Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Hanya Sendiri


__ADS_3

Hari terus berlanjut hingga menginjak bulan kelima dimana Haafizh bertugas, itu artinya Haafizh akan pulang bulan depan, dan selama empat bulan inilah Arabella pergi dari rumah meninggalkan Pak Haidar yang jatuh sakit.


Arabella pergi, menghilang bagai ditelan bumi, tidak ada yang tahu dimana Arabella selama ini. Pak Haidar sudah putus asa, di umurnya yang sudah renta, menderita penyakit jantung tentu membuat Pak Haidar jatuh sakit.


Beban pikirannya terlalu banyak, terutama Pak Haidar selalu memikirkan Arabella. Putri kesayanganya pergi tanpa jejak, sulit dicari namun meninggalkan kerinduan besar dihati.


Setiap hari begitu terasa hampa, melangkah saja rasa-rasanya sangat berat. Awan diatas sana padahal sangat cerah, pasokan oksigen banyak tak terbatas namun terasa bernapas saja terasa sulit.


Tubuh Arabella terlalu letih berjalan menelusuri ribuan detik yang terhampar. Terlalu enggan kaki ini untuk terus melangkah untuk meraih dan menggapai. Sayatan di kulit terasa begitu sangat menyakitkan, sedangkan luka di dalam dada terasa kian menganga.


Sudah empat bulan pergi dari rumah kenapa kenangan yang menurut Arabella pahit itu malah tak kunjung hilang. Berusaha lupa, namun hatinya selalu berpaling kembali pada masa lalu.


"Aku sendiri, hanya sendiri, dan seterusnya akan tetap sendirian" Kalimat itu terus Arabella ulang setiap kali ia mengingat sesuatu tentang kenangan itu.


Hatinya terlalu sakit, setiap kali mengingat Haafizh dan Ana.


"Saya yakin kamu bisa! Proses menuju terbiasa itu memang sulit"


Siang ini Bagas menemui Arabella, setiap sebulan sekali Bagas akan menyempatkan waktu demi menemui Arabella.


Keduanya duduk saling berhadapan dimeja bulat, diatas meja ada dua gelas jus mangga rupanya rasa favorit Bagas dan Arabella sama.


"Ikhlas itu susah, jadi kamu harus tetap berusaha"


"Ikhlas itu tidak langsung, ada siklus rapuh, nyesek, tersiksa, lalu terbiasa."


Bagas diam.


"Untuk bertemu, untuk mengetahui, untuk mencintai dan kemudian untuk berpisah, adalah kisah sedih cinta pertama saya"


Mengatakan itu membuat hati Arabella sakit, seharusnya ia bisa melupakan Haafizh dengan cepat. Namun rupanya sangatlah sulit.

__ADS_1


Sosok Haafizh, suara Haafizh, bagaimana perlakuan Haafizh padanya membuat Arabella rindu. Namun Arabella selalu menepis itu semua, karena sekarang Haafizh bukan lagi miliknya.


"Berpura-pura tegar itu butuh tenaga, Arabella. Makanlah sesuatu, hari ini saya akan traktir" Canda Bagas seraya tertawa kecil.


Arabella tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Setiap kali bertemu Bagas, pria itu pasti akan mentraktir dirinya. Tidak disangka Arabella akan sedekat ini dengan Bagas, dulu Arabella sangat canggung pada bagas. Tapi karena sikap Bagas yang lucu membuat rasa canggung itu kian menyusut.


"Terimakasih banyak, selama ini kamu selalu baik pada saya" Ucap Arabella, senyum manisnya tampak mengembang dengan pipi merona kemerahan.


Senyum manis Arabella sontak membuat Bagas hanyut. Kedua mata Bagas terus menatap Arabella, objek indah yang baru pertama kali Bagas dapat. Senyum manis itu membuat Bagas hanyut dalam ketertarikan.


Jantung Bagas aman?


Tentu tidak pemirsa


Bagas berharap suara jantungnya tidak terdengar oleh Arabella yang berdetak keras dan cepat.


"Maaf kapten, saya tidak sengaja telah jatuh cinta pada Arabella"


Seorang pria dengan wajah tampan nya, tengah berdiri di atas bukit memakai kaus hitam polos yang menambah berkali lipat ketampanan nya.


Tatapanya lurus menghadap langsung ke gemerlap sebuah langit pada malam hari. Rambut pria itu menari-nari tertiup angin malam.


"Sudah lima bulan aku disini, rasa rinduku terhadap Arabella semakin terasa. Terasa sangat berat dan ingin melihatnya setiap kali sendiri seperti ini aku sering melihat sosok dirinya yang terlintas dipikiranku." Ucap Haafizh dengan lirih.


Haafizh meraih gawai yang ada di dalam saku celana. Berniat untuk menghubungi Arabella. Sudah sangat lama Haafizh tidak mengabari Arabella, pasti calon istrinya itu mencemaskan dirinya.


Wajah Haafizh meredup, dengan tatapan sayu kala layar gawainya foto Arabella tengah tersenyum manis seraya menatap kearah camera. Foto itu diambil saat keduanya tengah mengunjungi Sea World, momen dimana kencan pertama Haafizh dan Arabella.


Ada satu notif pesan singkat yang masuk pada aplikasi hijau Haafizh. Hatinya terasa menghangat saat pesan singkat itu ternyata dari Arabella.


Untuk pertama kalinya Arabella berani duluan mengirim pesan, biasanya harus Haafizh duluan. Katanya Arabella malu memulai terlebih dulu, Haafizh memaklumi. Karena setiap wanita pasti akan seperti itu.

__ADS_1


Tangannya dengan cepat menekan aplikasi hijau, ingin segera tahu isi pesan dari Arabella. Dalam hati, Haafizh menebak-nebak apakah Arabella merindukan dirinya?


Senyum lebar Haafizh terus mengembang, dengan raut wajah senang. Rupanya disaat ia sedang merindukan Arabella, calon istrinya itu mengirimkan pesan padanya.


Pesan telah terlihat Haafizh langsung membacanya dengan begitu semangat dengan senyum masih mengembang. Namun senyuman itu hanya bertahan sebentar, senyum Haafizh raib seketika saat mengetahui isi pesan dari Arabella. Kedua matanya terasa memanas, dalam hati sebenarnya kenapa? Arabella, TIDAK. Haafizh tidak mau seperti ini.


"Assalamualaikum Haafizh. Sebelumnya saya sangat berterima kasih padamu, terimakasih telah mencintai saya. Berkat cinta yang kamu hadirkan dalam hidup saya, saya merasa menjadi lebih berharga. Haafizh kenapa rasanya sangat menyakitkan? saya kira jatuh cinta itu akan menyenangkan ternyata tidak. Rasa-rasanya saya ingin memutar waktu kembali, dimana saya dan kamu belum saling mengenal. Pertemuan singkat itu ternyata telah menghadirkan rasa kekaguman seorang wanita biasa seperti saya untuk menyukai kamu. Jelas-jelas kita berbeda, kamu bagaikan langit. Mana bisa saya menjangkaunya. Maka lupakanlah saya, mungkin itu akan menyiksaku. Tapi, tidak mengapa karena saya ingin kamu bahagia. Menikahlah dengan Ana, Haafizh. Karena itu akan membuat saya bahagia. Saya pamit untuk pergi, jangan cari saya! Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain."


Haafizh diam. Kenapa jadi seperti ini? Ada apa dengan Arabella, tiba-tiba memutuskan hubungan yang sebentar lagi menuju pernikahan malah berakhir tidak jelas.


Apa yang telah terjadi disana? Hal apa yang Haafizh tidak ketahui selama ini? Dalam hati, Haafizh. Terus bertanya-tanya.


Ada kesedihan yang sangat mendalam di kedua mata Haafizh. Pelupuk matanya sudah ada berair, Haafizh kembali melihat pesan dari Arabella. Ternyata pesan itu dikirim empat bulan yang lalu.


Sudah selama itukah? Kemana saja ia selama ini, Haafizh merasa bodoh dan hancur. Disibukan oleh tugas, tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi.


"Rupanya aku bodoh dan payah" Umpat Haafizh pada dirinya sendiri.


Sakit


Sesak


Kecewa


Marah. Tapi untuk apa marah? Percuma ini sudah terjadi, tidak mungkin waktu bisa diputar kembali dengan seenak jidatnya.


Kepala Haafizh tertunduk lemas Pancaran cahaya bulan diatas sana tampak berkilau, hutan yang begitu rimbun dengan angin malam yang begitu dingin menyengat hingga ketulang.


Rasanya Haafizh ingin pulang sekarang juga, menemui Arabella lalu menanyakan semua ini.


"Pergilah sejauh mungkin, Ara. Saya akan tetap mengejarmu"

__ADS_1


__ADS_2