
Empat bulan kemudian...
"Sayang... Udah belum? Zafran udah nangis minta asi"
"Iya Mas bentar lagi"
Arabella terkekeh geli, saat teriakan suaminya yang setengah panik. Arabella tengah mandi, sementara Zynata tidur dan Zafran malah terbangun dari tidurnya.
"Umimu kalau mandi lama sekali, sabar ya putranya Abi."
Haafizh menimang-nimang Zafran kecil dengan begitu naas, pasalnya popok Zafran sudah terlepas dan kain yang menutupi bagian tubuh bawahnya malah acak-acakkan karena ulah Haafizh yang berantakan.
"Aduh bedongan kamu amburadul begini gara-gara Abi"
"Apalagi Mas" Tanya Arabella saat keluar dari kamar mandi, aroma sabun langsung tercium diruang kamar. Rambut panjang Arabella masih basah dibiarkan tergerai begitu saja.
"Zafran nangis, kek nya dia laper. Coba kamu kasih asi." Ucap Haafizh seraya menyerahkan Zafran pada gendongan Arabella.
"Cup.. cup.. putranya umi laper ya."
Arabella langsung mendekap Zafran, bayi kecil itu terlihat sangat lapar kala Arabella mulai memberikan Zafran asinya.
Dulu hari-hari Arabella terasa monoton, bosan dan terasa lamban. Cacian dan hinaan kala dirinya belum menikah sering arabella dapatkan dari mulut tetangga.
Seharusnya diusia wanita seperti Arabella sudah banyak yang menikah, tapi hanya Arabella yang belum. Padahal menurut Arabella jodohnya hanya belum menunjukkan tanda-tanda hilal akan kehadirannya.
Buktinya sekarang Arabella bertemu Haafizh, pria sholeh yang bertanggung jawab. Menyayangi dirinya dan merima Arabella dengan tulus.
Tidak ada kebahagiaan lain yang Arabella harapkan, selain kebahagiaan keluarga kecilnya sekarang. Dalam hidupnya sekarang ada si kecil Zafran dan Zynata. Anak-anaknya begitu sangat berharga.
"Dek, kamu sore nanti siap-siap. Nanti Mas jemput" Ucap Haafizh. Suaminya itu sedang memakai baret dikepala, setelan tugas dinas loreng dengan sepatu kulit hitam tinggi telah Haafizh kenakan.
"Iya Mas. Hati-hati dijalan, jangan ngebut!"
"Iya sayang." Haafizh tersenyum lebar, lalu maju dua langkah mendekati Arabella yang tengah berdiri diteras rumah seraya memangku si kecil Zynata.
"Hai, putri kecil ayah. Jangan rewel ya, kasian Umimu dia pasti kelelahan karena harus mengurus kita semua."
Si kecil Zynata hanya diam kedua matanya yang bulat dan jernih itu tampak mengerjap beberapa kali melihat wajah sang ayah yang terlihat sangat bahagia.
"Yaudah Mas berangkat dulu. Jangan lupa nanti sore" Ucap Haafizh lalu mencium kening Arabella.
"Iya Mas" Ucap Arabella seraya mencium punggung tangan Haafizh.
"Assalamualaikum, Dek."
"Wa'alaikumussalam, Mas."
__ADS_1
Haafizh segera bergegas pergi menaiki mobil hitamnya, perlahan mobil itu mulai keluar parkiran rumah dan pergi saat gerbang utama dibuka oleh satpam.
Setelah kepergian Haafizh berangkat tugas Arabella segera masuk kedalaman rumah. Kegiatan sehari-harinya tidak terlalu banyak, hanya memandikan anak-anak, membersihkan kamar dan membuat makanan untuk Haafizh. Karena urusan yang lainnya sudah dikerjakan oleh Bi Hilma, asisten rumah Tangga Haafizh.
Haafizh sekarang tidak akan tugas jauh keluar kota atau pulau. Suaminya itu sekarang ditugaskan dikota. Arabella sangat senang, pasalnya ia tidak perlu merindu lagi dengan jangka waktu lama.
"Haafizh sudah berangkat, Nak?" Tanya Pak Abian.
Mertuanya itu sudah rapi menggunakan setelan jas kantor. Ditangan kanannya menjinjing tas hitam. Walau sudah termakan usia, tapi Pak Abian terlihat masih keren dan gagah.
"Barusan Mas Haafizh berangkat. Ayah mau berangkat ke kantor." Tanya Arabella merasa takjub saat menyebut kata kantor.
"Iya. Begini-begini sekarang ayahkan pemilik properti dan beberapa restoran." Pak Abian terkikik. Diusianya yang sudah renta, ia mendapatkan kesuksesan besar.
Arabella sudah tau itu, kata Haafizh ayahnya sekarang menjadi CEO sungguh luar biasa sekali ayah mertuanya. Entah bagaimana caranya, usaha yang dibangun oleh uang hasil pensiunan kini membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
"Aku kagum sama ayah. Ayah sekarang jadi pengusaha sukses, CEO lagi." Decak Arabella penuh kagum.
"Kau ini bisa Saja. Semua ini untuk cucu-cucuku nanti. Kalau Haafizh tidak menjadikan Zafran tentara ia bisa menggantikan kakeknya ini menjadi CEO. Atau Zynata si peri kecilku itu pasti bisa mengganti posisi kakeknya."
Yaallah, Arabella mengerjap beberapa kali saking tidak percayanya. Anak-anaknya belum besar tapi sudah dinantikan oleh kesuksesan.
"Eh, i.. iya ayah." Ucap Arabella tergagap.
"Yasudah ayah berangkat dulu, jaga anak-anak Nak."
Setelah kepergian ayah mertuanya. Arabella segera berjalan menaiki tangga, senyumnya tak pernah pudar. Hari-harinya semakin terasa bahagia. Zynata kecil mengeliat kecil dengan mulut kecilnya menguap.
Melihat itu Arabella merasa gemas, ia terkekeh lalu mencium tangan mungil Zynata dengan lembut.
Waktu terus berlanjut hingga sore telah tiba, selepas shalat ashar Arabella sudah berdandan cantik. Dres berwarna coklat keemasan senada dengan hijabnya yang syar'i. Make up nya tidak terlalu mencolok namun terkesan natural itu membuat wajah ayu ibu dua orang anak itu sangat cantik dan anggun.
Tidak lupa si kecil Zafran dan Zynata, dua bayi kembar itu sudah siap distoller bayi. Keduanya tertidur pulas dengan perut kenyang karena Arabella sudah mengasih asi pada keduanya.
Setelah membawa tas selempang kecil miliknya Arabella segera pergi keluar rumah untuk menunggu Haafizh diteras rumah seraya mendorong stoller bayi.
Baru saja sampai teras mobil hitam Haafizh memasuki halaman rumah. Senyum Arabella tersungging, menampilkan senyum manisnya pada saat Haafizh keluar dari mobil seraya membawa buket bunga mawar merah berukuran besar.
"Assalamualaikum" Ucap Haafizh seraya melangkah mendekat. Haafizh tak kalah rapinya dengan dandanan sang istri. Pria itu terlihat sangat fres, balutan kemeja putih dibalut dengan jas hitam terkesan sangat mempesona belum lagi dasi kupu-kupu yang tersampir diatas dadanya membuat Haafizh semakin gagah.
Harum semerbak dari buket bunga mawar merah itu tercium jelas, sangat harum dan segar.
"Wa'alaikumussalam, Mas kamu" Arabella tampak tersipu kala Haafizh memberikan buket bunga itu padanya.
"Bunga ini sangat indah, tapi tidak seindah bidadariku"
Ah, Arabella dibuat malu. Ia mengambil bunga itu dengan malu-malu lalu mengucapkan terimakasih pada Haafizh.
__ADS_1
"Ciumannya mana? Masa makasih doang" Protes Haafizh tak terima.
"Ini diluar Mas. Aku malu, gimana kalau ada yang lihat"
"Gak akan. Lagi pula ayah belum dateng. Buruan, Yang. Nanti telat loh keacara liburan kita." Bujuk Haafizh seraya menarik pinggang istrinya.
Arabella mendesah berat, lalu dengan malu ia menuruti permintaan Haafizh yaitu mencium pipi kanannya.
"Udah, ayo berangkat!" Ajak Arabella yang mulai jengah.
Haafizh terkekeh geli, lalu mendorong stroller. "Jangan cemberut, Dek. Kalau kamu cemberut bawaannya suka pengen cium."
Tuhkan Haafizh itu sangat menyebalkan padahal sudah menjadi ayah dari dua orang anak. Arabella berjalan cepat lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Lihatlah Umi kalian merajuk" Ucap Haafizh tertawa seraya memandangi kedua bayinya.
Mobil hitam BMW milik Haafizh melaju membelah jalanan kota, sore hari ini jalanan tidak teralu macet cukup lenggang dan ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang disekitar trotoar.
Arabella terus bercerita kalau dirinya sangat senang mengurus kedua bayinya, apalagi Zafran yang begitu sangat anteng dibandingkan dengan Zynata.
Haafizh hanya tersenyum saja untuk menanggapinya.
Tempat liburan keduanya tidak terlalu jauh hanya memakan waktu satu jam. Haafizh mengajak Arabella berlibur di villa yang ada dibukit, Haafizh sengaja menyewa villa milik temannya. Ingin nyenengin hati istri.
"Udah sampai Mas?" Tanya Arabella saat mobil Haafizh berhenti disebuah rumah bergaya klasik bercat putih. Haafizh mengangguk, lalu keluar dari mobil.
"Ayo turun kasian anak-anak" Ucap Haafizh seraya membukakan pintu mobil. Arabella turut turun, lalu membantu Haafizh mengeluarkan stroller yang didalamnya berisi anak-anak tengah tertidur.
"Gimana kamu sukakan, Dek. Mas sewa villa ini untuk liburan kita bareng anak-anak. Apalagi kita belum pernah liburan"
"Suka. Apalagi udaranya sejuk."
Haafizh tersenyum lalu memeluk Arabella dari belakang.
"Itung-itung bulan madu" Goda Haafizh seraya terkekeh.
"Gak mau." Tolak Arabella tegas.
"Kenapa, kamu gak mau nambah anak?"
"Kamu itu minta diruqyah ya Mas, anak-anak masih bayi masa minta bayi lagi. Aku tuh cape, Mas"
'
'
'
__ADS_1
Satu part lagi Arabella dan Haafizh tamat.