinya agar lebih dekat pada Bagas. Ia segera bertolak pinggang secara menatap Bagas dengan sinis.


"Aku seorang peramal. Bahkan kejadian yang habis menimpa mu aku tahu" Ujar Bagas dengan jumawa.


Ana memutar bola matanya malas. "Ck, mana ada peramal" Cibir Ana seraya berdecak kesal. Sepertinya Ana sedikit melupakan kesedihan nya yang baru menimpanya tadi.


Bagas geleng-geleng kepala. Sebenarnya ia mengetahui tentang Ana dari Haafizh, sahabatnya itu bercerita tentang Ana yang tadinya akan dijodohkan dengan Haafizh. Sebenarnya Haafizh bercerita banyak soal Ana dan calon istrinya saat sebelum pergi bertugas.


Selain keterlibatan Bagas pada rencana Haafizh, Bagas juga punya rencana sendiri. Yaitu ia akan mendekati Ana agar Ana tidak mengharapkan Haafizh. Sekarang semuanya sudah berubah sebentar lagi Haafizh akan menikahi Arabella.


Tubuh Bagas membungkuk ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ana yang lebih pendek darinya. "Aku ramal, kamu akan jatuh cinta padaku" Ucap Bagas seraya tersenyum lalu ia mengedipkan sebelah matanya sengaja ingin mengoda Ana.


Kelakuan Bagas barusan membuat Ana geram ia segera memukul lengan kekar Bagas dengan keras. "Dasar gila! Pekiknya seraya mundur kebelakang dua langkah.


Bagas tersenyum kecut dengan menatap Ana penuh kasihan. "Kamu sudah tau jika kapten Haafizh akan menikah, tetapi kamu malah mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain" Ucap Bagas dengan serius.


"Ana diluar sana masih ada lelaki sejati yang jauh lebih baik dari kapten Haafizh. Kamu itu seorang wanita terhormat, jangan gara-gara cinta dan keegoisan, kamu malah menjadi seorang wanita rendahan" Kali ini bicara Bagas penuh penekan.


Ana harus sadar jika keinginan untuk memiliki Haafizh itu salah. Memang seseorang berhak mencintai atau menyukai siapapun tapi beda dengan Haafizh yang sebenar lagi akan menikah.


Mendengar setiap perkataan Bagas barusan membuat Ana tertegun. Tapi ia masih belum terima oleh kelakuan ibu Arabella. "Kamu itu tidak tahu apa-apa, jadi sebaiknya jangan ikut campur"


Setelah berkata seperti itu pada Bagas, Ana langsung berbalik. Baru saja beberapa langkah perkataan Bagas membuat Ana seperti mendapat tamparan keras.


"Cinta itu kaya, tak selaknya membuatmu menjadi pengemis!"

__ADS_1


Seperti mendapat tampran keras dihati, Ana langsung diam mematung. Pengemis, satu kata itu ibarat satu pedang tajam yang menusuk hati. Sakit sekali! Apa ia seperti pengemis?


***


Sejak pertemuan antara Dinda dan Ana sikap Ana berubah seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengan sikap yang biasa Ana tunjukkan sebelum nya kali ini sikap Ana menjadi pendiam. Jika Ana yang dulu riang dan barbar serta banyak bicara kali ini Ana berbeda ia menjadi pendiam, murung dan sering mengurung diri dikamar.


Arabella selalu bertanya tentang yang terjadi pada Ana, namun Ana malah diam bahkan Ana sangat enggan menatap wajah Arabella. Selain komunikasi yang semakin hari semakin buruk Ana sering kali berbuat kasar pada Arabella.


Pak Haidar sering murka karena melihat Ana selalu berprilaku kasar pada Arabella, jengah sekali disetiap harinya Pak Haidar harus mendengar teriakan kasar Ana pada Arabella.


Wanita itu tetap sabar, walau Ana kasar Arabella tetap menjadi seorang kakak yang baik.


"SUDAH AKU BILANG AKU GAK MAU MAKAN!" Teriak Ana seraya membanting piring.


Arabella tersentak, namu sedetik kemudian ia langsung tersenyum seraya berjongkok untuk memunguti serpihan piring yang berserakan dilantai kamar Ana.


"Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" Tanya Arabella dengan masih tetap memunguti serpihan piring.


Ana yang tengah duduk dengan lutut ditekuk hanya diam. Wajah datar dengan mata tajam menatap Arabella penuh kebencian, dulu tatapan itu selalu hangat dan penuh kasih sayang tapi sekarang berganti dengan penuh kebencian serta rasa marah yang begitu besar.


"Ana" Panggil Arabella dengan lembut, rupanya Arabella telah selesai dengan tangan kiri terluka akibat goresan serpihan piring. Kedua mata teduh itu menatap Arabella dengan hangat. Ia tidak peduli dengan perubahan sikap Ana yang kasar.


"Jika ada masalah sebaiknya kamu cerita"


Ana langsung menoleh pada Arabella ia tersenyum miring, lalu ia segera beranjak dari tempat tidur untuk berdiri dihadapan Arabella.


"Iya ada. Yaitu kamu masalahnya! Dasar anak wanita penggoda tidak tahu malu" Teriak Ana yang langsung menampar Arabella dengan begitu keras.

__ADS_1


__ADS_2