
Arabella benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Haafizh ada disini, suaminya begitu tampak lelah dengan wajah pucat. Arabella berusaha bangkit, ia ingin memeluk tubuh tegap Haafizh. Namun sayang, ia tak bisa. Tubuhnya terlalu lemah untuk bangun.
Mata Arabella memanas, dadanya bergemuruh kala reaksi tak terduga dari Haafizh. Pria itu memalingkan muka, lalu berjalan mendekat ke jendela, membelakangi Arabella yang terbaring di bangsal.
Arabella kira Haafizh akan berjalan cepat padanya, lalu memeluk serta mencium kening. Namun itu hanya sebatas khayalan. Nyatanya Haafizh terlihat dingin.
"Mas... Kamu pulang" Cicit Arabella pelan. Entah kenapa atmosfer diruang VIP ini menjadi berubah, Arabella merasa canggung.
Tak ada sahutan. Membuat Arabella bingung sekaligus sedih. Ada apa? Apa Haafizh marah? Ah, sebaiknya Arabella akan meminta maaf, walau dirinya tidak tahu apa kesalahannya.
"Maa-"
"Tutup mata kamu!"
EH, mata teduh Arabella mengerjap tak mengerti. Ucapannya belum selesai tapi Haafizh malah menyuruhnya untuk menutup mata.
Namun Arabella tetap menurut ia memejamkan mata rapat-rapat. Kedua tangannya memeluk perutnya yang membuncit.
Hatinya berdebar, antara takut dimarahi dan di bentak Haafizh. Entahlah, Arabella hanya ingin mendapat perhatian lebih dari sang suami. Selama tujuh bulan mengandung peran suami yang seharusnya menemani dan mendampingi istri hamil malah tidak ada, maklum saja Haafizh itu seorang tentara. Harus pergi bertugas dengan jangka waktu lama.
Suara derap langkah terdengar jelas, Haafizh mulai melangkah mendekat menuju bangsal dimana Arabella terbaring. Setelah itu suara derap langkah kaki Haafizh berhenti tepat di samping bangsal, diam cukup lama sampai Arabella dibuat heran dalam keheningan.
Mungkin jika Arabella berani dan tidak pemalu, mungkin saat ini Arabella akan bertanya banyak hal pada Haafizh kapan ia pulang, dan kenapa Haafizh terlihat dingin padanya? Arabella ingin memeluk tubuh tegap Haafizh, menyalurkan rasa rindu yang teramat sangat menyiksa.
Pikiran Arabella semakin bercabang, memikirkan banyak hal tentang sosok suaminya sekarang. Tiba-tiba ada disini, dan apakah Haafizh sudah tau apa yang terjadi? Astaga, ibu mertuanya. Apa kabar juga dengan Ana, adiknya. Apa mereka tidak kena marah.
Tenggelam dengan pikirannya, Arabella merasa tangan kekar Haafizh yang terasa hangat mengusap perutnya dengan sayang. Tidak lama hanya sebentar, lalu tangan itu beralih memeluknya erat, sangat erat sampai kandungannya terhimpit badan Haafizh.
Cup
Satu kecupan mendarat tepat dikening, Arabella terkejut mendapatkan perlakuan tak terduga seperti ini. Arabella pikir Haafizh akan marah lalu membentaknya.
"Ara istriku, amarahku telah hilang setelah memelukmu"
Bisik Haafizh. Sontak membuat kedua mata Arabella terbuka, ia tak sanggup untuk memejamkan mata terlalu lama. Penglihatannya langsung dipenuhi wajah tampan milik Haafizh yang kini tepat didepan wajahnya.
Tunggu dulu, Haafizh menangis
"Mas ka-kamu, menangis"
Tangan yang terpasang infus itu terulur menyeka sudut mata Haafizh yang berair.
"Aku sangat takut!"
Kilatan mata tajam itu tampak penuh rasa khawatir serta ketakutan.
"Kenapa?"
"Karna Mas tidak mau kehilangan kamu dan anak-anak."
Arabella terdiam, hatinya dipenuhi rasa haru. Setakut dan sekhawatir itukah Haafizh pada dirinya dan anak-anak. Lalu kenapa Haafizh tampak marah.
__ADS_1
"Tolong jangan seperti ini lagi, Ra. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku sangat marah pada bunda, karena dia dirimu jadi seperti ini. Kemarin siang ayah menelepon, dia bilang kamu masuk rumah sakit. Tentu saja membuatku sangat khawatir apalagi setelah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, aku sangat kalang kabut dan memutuskan untuk pulang tidak peduli jika nantinya aku akan kena marah" Ucap Haafizh panjang lebar. Seolah tahu apa yang dipikirkan Arabella.
"Tolong jangan marah pada bunda, ini hanya kecelakaan Mas. Lagi pula aku dan anak-anak baik-baik saja. Dan... Terimakasih sudah pulang."
Haafizh diam, lalu menegakkan kembali tubuhnya mengurai pelukan pada Arabella.
Saat keduanya saling diam, pintu terbuka. Seorang dokter dan suster datang untuk mengecek Keadaan Arabella dan kandungannya. Sesekali dokter itu menjelaskan kondisi Arabella dan bayinya yang semakin membaik. Haafizh sangat bersyukur.
"Baiklah, Tuan. Istri anda dan bayinya baik-baik saja. Jadi jangan khawatir." Ucap dokter itu pada Haafizh. "Oh iya, Sus. Tolong bawakan sarapan untuk pasien" Suruhnya pada suster itu yang langsung keluar untuk membawa sarapan.
"Terimakasih, Dok" Ucap Haafizh.
Setelah kepergian dokter tadi, suster yang tadi kembali lagi, kali ini ia membawa satu nampan yang di atasnya terdapat satu mangkuk bubur dan satu gelas air putih.
"Makan dulu, Mbak." Ucap suster itu ramah.
Arabella merasa tak berselera. Bukannya apa-apa, tapi makanan yang disediakan rumah sakit biasanya terasa hambar dan tidak enak.
Haafizh yang tau Arabella. Langsung tersenyum lalu menatap suster itu. "Sus, sebaiknya taro saja makanannya dimeja. Biar saya yang menyuapi istri saya."
Suster itu mengangguk setuju. Lalu undur diri meninggalkan Arabella dan Haafizh.
"Mas aku gak mau makan itu"
Haafizh mengangguk paham. "Sebentar, Mas keluar dulu. Kalau gak mau, jangan dimakan." Ucapnya, dengan cepat ia mengecup kening Arabella dengan tangan kanan mengelus perut Arabella. Setelah itu Haafizh langsung berlalu pergi.
Lima belas menit berlalu Haafizh sudah kembali dengan napas tersengal karena habis berlarian. Ditangan kanannya ia menenteng satu plastik hitam.
Haafizh menutup pintu, lalu berjalan ke Arabella sesekali Haafizh menyeka keringat.
"Ini buat kamu, Ra" Haafizh menyerahkan plastik hitam itu yang langsung diterima Arabella.
Dengan penasaran Arabella membuka plastik hitam itu, matanya berbinar dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Sayur sup danging" Ucap Arabella senang. Sayur kesukaan Arabella, dimana terdapat banyak potongan sayuran apalagi ditambah suwiran daging ayam membuat selera makan meningkat. Kuah panasnya tercium sangat menggiurkan.
"Kamu suka kan, Yang?" Tanya Haafizh yang kini duduk dikursi samping bangsal.
Arabella mengangguk. Dengan semangat ia mengeluarkan wadah berbentuk bulat yang berisi sayur lalu membuka tutupnya. Tidak lupa membaca doa, Arabella langsung mencicipi.
"Enak banget. Kamu beli dimana? Kamu harus cobain Mas, pasti kamu juga belum makan, kan?"
Haafizh mengulum senyuman manis. "Aku beli dirumah makan sebrang rumah sakit. Buat kamu aja, Ra. Mas bisa makan bubur yang tadi" Ucapnya lalu mengambil bubur yang dibawakan oleh suster tadi.
"Tapi Mas"
"Gak papa Ra, biar suster ngiranya kamu yang ngabisin."
Keduanya makan bersama sesekali keduanya saling menyuapi. Arabella sangat bahagia, begitu juga Haafizh. Keduanya terus tersenyum sesekali Arabella tersedak karena Haafizh terus mengombalinya.
Usai makan, Haafizh memberikan vitamin pada Arabella katanya vitamin untuk kandungan istrinya. Ada Ana masuk bersama Pak Haidar dan Pak Abian, Ana melangkah lebih dulu seraya membawa keranjang berisi buah-buahan.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Arabella yang kala itu tengah asik mengusap perutnya langsung berhenti kala Ana memeluknya erat.
"Maaf, Kak Ara. Gara-gara kecerobohan aku Kak Ara jadi begini." Sesal Ana.
Arabella melepas pelukannya lalu menatap Ana seraya tersenyum manis. "Bukan salahmu. Ana kau tak salah"
"Bagaimana dengan keadaanmu, Nak? Apa ada yang sakit?" Tanya Pak Haidar seraya mendekat, lalu menggenggam tangan putrinya dengan sayang.
"Aku tak apa ayah, aku dan kandunganku baik-baik saja" Ucap Arabella.
"Kau tau Nak Ara, kemarin sore Haafizh langsung pulang dia mengamuk saat tiba disini karna takut kamu kenapa-napa." Ujar Pak Abiaan seraya terkekeh mengingat kejadian dimana Haafizh marah-marah.
Haafizh yang tengah duduk disopa panjang langsung menatap ayahnya. "Aku begitu karena aku khawatir, Yah" Sela Haafizh membela dirinya sendiri.
"Benar Kak Ara, Bang Haafizh mengamuk. Belum selesai menjelaskan semuanya dia sudah membentakku" Adu Ana seraya cemberut kesal.
"Saya sudah minta maaf, lagi pula kamu menangis terus ceritanya jadi lama."
"Aku menangis karena aku khawatir. Lagian Bang Haafizh kaya orang kesetanan kalau lagi khawatir begitu"
"Sudah kalian ini malah berdebat" Lerai Pak Abian. "Nah Haafizh, ini bajumu. Ganti sana, seragam tugasmu dari semalam belum diganti" Titah Pak Abian seraya menyerahkan paper bag pada Haafizh.
***
Malam telah tiba, adzan isya sudah berkumandang satu jam lalu. Kamar VIP yang ditempati Arabella sudah sepi kembali sejak Ana, Pak Haidar dan Pak Abian pulang.
Haafizh sedang ke mesjid katanya shalat isya, tapi belum juga kembali padahal Arabella sudah ingin membuang air kecil.
"Kenapa Mas Haafizh lama sekali" Keluhnya seraya berusaha duduk, mukenna putih bekas shalat isya masih Arabella kenakan. Sebelum Haafizh pergi ke mesjid, suaminya itu membantu Arabella mengenakan mukenna.
Tidak berselang lama Haafizh muncul dibalik pintu, pria yang berprofesi sebagai tentara itu tampak tampan nan gagah dengan baju koko putih pendek mengekspos lengan kekarnya, celana katun hitam panjang dengan sarung terlipat rapih tersampir dipundak.
"Mas" Panggil Arabella seraya mencium punggung tangan Haafizh, dengan Haafizh mencium kening Arabella.
"Maaf ya sayang lama. Tadi ada kakek-kakek yang tersesat makannya Mas bantu dulu."
Arabella mengangguk percaya. Lalu meminta Haafizh agar memapahkan ke dalam toilet, dengan senang hati Haafizh membantu sang istri yang sudah kesulitan berjalan karena dikehamilannya, Haafizh begitu bangga karena bisa membantu hal-hal kecil seperti ini.
Usai mengantar istrinya membuang air kecil, Haafizh kini menyuruh Arabella tidur. Malam semakin larut dengan udara dingin yang semakin menyengat.
Tidak butuh waktu lama untuk istrinya terlelap, Haafizh tersenyum lebar saat Arabella sudah tidur.
"Istriku makin hari semakin cantik. Anak-anak lihatlah Umi kalian, cantik sekali bukan? Dia itu bidadari Abi" Haafizh mengelus perut Arabella, ia mengajak calon bayinya berbincang. Walau tak ada sahutan Haafizh tetap berbicara.
Haafizh menguap, matanya sudah sangat berat ingin segera tidur. Namun saat ia beranjak dan melangkah mendekati sopa panjang langkahnya terhenti lalu berbalik badan menatap istrinya yang tengah tertidur diatas bangsal.
"Berdua juga cukup" Ucapnya seraya terkekeh geli.
__ADS_1
Dengan hati-hati Haafizh naik ke atas bangsal yang memang ukurannya cukup untuk dua orang. Dengan perlahan Haafizh sedikit menggeser tubuh Arabella, dirasa cukup Haafizh segera merebahkan tubuhnya disamping Arabella, tidurnya menyamping menghadap istrinya lalu memeluk Arabella dengan senyum terpatri diwajah.