
Setelah berdebat panjang dengan Haafizh, Ana langsung merajuk. Ia tidak ingin berbicara dengan Haafizh karena kakak iparnya itu selalu menjodoh-jodohkan nya dengan Bagas.
Berakhir dimeja makan, Ana menjadi pendiam dengan kepala tertunduk. Arabella paham pasti Ana tidak mau melihat mertuanya. Dari sudut mata, Ana dapat melihat kalau Dinda memperhatikannya. Tidak hanya itu Ana juga tau kalau tatapan Dinda juga sesekali tertuju pada Arabella, memberi tatapan sinis.
Usai makan Ana langsung ke kamar katanya sudah mengantuk, Arabella membereskan meja makan serta piring kotor bersama seorang pembantu. Haafizh dan Pak Abian tengah mengobrol diruang kerja, dan Dinda entah kemana. Setelah makan ibu mertuanya itu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan kata sepatah katapun.
"Lusa nanti aku kembali bertugas. Arabella akan tinggal dirumah ayahnya"
Pak Abian mengangguk setuju. Lagi pula kalau Arabella ada disini pasti istrinya akan berbuat jahat.
"Bundamu belum berubah, ayah sangat kesal!" Pak Abian menghela napas panjang, wajahnya terlihat sangat gusar. Punggungnya bersandar disopa empuk berwarna abu-abu.
Obrolan terus berlanjut hingga Haafizh pamit izin ke kamar, istrinya pasti sudah menunggu. Ini malam jum'at bukannya sunnah-Nya ya? Aduhh aduhh, Haafizh tertawa puas akhirnya malam ini ia akan mengagahi istrinya lagi.
Tepat didepan pintu kamar miliknya Haafizh baru saja memegang knop pintu, tapi suara Ana mengangetnya dari belakang.
"Bang Haafizh"
"Astagfirullahal'adzim" Ucap Haafizh seraya mengelus dada.
"Kenapa?" Tanya Ana tanpa berdosa ia memiringkan kepalanya untuk melihat raut wajah Haafizh yang terkejut.
"Bang, Are you oke?"
"Kamu ngagetin saya! Lagian ini sudah malam, kenapa masih berkeliaran"
Berkeliaran. Astaga! Rasanya Ana seperti hewan peliharaan yang belum masuk ke dalam kandang. "Abang juga kenapa masih berkeliaran?"
"Saya bertanya kenapa kamu malah balik bertanya?"
"Kamu tanya, ya aku juga bertanya lah"
Astagfirullahaladzim. Haafizh harus benar-benar memperbanyak istigfar. Ana sangatlah menyebalkan, lebih tepatnya adik iparnya itu sangatlah aneh.
"Sudah sana, saya mengantuk. Sebaiknya kamu tidur!"
"Lahh, kan Abang yang mengantuk kenapa aku yang disuruh tidur"
HAH, tolong siapapun bantu Haafizh untuk menjauh dari Ana. Atau tolong punggut saja Ana biar Haafizh terbebas dari jajahan Ana. Rasanya dunia belum merdeka kalau ada Ana di sekitarnya.
Haafizh mengusap wajahnya dengan kasar. Dalam hati ia terus beristigfar sebanyak-banyaknya sebelum terkena migren.
"Eh, Bang tau gak" Akhirnya sesi ajakan ghibah akan segera dimulai, Ana sedikit memelankan suaranya. Lalu celingak celinguk menatap ke sekitar.
Haafizh diam, punggungnya bersandar dipintu. Bersiap mendengar ucapan Ana selanjutnya.
"Tadi Bundamu, nyamperin aku loh Bang"
__ADS_1
Haafizh terkejut, apa Ana terhasut perkataan bundanya lagi? Haafizh menegakkan tubuhnya kembali, tatapannya menajam dengan raut wajah serius. Siapapun yang melihat Haafizh tengah serius, pria itu akan semakin terlihat tampan dan berwibawa.
Ana menelan salivanya dengan susah payah, kenapa Haafizh selalu terlihat tampan. Ah tidak, kata tampan saja tidak cukup kakak iparnya itu sangatlah sempurna. Andai Haafizh bukan jodoh kakak nya pasti Ana akan mengejar cinta Haafizh.
"Apa katanya"
Ana menunduk sebentar sebelum menjawab pertanyaan Haafizh.
"Kata bundamu... dia ingin aku yang menikah denganmu. Tapi Bang Haafizh tenang saja, aku tidak seperti dulu. Dengan tegas aku menolaknya"
Ah, akhirnya. Haafizh bernapas lega.
"Bagus. Kamu tau Ana, jodoh, rezeki dan maut sudah diatur oleh sang maha kuasa. Kita sebagai manusia hanya perlu berdoa dan terus beriktiar. Kamu dan saya tidak berjodoh, jodoh saya adalah Arabella. Dan kamu Ana, saya yakin jodoh kamu adalah Bagas"
Plakk
Satu pukulan keras mendarat tepat di lengan kekar Haafizh yang tertutup kaos berlengan panjang.
"Kenapa kau selalu membawa-bawa si Bagas itu. Kau tau tadinya aku sudah termenung mendengar kata-kata bijakmu itu tapi ujungnya, Ah sudahlah"
Setelah mengucapkan itu Ana segera pergi meninggal Haafizh.
Hah, akhirnya Haafizh bisa bernapas lega. Benar setelah kepergian Ana dunianya terasa merdeka. Kembali lagi pada malam jum'at idaman setiap pria, Haafizh langsung membuka pintu kamar dengan semangat membara senyum lebar terukir sempurna menandakan sang empunya tengah bahagia.
Terlihat Arabella tengah berbaring tengkurap diranjang seraya membaca buku novel kesukaannya. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajah cantik Arabella hidung kecil mancung nya terlihat semakin mancung saat terlihat dari samping.
Tetapi saat Haafizh bersama Arabella hidupnya semakin berubah, Ya. Haafizh semakin sederhana semenjak hidup berdampingan dengan Arabella. Istrinya itu sangatlah sederhana, hemat dan bijak dalam segala hal. Manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi bagi Haafizh salah satu ciptaan tuhan yang kini Allah SWT takdirkan untuknya adalah sosok perempuan yang paling sempurna.
"Ara sayang kamu belum tidur?"
Haafizh menutup pintu tidak lupa menguncinya terlebih dahulu. Mendekati istrinya yang kini telah berubah posisi menjadi duduk.
"Mas ihh" Ya itulah Arabella. Setiap panggilan manis dari Haafizh, Arabella selalu bertindak seolah tak suka dan malu-malu.
Haafizh terkekeh geli, lalu duduk disamping Arabella, mendekap Arabella dengan erat seraya mengendus aroma shampo dari rambut sang istri yang begitu wangi. Padahal shampo yang digunakan keduanya sama.
"Ra, kamu cantik"
Cup
Satu kecupan manis mendarat tepat dipipi kanan Arabella. Membuat pipi merah Arabella semakin merona karena malu.
"Mas" Arabella merengek.
"Kenapa hem? Kamu suka Mas cium-cium kayak tadi"
Arabella cemburut. "Jangan gitu, aku tuh malu Mas!"
__ADS_1
Lagi-lagi Haafizh tertawa. "Sini-sini kalau malu ngumpet sama Mas" Tangan kanan Haafizh meraih kepala Arabella lalu menyembunyikan nya diketiak Haafizh.
"Bau gak Ra?"
"Wangi Mas"
Jawaban yang tak terduga membuat Haafizh menjauhkan Arabella dari ketiaknya. "Beneran?"
Arabella mengangguk polos lalu kembali menenggelamkan kepalanya dibalik ketiak Haafizh.
Haafizh hanya tersenyum lalu mengusap punggung Arabella dengan lembut.
"Ra kamu tau gak ini malam apa?" Tanya Haafizh seraya tersenyum-senyum.
Arabella mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah tampan milik suaminya. "Malam jum'at. Jatah kamu nyiksa aku" Ucapnya dengan kedua pipi mengembung.
Ah, Haafizh sangat gemas. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Arabella. "Yaallah Mas" Pekik Arabella terkejut.
"Kenapa?"
Keduanya saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat, Arabella duduk dipangkuan Haafizh. Kedua kakinya melilit pada punggung Haafizh begitu juga tangannya yang melingkar dilehar Haafizh.
"Bentar lagi aku berangkat tugas. Emangnya kamu gak mau bermesraan dulu sama aku, Ra?"
Arabella termangu. Dengan lekat ia menatap manik hitam Haafizh. Benar dua hari lagi Haafizh akan kembali bertugas. Jarak yang begitu membentang akan kembali memisahkan dirinya dari Haafizh, tidak mampu digapai namun hanya rasa rindu yang akan menyiksa.
Sakit rasanya, tapi mau bagaimana lagi itu sudah menjadi kewajiban Haafizh sebagai abdi negera. Arebella menyentuh pipi kanan Haafizh lalu mengusapnya lembut. Sebentar lagi sosok yang nyata di depan mata akan hilang termakan jarak, Arabella akan sangat merindukan sosok Haafizh.
"Aku menginginkan dirimu Mas, aku rindu" Tanpa sadar Arabella mengucapkan itu, bibir ranumnya mencium bibir tebal merah milik Haafizh. Tak lama hanya beberapa menit bibir keduanya saling beradu.
Dalam hati Haafizh bersorak bahagia, ada apa dengan istrinya malam ini. Apa itu sebuah kode ajakan Arabella, apa Arabella mengajaknya duluan? Jika iya Haafizh sangat senang bukan main, apalagi jika seorang istri meminta hak berhubungan intim duluan maka berpahala besar.
Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu selimut, maka malaikat dari bawah 'Arsy memanggilnya, "Mulailah duluan olehmu perbuatan itu (merangsang suami): (1) Maka Allah akan mengampuni untukmu dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang; (2) Dan Allah akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan seratus budak; (3) Dan mencatat untuknya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan.
Haafizh mengusap punggung Arabella dengan lembut, keduanya saling beradu pandang. Seolah tak ingin berpaling.
"Aku juga menginginkanmu, Ra"
Lagi dan lagi seolah tak ada lelah dan bosan bahkan seperti rasa candu dimana keduanya larut dalam aktivitas malam yang panas. Lengguhan Arabella terdengar seksi bagi Haafizh membuat ia semakin semangat untuk memacu gairahnya.
Haafizh selalu berharap dan berdo'a supaya secepatnya buah cinta keduanya bisa cepat tumbuh dan hadir.
"Pelan-pelan Mas"
"Sabar Ra, lagi ngejar target"
"Target apa?"
__ADS_1
"Bayi"