Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Pedang Pora


__ADS_3

Di pagi pagi buta sudah terdengar riuh, membangunkan banyak insan dipagi ini. Tak terkecuali Haafizh dan Arabella. Setelah melaksnakan subuh berjamaah, kini keduanya sudah bersiap siap untuk melaksanakan acara hari ini.


Arabella terlihat cantik dengan dress panjangnya yang berwarna coklat muda keemasan. Sejak subuh tadi ia sudah di make up oleh MUA yang diberi tanggung jawab untuk menghias pengantin. Ketika selesai dengan dirinya, ia melirik kearah sang suami yang terlihat gagah dengan seragam kebanggaanya yang berwarnakan hijau army. Dengan baret diatas kepala, hingga beberapa tanda kehormatan tersemat dibajunya.



"Boleh aku bantu mas?"


Ucap Arabella tertunduk malu-malu.


Pria yang tengah membenarkan baret kebangganya itu tersenyum hangat. "Tentu." Ujarnya sambil menyerahkan benda tersebut.


Arabella menerimanya dengan senang hati sambil mendongak menatap sang suami. Paham betul akan keadaan sang istri, Haafizh menundukkan sedikit kepalanya. Agar sang istri mudah menggapainya. Arabella tersenyum senang, kini suaminya sudah terlihat tampan dan gagah.


"Aku mencintai Ara, istriku"


Haafizh memandang wajah Arabella, istrinya itu sangatlah cantik dan anggun. Hari ini keduanya seperti seorang raja dan ratu.


Arabella tersenyum, kedua pipinya memerah karena malu. Akhirnya penantian hilal jodohnya selama ini sudah berakhir. Sekarang Haafizh sudah menjadi suami sahnya, Arabella tidak bisa berbohong ia sangat mencintai Haafizh. Pria tampan seorang abdi negara.


"Kamu kapten sekaligus suamiku, Mas. Aku mencintaimu"


Ucap Arabella dengan malu. Jika Arabella tidak memakai riasan wajah mungkin Haafizh akan mencium Arabella. Istrinya itu sangatlah mengemaskan saat sedang malu-malu.


Sesuai dengan keinginan Haafizh, prosesi pernikahan akan di adakan di gedung. Haafizh dan Arabella keluar dari kamar lalu berjalan menuju lift. Sesampainya dilantai satu, para rekan rekan sejawatnya sudah berkumpul. Juga ada beberapa petinggi di kesatuanya yang nampak hadir. Hari ini, akan diadakan acara pedang pora.


Pedang Pora merupakan prosesi pernikahan untuk menghormati perwira militer yang akan melepas masa lajangnya. Pedang Pora sendiri berasal dari kata Pedang Pura atau Gapura Pedang yang maksudnya adalah tradisi pernikahan bagi perwira militer. Prosesi itu dilaksanakan dalam rangka melepas masa lajang perwira yang diiringi dengan rangkaian pedang berbentuk gapura. Dengan kata lain itu merupakan sebuah penghormatan bagi perwira yang akan memulai hidup baru dalam bahtera rumah tangga.


Selain sebagai tradisi wajib yang sudah dilakukan turun-menurun, ada pula makna dan tujuan yang dalam di balik prosesinya. Pada dasarnya Pedang Pora adalah sebuah tradisi wajib yang sudah dilakukan turun-menurun dalam dunia militer. Di balik upacara wajib itu sendiri ternyata terselip sebuah tujuan, yakni untuk memperkenalkan dunia angkatan bersenjata kepada mempelai wanita.

__ADS_1


Selain itu, simbol Pedang Pora sendiri pun melambangkan solidaritas, persaudaraan, permohonan perlindungan pada Tuhan untuk angkatan bersenjata.


Sedangkan Pedang Pora yang membentuk gapura ketika dilewati oleh kedua mempelai mengartikan kalau telah dimasukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.


Biasanya angkatan bersenjata yang terlibat dalam prosesi tersebut pun adalah rekan perwira dari mempelai pria. Berjajar rapih dengan seragam lengkap, dikanan dan kiri jalan yang nantinya membentuk pormasi yang akan dilewati oleh kedua pengantin.



Setelah sesi acara pedang pora usai, Haafizh mengajak istrinya untuk berkenalan dengan beberapa rekan sejawatnya. Bunda Haafizh ada disana terlihat anggun memakai dres berwarna coklat keemasan senada dengan Arabella.


Mungkin jika Dinda tidak memiliki rasa benci pada Arabella ia akan terlihat hangat namun Dinda hanya diam berpura-pura menikmati acara pernikahan anaknya.


Pak Haidar serta pak Abian tengah berbincang dengan para petinggi kesatuan militer. Berbeda dengan Ana ia malah sibuk mencicipi beberapa hidangan makanan yang sudah di sediakan oleh pihak ketring.


"Kak Ara memang beruntung menikah dengan bang Haafizh yang kaya raya. Emm.. ini enak sekali" Cerocosnya seraya mengunyah aneka macam kue.


"Sudah berapa hari kau tidak menemukan makanan?" Sapa Bagas, ia menatap Ana seraya tersenyum getir.


"Heh, kau rupanya" Pekik Ana tangan kanannya refleks memukul pundak Bagas dengan cukup keras seolah keduanya teman akrab yang baru ketemu.


Bagas sedikit terkejut karena tindakan Ana, namun ia abaikan saja. "Iya ini aku, kau kira siapa"


Ana mengunyah kue dengan cepat lalu menelannya. "Tidak tahu, emang aku peduli" Ujar Ana seraya berlalu meninggalkan Bagas.


"Makhluk aneh kayak dia memang langka, kira-kira siapa yang sanggup menikahinya? Semoga saja itu bukan saya" Bagas bergidik ngeri lalu berjalan mendekati teman sejawatnya.


Resepsi pernikahan tampak meriah dan berlangsung lancar. Arabella sudah pegal dengan sepatu hak tinggi yang ia kenakan sementara para tamu terus berdatangan malah setiap jamnya para tamu bertambah banyak.


Seorang fotografer bersama pihak WO datang menyuruh Haafizh dan Arabella untuk sesi foto yang kedua setelah sesi foto bersama keluarga tadi.

__ADS_1


Sesi pemotretan cukup berlangsung lama karena Haafizh terlihat sangat kaku, berulang kali sang fotografer menyuruh Haafizh agar memeluk Arabella lebih intim lagi namun Haafizh selalu terlihat kaku.


"Oke, ini sudah cukup" Ujar sang fotografer seraya melihat hasil jepretannya "Kita sekarang pindah kesana untuk mendapatkan spot foto yang bagus" Titah pihak WO seraya membimbing Arabella dan Haafizh.


Lantas sepasang pengantin itu turun dari pelaminan untuk ke bagian gedung lain. Sesampai disana keduanya langsung disuruh duduk berdua dengan Arabella memegang bunga berukuran kecil seraya menatap Haafizh, sementara Haafizh duduk lurus kedepan dengan pandangan menoleh pada Arabella.



Arabella dan Haafizh tampak serasi, keduanya begitu terlihat bahagia. Jika batu kerikil sudah terlewati dengan permasalahan besar yang telah berlalu hingga menyatukan keduanya Haafizh sangat bersyukur karena rasa cinta keduanya mampu bertahan.


Restu bundanya belum Haafizh dapat, namun seiringnya waktu Dinda pasti akan menerima Arabella. Bunda terlalu gelap mata oleh masa lalunya bersama Alm, ibu Nisa hingga ia tidak menyadari bahwa Arabella tidak tahu apapun bahkan tidak bersalah.


Resepsi telah selesai dengan meriah tanpa gangguan apapun, semua tamu sudah pulang begitu juga dengan keluarga Haafizh dan Keluarga Arabella. Meninggalkan sepasang pengantin baru yang tengah menikmati bagaimana rasanya dimabuk cinta.


Kamar hotel Haafizh dan Arabella terletak dilantai tujuh, keduanya baru saja selesai mandi bersama. Arabella terlihat begitu lelah saat keluar dari kamar mandi, berbeda dengan Haafizh. Pria itu malah terlihat segar bugar dengan senyum senang karena berhasil menggagahi istrinya lagi.


"Kamu bikin Mas candu, Ra" Ucap Haafizh seraya memeluk Arabella dari belakang. Istrinya tengah mengeluarkan baju dari lemari.


"Pake baju dulu, Mas" Titah Arabella seraya mengguncangkan tubuhnya agar Haafizh melepaskannya.


Bukannya menurut Haafizh malah mengeratkan pelukannya. "Mas masih mau. Boleh ya, Ra" Bujuk Haafizh seraya mencium pundak dan lehar Arabella.


Belum Arabella menjawab Haafizh sudah menggendong-Nya terlebih dahulu, "Nanti saja aku masih cape" Protes Arabella.


Haafizh hanya tersenyum lalu membaringkan tubuh Arabella diranjang, rambut basah Arabella tergerai dengan handuk putih yang membalut tubuhnya wajah cantik nan ayu itu tampak polos tanpa riasan wajah. Membuat Haafizh tergoda.


"Mas"


"Bentar aja Ra, Aku udah ga tahan"

__ADS_1


__ADS_2