
Langkah kaki Arabella semakin tertatih seperti nya ia sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Tepat dihalte bis Arabella berhenti untuk sekedar beristirahat entah berapa jarak yang sudah Arabella lewati rasanya sudah cukup sangat jauh dari rumah.
Arabella merasa sangat lelah luka dikaki nya semakin terasa sakit. Mencoba menyetuh bagian yang terluka ternyata sudah membengkak, Arabella meringis. Setelah ditahan akhirnya rasa sakit itu semakin terasa.
Teringat dengan temannya Mia, Arabella mencoba untuk menemui Mia saja, lagi pula Mia tinggal disebuah kos-kosan. Dari sini memang sangat jauh, apalagi malam kian semakin larut kendaraan umum sudah tidak terlihat berlalu lalang.
Arabella berusaha bangkit dari duduknya ia berjalan dengan terpincang-pincang, tidak peduli kuat atau tidak yang Arabella mau ia harus tetap berjalan untuk segera tiba ditempat Mia. Arabella sengaja meninggalkan gawainya dirumah ia tidak mau dihubungi oleh siapapun lagi.
Sebelum pergi Arabella juga sempat mengirim pesan singkat pada Haafizh. Walau gawai milik Haafizh jarang aktif karena sibuk bertugas tapi Arabella yakin suatu saat pasti Haafizh akan membaca pesan dari Arabella.
Desiran hati Arabella semakin bergemuruh kala pikirannya kembali teringat pada Haafizh, seharusnya saat Haafizh pulang bertugas keduanya akan menikah. Tapi mengingat kejadian hari ini membuat Arabella yakin bahwa Haafizh bukanlah jodoh nya.
Mulai sekarang Arabella akan seperti dulu, hidup sendiri tanpa ada seseorang yang sangat spesial dalam hidupnya. Haafizh hanya sebuah kenangan indah yang telah hadir begitu saja.
Mungkin jika Arabella menyadari hal ini dari awal mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Mungkin Ana akan bahagia bersama Haafizh.
Memikirkan semua itu membuat hati Arabella sakit, rasanya Arabella ingin menangis sekencang mungking. Untuk pertama kalinya Arabella merasa hancur, kisah cinta yang dulu ia harapkan mulus kini berantakan. Goresan indah yang Haafizh torehkan dihatinya kini hanya berbekas menjadi luka.
Padahal Haafizh cinta pertama Arabella, tidak bisakah ia hidup bahagia bersama Haafizh. Kisah cinta yang penuh hambatan seperti sebuah ujian besar, namun sekali diuji langsung memutuskan ikatan cinta itu dengan begitu cepat.
Baru saja Arabella merasakan betapa indah dan manisnya jatuh cinta, namun nyatanya apa, hilal jodohnya yang baru terlihat kini lenyap. Hanya tinggal kenangan serta luka yang entah kapan akan sembuh.
"Hilal jodohku lenyap, tertutup awan gelap yang datang membawa luka"
Tanpa terasa hujan turun begitu deras dengan suara guntur yang saling bersahutan, Arabella hanya menangis dibawah guyuran air hujan deras. Tidak peduli dengan rasa dingin yang begitu menusuk ke tulang Arabella hanya ingin menangis, menumpahkan segala rasa sakit dan sesak didalam hati.
__ADS_1
Isak tangis Arabella semakin kencang, kedua pundaknya naik turun dengan seiring nya isak tangis yang kian terdengar pilu. Arabella duduk di trotoar seperti orang tidak waras apalagi baju Arabella sudah basah kuyup.
"Jika kapten Haafizh melihatmu seperti ini, dia akan bersedih sekaligus marah"
Suara yang sangat familiar itu membuat Arabella bergeming, isak tangisnya berhenti dengan perlahan Arabella mendongakkan wajahnya untuk menatap orang yang berdiri didepannya.
"Kamu terlalu rapuh. Saat ini mungkin kapten Haafizh tidak mengetahuinya, tapi diwaktu yang tepat dia akan menghapus semua luka dan penderitaan yang ada didalam hidupmu"
Arabella terkesiap ia segera berdiri dengan cepat, ternyata itu adalah Bagas teman sejawat Haafizh. Dengan sedikit gelagapan Arabella mencoba meraih koper miliknya lalu saat hendak ingin pergi Bagas malah menahan koper Arabella.
"Jangan pergi! Ini semua masih bisa diperbaiki" Ucap Bagas dengan tegas. Didepan Arabella Bagas seperti berada didepan Haafizh. Bagaimanapun juga sebentar lagi Arabella akan menjadi istri Haafizh.
"Maaf Bagas. Sebaikya kamu jangan cerita apa-apa pada Haafizh. Saya mohon!" Pinta Arabella seraya menangkupkan kedua tangannya.
"Tapi kapten Haafizh berhak tau"
"Haruskah saya bersujud meminta mohon padamu, agar kamu tidak berbicara soal ini pada Haafizh. Bagas, jika kamu merasa punya tanggung jawab atas perintah Haafizh maka saya mohon lakukan tanggung jawab ini, jaga rahasia ini dan berpura-puralah tidak tau apapun"
Melihat Arabella memohon seperti itu membuat Bagas bimbang. Jika ia tidak melaporkan ini pada Haafizh maka tamatlah riwayat nya, tapi apa daya Arabella lebih menderita, hatinya juga tidak tega melihat seorang wanita yang begitu rapuh harus memohon seperti itu dihadapannya.
Akhirnya dengan berat hati Bagas mengangguk. Tubuh nya basah kuyup sama seperti Arabella. Ia baru pulang dari tugasnya yang sampai malam, tidak sengaja melihat Arabella tengah menagis tersendu-sendu di trotoar, apalagi ini sudah larut malam.
"Baiklah. Tapi kamu mau kemana?" Tanya Bagas, kali ini suaranya tidak begitu tegas. Matanya langsung terpusat pada koper hitam berukuran sedang milik Arabella.
Melihat Bagas mengangguk membuat Arabella lega, setidaknya ada seseorang yang bisa membantu nya. "Pergi, saya harus pergi. Disini terlalu banyak kenangan indah untuk saya, Bagas. Jika suatu hari nanti Haafizh menanyakan saya tolong jangan beritahu apapun. Jika kamu melanggarnya berarti secara tidak langsung kamu akan menyakiti saya."
__ADS_1
Raut wajah Bagas terlihat begitu serba salah, rasa-rasanya Bagas ingin memihak pada Haafizh saja tapi disisi lain Arabella begitu mempercayai dirinya. Untuk saat ini Bagas akan mengiyakan saja, tapi diwaktu yang tepat Bagas akan memberitahu Haafizh apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau begitu biarkan saya mengantarkan mu,"
***
Malam yang terasa kelabu kini telah terganti dengan pagi yang begitu mendung, sejak shubuh tadi pak Haidar sudah khawatir mencari keberadaan Arabella. Surat yang ditulis Arabella sudah dibaca oleh Ana betapa bahagianya Ana saat ia bisa memakai cincin dari Haafizh yang seharusnya menjadi miliknya.
"Akhirnya wanita murahan itu sadar diri juga" Ucap Ana seraya tersenyum sinis. Bukannya pergi mencari Arabella sama seperti Pak Haidar Ana malah duduk santai didalam kamar.
Andai Pak Haidar tahu alasan dibalik kepergian Arabella pasti Pak Haidar akan marah besar pada Ana. Namun naasnya Ana malah mengarang cerita, Ana membuat surat palsu. Dirinya menulis jika Arabella pergi dari rumah untuk selamanya, dan menyuruh Ana untuk menikah dengan Haafizh.
Pak Haidar yang mendengar surat palsu yang dibuat oleh Ana langsung terduduk lemas. Bagaimana bisa Arabella bertindak seperti ini? Bagaimana dengan pernikahannya nanti? Pasti Haafizh akan kecewa.
Tidak tinggal diam Pak Haidar langsung pergi untuk mencari Arabella hatinya merasa khawatir sekaligus tak tenang. Bagaimana keadaan Arabella diluar sana, Pak Haidar sangat takut terjadi hal buruk pada Arabella.
Mencari kesuluruh tempat yang sering dikunjungi Arabella tapi tidak ada, menanyakan pada orang sekitar tapi tidak ada yang melihat Arabella tidak sampai disana Pak Haidar juga mencari Arabella ketempat kerjanya namun sayang katanya Arabella sudah resign saat tadi malam.
Betapa gelisah nya hati Pak Haidar ia kehilangan arah, putri kesayangan yang selama ini ia jaga kini telah pergi entah dimana dan kenapa, Pak Haidar harap Arabella selalu baik-baik saja.
"Ara, putri kecil ayah. Kenapa kamu pergi meninggalkan ayah, nak. Dulu ibumu yang pergi demi kebahagiaan orang lain, sekarang kamu juga pergi demi Ana"
Pak Haidar menangis tersendu, ia duduk dibawah pohon besar. Tangan keriput itu memegang satu foto Arabella. Tidak menyangka hal buruk seperti ini akan terjadi dalam hidupnya.
"Ara kamu dimana nak? Bagaimana kalau Haafizh pulang, ayah harus bilang apa sama dia nak. Dia sangat tulus mencintaimu, Ara. Kamu dimana" Rintih Pak Haidar seraya menangis. Tidak peduli orang-orang yang disekitar taman melihat kearahnya dengan tatapan aneh.
__ADS_1