
Malam yang indah kini telah terganti dengan pagi yang cerah. Pagi ini sinar mentari menyapa dengan penuh kehangatan. Hembusan angin tertiup dengan begitu tenang, disekitar jalan terdapat banyak daun kering yang berserakan akibat tertiup angin.
Seperti halnya sekarang Arabella tengah menyiram tanaman didepan rumah, setiap hari libur Arabella akan mengurus tanaman yang tumbuh didepan rumah.
"Nak sudah dulu sedari tadi kamu ini sibuk menyiram tanaman" Teriak Pak Haidar diteras rumah, ia segera menyimpan satu gelas air putih untuk Arabella diatas meja bulat.
Arabella yang tengah membungkuk menyiram bunga melati putih segera menegakkan tubuhnya lalu menyimpan alat siram itu dibawah. Sebagai anak yang penurut Arabella segera menghampiri Pak Haidar yang kini tengah duduk dikursi bambu.
"Sebagian tanaman udah pada layu, jadi aku siram sekalian dikasih pupuk biar tambah subur" Ujar Arabella seraya mengambil satu gelas air putih, sebelum meminum Arabella ikut duduk disamping Pak Haidar, lalu ia segera meminum dengan tiga kali tegukan.
"Kamu ini sama seperti ibumu. Dulu ibumu juga sering menyiram tanaman" Ucap Pak Haidar pandangannya lurus kedepan, menerawang kejadian silam yang ia rindukan.
Arabella tertegun lalu menatap gelas kosong yang ia genggam. Seingat Arabella Alm ibu tidak pernah menyiram tanaman, malah Arabella lah yang selalu disuruh menyiram tanaman disetiap pagi sebelum berangkat sekolah.
"Bu, Ara mau belangkat sekolah" Arabella kecil tampak lucu mengenakan baju seragam putih merah dengan rambut dikucir dua dengan pita merah yang menghiasi rambut.
Saat itu Arabella sekolah kelas satu SD, Arabella sudah siap dengan rangsel berwarna pink dipunggung, namun yang disayangkan dari kegemasan Arabella kecil, seragam Arabella selalu kusut. Nisa yang tidak peduli hanya acuh tidak memperhatikan Arabella.
"Sana pergi! Jangan jajan, kalau ada yang tanya kenapa kamu tidak ikut jajan kamu harus jawab sudah kenyang makan dirumah" Ketus Nisa, ia sedang duduk santai diteras rumah seraya memainkan gawai.
Sebelum Pak Haidar pergi bekerja ia akan memberikan uang jajan pada Arabella tapi sayang saat Pak Haidar sudah pergi bekerja uang jajan yang diberikan untuk Arabella selalu dirampas oleh Nisa.
Arabella hanya mengangguk patuh dengan senyum manis mengembang diwajah imutnya yang manis. "Iya bu. Ara ga jajan!"
Ingatan masa lalunya terbayang kembali diingatan Arabella. Jika menurut ayah ibu sering menyiram tanaman kenapa ibu selalu enggan mengurus tanaman saat dulu? Arabella menatap wajah keriput ayahnya dari samping.
Hatinya terasa miris sekali saat mengingat masa lalu, mungkin bagi sebagian orang masa kecil itu masa paling indah, dimana bisa main kapan saja, jajan banyak, dan tidur sepuasnya. Tapi berbeda dengan Arabella, ia tidak pernah mengalami hal itu, ia hanya akan menyapu halaman rumah seraya melihat anak-anak lain bermain dengan penuh canda tawa.
"Ibu suka tanaman?" Arabella tercekat saat mengatakan itu. Hatinya sakit kala mengingat kenangan masa lalunya yang penuh penekanan.
"Iya ibumu sangat menyukai tanaman. Dulu dihalaman rumah sangat penuh oleh berbagai macam bunga. Ibu dan anak sama saja" Pak Haidar terkekeh seraya menggelengkan kepala mengingat masa lalunya yang kini tinggal kenangan.
Mendengar ucapan ayah membuat Arabella diam. Kenapa setiap ayah menceritakan tentang ibu selalu tidak sama dengan kenyataan pada ibu nya dulu. Ibu Nisa yang Arabella kenal tidak sehangat dan semenyenangkan yang Ayah ceritakan.
"Ara ayah harus kerumah teman ayah. Dia sedang sakit jadi ayah akan menjenguknya dulu" Ucap Pak Haidar seraya berdiri dari duduknya diikuti oleh Arabella.
"Baiklah yah. Hati-hati dijalan!"
__ADS_1
"Iya nak. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Ditempat lain disebuah perusahan besar Ana baru saja keluar dengan pakaian hitam putih tangan kirinya memegang amplop coklat berisi surat lamaran kerja. Raut wajahnya kusut dengan hijab hitam miring kekiri.
"Dasar botak! Hanya gara-gara masalah sepele aku tidak diterima kerja" Gerutu Ana. Ia berjalan disepanjang trotoar menuju taman kota diujung jalan sana.
Ana sudah ada janji dengan seseorang jika hari kemarin akan bertemu dirumah tapi karena ada tes disebuah perusahaan harus berganti tempat pertemuan, Ana mengajak orang itu untuk bertemu disebuah taman kota saja setelah jam makan siang.
Namun saat sedang asik berjalan Ana malah menangkap sosok Bagas sedang membantu seorang nenek tua menyebrang jalan. Langkah Ana terhenti lalu memperhatikan Bagas dari kejauhan.
"Pria menyebalkan itu membantu orang. Sungguh tidak bisa dipercaya pasti dia sedang kerasukan" Cibir Ana seraya tertawa.
Tanpa sadar Ana malah melangkahkan kakinya mendekati Bagas yang kini tengah duduk dibawah pohon rimbun disebuah tanam kecil depan cafe.
"Kamu abis kerasukan?" Tiba dihadapan Bagas, Ana malah langsung memberondong pria itu dengan pertanyaan konyol.
Bagas yang terkejut dengan kehadiran Ana lantas langsung berdiri seraya mengusap dada. "Kamu ngagetin saya" Pekik Bagas.
"Apalagi saya lebih kaget liat kamu bantu orang" Sunggut Ana seraya melipat tangan didada tak lupa amplop coklat yang tadi ia pegang dengan erat.
"Ngelamar kerja?" Tanya Bagas.
"Kok tau?" Tanya Ana seraya mengerjitkan dahi.
"Tuh" Tunjuk Bagas pada amplop coklat yang dipegang Ana. Sontak membuat Ana melihat amplop coklat miliknya yang ia pegang sedari tadi.
"Iya baru ngelamar kerja. Tapi malah ditolak" Keluh Ana raut wajahnya berubah sedih dengan amplop coklat yang ia pegang dibuang ketempat sampah.
"Kok ditolak? Mending ngelamar saya saja dijamin gak bakalan ditolak" Celetuk Bagas dengan santai.
Namun siapa sangka, Ana malah beraksi diluar dugaan Bagas. Wanita itu malah melempar dirinya dengan ranting pohon.
"Aduh" Pekik Bagas saat Ana melemparinya dengan ranting pohon kering kecil.
"Dasar cabul" Teriak Ana kesal, ia segera berbalik badan lalu meninggalkan Bagas. Moodnya semakin buruk, kenapa ia malah menghampiri pria menyebalkan itu. Hah, Ana mendesah gila. Hari ini sangat buruk, semoga pertemuannya dengan tante Dinda membantu suasana hatinya.
__ADS_1
Seperti janjinya Ana kini tengah berbincang dengan seseorang, keduanya duduk dikursi taman panjang bercat putih. Keadaan taman yang cukup sepi membuat keduanya leluasa untuk mengobrol.
Seperti sudah kenal lama Ana dan Dinda sangatlah akrab. Perbincangan keduanya membahas seputar kegiatan Ana, lalu bagaimana Ana kuliah hingga kini tengah mencari pekerjaan. Dinda yang sudah mengenal Ana lewat Pak Haidar sangatlah senang bisa bertemu secara langsung dengan anak dari sahabatnya.
Dinda juga sudah berbicara banyak tentang Haafizh. Ana yang baru mengetahui bahwa anak dari Dinda adalah seorang tentara justru mengingatkan Ana pada pak tentara tampan.
Ditengah kerinduan nya pada sosok tentara tampan, Dinda menunjukkan foto Haafizh pada Ana. Saat melihat foto Haafizh, Ana terkejut bukan main. Ternyata pria yang akan dijodohkan dengannya adalah pak tentara tampan yang selama ini Ana kagumi.
Bak tertimpa durian runtuh. Ana langsung senang bukan main, bahkan tanpa sadar ia menjerit histeris karena saking senangnya. Dinda yang melihat Ana beraksi seperti itu hanya tersenyum kecil.
"Sungguh luar biasa aku mendapatkan jodoh setampan ini. Yaampun pak tentara, sebentar lagi kita akan berjodoh" Ucap Ana kegirangan.
"Apa kamu mengenalnya Ana? Sepertinya kamu sangat menyukai Haafizh" Tanya Dinda seraya tersenyum hangat.
Dengan bangga Ana mengangguk. "Jadi pak tentara ini namanya Haafizh, tante?"
"Iya dia Haafizh, sang kapten TNI angkatan darat"
Jangan ditanya lagi betapa girangnya Ana sekarang. Dalam hati ia sudah menjerit histeris berulang kali. Rezeki Ana sholehah, Ana seperti mendapatkan rezeki nomplok dengan mendapatkan jodoh seperti Haafizh.
Namun senyum bahagia Ana tidak berlangsung lama kala Dinda mengatakan, "Jika kamu menginginkan Haafizh maka rebutlah dia dari kakak mu" Raut wajah hangat Dinda yang terkesan ramah kini hilang tergantikan dengan rasa kesal yang meluap-luap.
Berusaha mencerna dari setiap perkataan Dinda barusan membuat Ana masih belum mengerti apa maksudnya.
"Maksud tante kak Ara, apa hubungan kak Ara dengan bang Haafizh?" Hati Ana berdebar cepat, antara ingin tahu dan tak ingin tahu bercampur begitu saja di benaknya. Kenapa ia seperti tidak siap mendengar hal tentang Arabella, kakaknya itu orang baik pasti tidak akan berbuat hal seperti itu.
"Ana mungkin kamu tidak tahu apa-apa selama ini. Ayahmu ibumu, saya dan suami saya dulu kami adalah seorang sahabat. Sampai pada akhirnya kami menikah. Saat kebahagiaan kami sedang berlangsung tiba-tiba wanita itu datang,"
"Wanita perebut suami orang. Kamu tau wanita itu siapa? Dia adalah maryam, wanita itu merebut ayahmu dari ibumu. Singkat cerita setelah beberapa bulan pisah rumah ternyata ayahmu sudah menikah dengan maryam dan yang paling mengejutkan lagi kalau wanita yang dinikahi secara sirih oleh ayahmu itu tengah hamil"
"Nisa ibumu sangatlah terpuruk apalagi dia belum kunjung hamil. Sampai hari itu tiba dimana maryam melahirkan, hubungan ayah dan ibumu mulai membaik karena maryam meninggal dunia. Nasib malang menimpa bayi perempuan itu, hingga akhirnya ayahmu membujuk Nisa untuk merawat anaknya"
"Dengan terpaksa akhirnya Nisa mau. Tapi rasa sakit dihatinya masih membekas dimana ia harus melewati masa-masa sulit sendirian tanpa seorang suami. Wanita penggoda itu adalah ibu Arabella yaitu orang yang kini telah merebut jodoh adiknya sendiri secara diam-diam"
"Ana ayahmu telah membohongimu, begitu juga dengan Arabella. Wanita itu dengan liciknya mengambil Haafizh darimu. Jika kamu ingin tau sejauh mana hubungan mereka, mereka akan segera menikah"
Duarrr...
__ADS_1
Bagai disambar petir disiang bolong. Ana langsung terdiam dengan tubuh kaku, hatinya yang baru saja mendapatkan kebahagiaan kini lenyap seketika.
"Kak Ara" Ucap Ana dengan lirih, air matanya tumpah seketika dengan rasa kecewa dihatinya. Kenapa dia harus mengetahui kenyataan pahit ini sekarang?