
Hari semakin siang dengan cuaca cerah, terik matahari terasa begitu menyengat membakar kulit. Kendaraan beroda empat terlihat memadati jalanan, suara klakson saling bersahutan mengiringi kebisingan jalanan.
"Masih macet ya Mas"
Tubuh Arabella menggeliat, sudah setengah jam ia tertidur karena terjebak macet.
Haafizh yang tengah duduk dikursi kemudi menoleh seraya tersenyum hangat, istrinya terlihat kelelahan akibat ulahnya selalu mengajak Arabella bergadang di setiap malam.
Melihat sang istri bangun tidur dengan raut wajah mengemaskan Haafizh mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan kanan Arabella dengan lembut.
"Sabar ya sayang bentar lagi kita sampai"
Siang ini Haafizh mengajak Arabella mengunjungi rumahnya. Haafizh sudah bilang pada bunda dan ayahnya jika ia akan menginap disana dua malam.
"Bundamu Mas, apa dia akan senang kalau aku kesana?" Ucap Arabella, ia tampak ragu dan takut namun mau bagaimana lagi ia sekarang istri Haafizh.
"Jika bunda tidak senang kita ada disana, kita langsung pulang aja" Jawab Haafizh santai.
Arabella diam lalu menatap Haafizh kembali.
"Jangan gitu Mas, pasti bunda sangat senang kamu pulang kerumah. Apalagi kamu jarang dirumah, menginap saja untuk beberapa hari sebelum kamu berangkat tugas"
Haafizh tertegun mendengar ucapan Arabella, padahal Haafizh takut jika nanti bundanya tidak bersikap baik. Bundanya juga dengan terang-terangan menunjukkan sikap bencinya pada Arabella.
"Tapi Ra, Mas takut bunda tidak memperlakukan kamu dengan baik" Ucap Haafizh dengan lirih.
"Bundamu sekarang bundaku juga kan, Mas. Aku akan berbakti padanya, semoga saja bunda bisa berubah"
Haafizh menganggukkan kepala dengan ragu, dalam hati ia merasa khawatir. Mobil kembali berpacu kearah perumahan elit, bangunan besar dengan bentuk serta warna cat yang sama tampak mewah dan berjajar.
Arabella berdecak kagum, selama ini hidupnya dipinggiran kota. Tinggal dirumah sederhana berdampingan dengan para tetangga yang ramai. Disini tampak sepi hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang serta beberapa mobil mahal yang terpakir disisi jalan depan rumah-rumah.
Mobil berhenti tepat disebuah rumah besar berlantai dua, seorang satpam membukakan gerbang depan seraya menyapa Haafizh dengan panggilan kapten.
"Kita udah sampai" Ujar Haafizh seraya mematikan mesin mobil, lalu turun dari mobil.
Arabella ikut turun dengan pintu mobil yang dibukakan oleh Haafizh.
"Rumahmu bagus dan besar sekali Mas" Ucap Arabella polos, penglihatannya terus tertuju ke depan dimana rumah Haafizh berdiri kokoh.
Haafizh terkekeh lalu memeluk Arabella dari samping.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat tepat dipipi kanan Arabella. "Kalau kita udah punya anak, Mas akan belikan satu rumah bagus untukmu, Ra."
__ADS_1
Arabella melepaskan pelukan Haafizh lalu menatapnya "Jangan Mas, pasti itu mahal" Tolak Arabella.
Haafizh tersenyum lalu kembali memeluk Arabella kali ini Haafizh memeluk Arabella dari depan hingga kepala Arabella bersandar didada bidang Haafizh.
"Mahal ataupun murah, asal itu untukmu Mas akan tetap belikan"
"Terimakasih ya Mas" Ucap Arabella seraya membalas pelukan Haafizh.
Keduanya malah asik berpelukan hingga tak sadar jika pak Abian dan Dinda tengah memperhatikan kelakuan anak dan menantunya di teras rumah.
"Ehemm... pengantin baru nempel terus ya Bun" Sindir pak Abian seraya menyikut lengan Dinda, namun Dinda acuh saja.
Haafizh dan Arabella sontak terkejut degan cepat keduanya melepas pelukan lalu menatap pak Abian yang sekarang menghampiri keduanya.
"Ayah bikin kaget saja" Dengus Haafizh lalu mencium punggung tangan sang ayah diikuti oleh Arabella yang ikut menyalami.
"Kalian berdua kemana saja selama dua hari ini sepertinya kau mengurung istrimu di dalam kamar hotel." Ujar pak Abian seraya menepuk pundak Haafizh.
"Namanya juga pengantin baru" Ucap Haafizh membela diri.
Arabella hanya tersenyum lalu tatapannya beralih pada Dinda wanita itu hanya diam seraya menatap Arabella sinis, tak lama Dinda melengos pergi ke dalam rumah.
Melihat reaksi mertuanya seperti itu membuat Arabella sedih, apa sebenci itukah bundanya Haafizh pada dirinya? Padahal Arabella tidak merasa salah apapun.
Usai percakapan kecil antara ayah dan anak, pak Abian mengajak Arabella masuk dengan tangan kanan Haafizh melingkar dipanggang Arabella.
"Biarkan saja, mereka juga pernah muda pasti ngerti kalau kita ini pengantin baru" Jawab Haafizh ikut berbisik.
Arabella cemburut kesal, lalu pasrah dengan tangan Haafizh yang memeluk pinggangnya.
Pak Abian mengajak makan ternyata Dinda tengah menyiapkan berbagai macam menu dimeja makan.
"Bun" Panggil Haafizh seraya mendekati Dinda tangan kanannya masih setia memeluk pinggang Arabella.
Dinda hanya tersenyum lalu memeluk Haafizh, otomatis pelukan tangan Haafizh dipanggang Arabella lepas. Arabella sedikit mundur.
"Bunda rindu kamu, Nak. Jadikan kamu menginap disini"
Haafizh mengangguk. "Tentu, kan sekarang udah ada Ara, istriku. Bun" Haafizh melepaskan pelukanya lalu meraih tangan Arabella.
"Bun menantu bunda sudah datang, cantikkan Bun istriku?" Ucap Haafizh dengan bangga.
Arabella tersenyum canggung lalu menyalami Dinda.
"Iya cantik" Ucapnya acuh, lalu berlalu begitu saja. Dinda langsung duduk dimeja makan sebelah pak Abian.
__ADS_1
Arabella termanggu, lalu menatap Haafizh seraya tersenyum kecil.
"Biarkan saja, Ra. Lagian ada Mas disini" Bisik Haafizh.
Arabella mengangguk. Lalu ikut bergabung untuk makan siang, sepanjang makan berlangsung hanya percakapan antara pak Abian dan Haafizh keduanya berbincang tentang tugas Haafizh dan rencana Arabella yang akan tetap tinggal dirumah ayahnya selama ditinggal tugas oleh Haafizh.
"Kenapa Arabella tidak disini saja?" Tanya pak Abian dengan raut sedih.
"Tidak yah, aku ingin istriku bersama keluarganya. Kasian ayahnya Ara tidak ada yang mengurus, sementara adiknya harus kerja" Ucap Haafizh.
Padahal Haafizh tidak ingin Arabella tinggal bersama bundanya, melihat sikap bunda pada istrinya membuat Haafizh tak tenang meninggalkan Arabella tinggal satu atap bersama bundanya.
"Baiklah. Arabella, kapanpun kamu mau, kamu bisa berkunjung kesini. Sekarang rumah ini rumahmu juga"
Arabella tersenyum ramah, "Terimakasih banyak ayah, dilain waktu aku akan berkunjung kesini"
Hari terus berlanjut hingga malam telah tiba, Arabella sudah berganti pakaian dikamar Haafizh. Kamar suaminya sangat luas dan rapi, apalagi ranjang king size itu sangat besar dan lebar.
Arabella berdecak kagum, ia menyentuh seprai. "Ini bagus sekali, jika Ana ada disini pasti ia akan sangat berisik dan heboh" Ucapnya lalu duduk ditepi ranjang ternyata sangat empuk dan nyaman.
"Cih, begitu saja kau sangat senang"
Eh. Arabella terkejut sejak kapan bundanya Haafizh berdiri diambang pintu. Arabella tidak menyadarinya.
"Bunda" Arabella buru-buru berdiri seraya tersenyum canggung.
Dinda melangkah masuk lalu menutup pintu kamar, setelah pintu tertutup rapat Dinda mendekati Arabella.
"Bagaimana semua yang ada disini baguskan" Tanya Dinda seraya tersenyum sinis.
"Iya bagus bunda, aku suka" Ujar Arabella dengan senyum mengembang, bahkan ia terlihat antusias.
"Tentu, karena kami orang kaya. Tidak sepertimu dari kaum rendahan dan miskin"
Kaum rendahan dan miskin, Arabella merasa terhenyak ia diam seribu bahasa. Walau benar adanya perkataan mertuanya, tapi tidak bisakah perkataan yang merendahkan itu diperhalus lagi.
"Sekarang gimana, hidupmu sudah enakkan? Apalagi anak saya seorang tentara pasti dengan jabatannya itu kamu merasa tinggi"
Arabella diam.
"Jujur saja saya sangat tidak terima jika Haafizh menikahimu, tapi ini sudah terjadi. Mau tidak mau saya harus menerimamu"
"Tapi ingat! Arabella kau kaum rendahan dan akan tetap seperti itu"
Setelah mengucapkan itu Dinda langsung pergi keluar kamar Haafizh, meninggalkan Arabella yang mulai menangis.
__ADS_1
"Aku tau aku miskin, tapi aku tidak serendah itu"